Selain decitan burung yang memenuhi angkasa, selain hangatnya senja pagi yang melumuri bumi dengan sinarnya—tampaknya ada yang lebih gaduh dan rusuh dari semua itu. Nyaris setiap pengajar yang hendak memulai pelajaran mengalami pasang surut emosi, menyembul hingga ke sudut-sudut tak terjamah.

Masalah tersebut terjadi sejak penerimaan murid-murid baru sekolah menengah atas jenjang 2017. Murid-murid angkatan yang lebih tua menyadari bagaimana membiakkan junior-junior ingusan yang sama sekali belum tahu tentang apa-apa mengenai sekolah. Itu semua untuk satu tujuan; menjadi raja di sekolah.

Tiap-tiap harinya, dan pada pagi-pagi yang masih buta sudah terdengar sorak yang mirip surau-surau tapi seolah-olah meraung. Kadang suara itu menciptakan sunyi sejenak, lalu dikuasai oleh tangisan yang memakan waktu satu mata pelajaran. Berkisar antara satu-dua jam.

“Berapa kelas yang telah kita kuasai?” Tanya Monte selaku raja yang sudah diakui seluruh siswa-siswi semenjak ia mengalahkan seniornya. Meski baru kelas dua waktu itu, Monte begitu lihai berkelahi tak pandang siapa yang tua. Tubuhnya juga tak terlalu memadai untuk masuk kriteria pegulat. Namun, kelincahannya yang diakui banyak orang.

“Sudah semuanya, mungkin.” Lugas Rinto.

“Untuk angkatan baru sepertinya belum kita raup sekelas pun sama sekali.” Tambah Lukas.

“Ehm. Begitu, ya.” Gerutu monte sembari mengangguk-angguk.

“Kami siap diperintahkan.” Tegas Lukas. Dan yang lain tampak bersorak dan menyetujui apa yang baru saja ditegaskan Lukas.

“Ya, kami tahu tugas kami. Dan tidak sepatutnya kami bertanya kepadamu, sebab tanpa diperintah pun itu sudah menjadi tugas dan kewajiban.” Rinto tampak bersemangat.

Lukas mulai menghitung jumlah kelas yang bakal menjadi sorotan gang mereka—juga agar perjalanan mereka sesuai dengan data yang mereka peroleh.

Secara keseluruhan, total kelas yang mereka ketahui berjumlah lima puluh lima kelas. Dua puluh melingkupi kelas XI dan dua puluh lainnya ialah  kelas XII; kelasnya para senior tertinggi. Itu berarti sisa dari total itu berjumlah lima belas kelas.

Perjalanan dimulai.

Beruntungnya hari ini semua kelas ditiadakan belajar mengajar. Mungkin karena baru hari pertama masuk sehingga kelas dibiarkan semrawut begitu saja. Kendatipun begitu, Lukas dan teman-temannya tetap mengamati lalu-lalang yang kerap dipenuhi oleh guru-guru.

Kini mereka berada di gedung selatan. Gedung yang memiliki tiga lantai dan lantai paling dasar digunakan sebagai ruang guru dan ruang administrasi. Agar tidak menjadi kegaduhan, maka setiap kelas yang mereka kunjungi dibuatlah semacam kesepakatan tentang cara mainnya seperti apa.

Di sepakatilah perundingan itu dengan mengosongkan kelas, lalu yang bersangkutan masuk ke dalam untuk menentukan sebuah kepastian.

Kelas demi kelas dikelabui tanpa melahap banyak waktu dan tenaga surut mengakui kekalahan. Ketika tiap-tiap pertengkaran tersebut usai, tampak wajah-wajah bersangkutan itu bermandikan keringat dan sedikit lelehan darah dari pecahan-pecahan di sekeliling daging apik.

Pastinya rongga nafas tak senikmat bangun pagi pun tak senikmat menikmati senja sore. Sama-sama merasakan pengap sembari mengelus dada yang meronta-ronta.

Demi mencegah kerusuhan yang akan mengacaukan sang raja alias Monte, maka setiap kelas yang ditaklukkan wajib dilapori pewarta. Jumlah masa yang semakin banyak tentu membuat gang ini semakin mudah dalam melakukan ekspansi mereka dengan bidang masing-masing yang telah ditentukan.

Jajahan mereka tak berlangsung lama. Tetapi ada satu hal yang janggal salah satu anggota mereka meniti-niti dalam khayalnya bahkan nyaris nyata—semacam ada yang salah.  Dan Keganjilan itu baru terungkap setelah mereka semua menghadap sang raja lalu membuka kembali perhitungan jumlah kelas yang kelak takluk.

“Baru empat belas kelas sepertinya.” Ujar lelaki yang merasa janggal itu.

“Mana mungkin itu bisa terjadi?” Pongah Lukas menjawab. Sementara dadanya terombak-ambik penuh lelah.

“Kirim utusan untuk memeriksanya!” Tegas Lukas.

“Bagaimana mungkin ada yang terlewatkan, Lukas?” tanya monte.

Lukas kemudian memerintahkan lelaki yang meragukan penaklukannya. “Kamu, cepat periksa!” Begitu tegasnya.

Lelaki itu pun pergi.

Dan benar setelah ia bertanya-tanya, salah satu kelas yang berdiri paling pojok tak sengaja terlewati. Kelas itu memang amat sulit dijangkau. Kabar yang ditemuinya, kelas itu baru diresmikan. Dulunya sering dipakai sekretariat pramuka. Mirisnya lagi kelas itu mempunyai dua pintu sehingga sukar untuk mendengar sembulan surau dari dalam.

Lelaki itu kembali tergesa-gesa menghadap sang raja dan ia nyaris terjatuh.

“Ruang kelas itu. ..” Lelaki itu masih berusaha memainkan gelombang nafasnya. Ia tergopoh-gopoh. Kemudian melanjutkan, “Ternyata ada satu kelas yang belum kita taklukan. Ruang pramuka yang  lama sudah dijadikan sebagai kelas.” Ujarnya dengan tatahan nafas yang sudah mulai rapi.

“Segera, bertindak! Cukup empat orang. Dan yang menjadi promotor adalah Rinto penggantinya Lukas. Tapi aku berharap kau sudah cukup, Rinto.” Monte berusaha memotivasi  Rinto.

Berjalanlah mereka sesuai perintah ditambah lelaki tadi yang ditugasi sebagai pewarta dan satu lainnya untuk melakukan perundingan.

Semua sudah dicanangkan dengan baik. Namun, Rinto masih saja terihik-ihik. Kadang dengan sombong ia merengek—lawannya itu memang tak sepadan. Kurus, pendek, dan rambut yang dibelahnya ke samping, “Aku pasti menang.” Katanya berlagak.

Mereka pun bertatap muka namun lebih dekat dan benar lelaki itu memang kurus dan hanya duduk menengadah begitu saja. Lukas menghinanya, kemudian beranggapan bahwa ia hanyalah semut kecil.

Setelah bersua sembari mengada-ngada tentang menang dan kalah, secepat pintu ditutup secepat itu pula terdengar suara kepakan dari dalam.

“Itu pasti Rinto.” Kata si pewarta penuh yakin.

Sampai tiga atau lima bahkan kepakan itu terdengar beberapa kali.

Usai itu, keluarlah Rinto dengan wajah bermandikan air mata. Para siswa-siswi yang menyaksikan kejadian itu terperangah dengan tatapan mulut terbuka.

Sesuai amanat Lukas akhirnya masuk menggantikannya. Terdengar hal yang sama bahkan berturut-turut kepakan itu menyerbaki ruangan kelas diiringi suaranya yang mudah ditebak pasukannya.

Tetapi, lagi-lagi harapan itu tak secerah siang hari ini. Hal yang sama terjadi pada Lukas, namun tak mereka temui semacam bekas darah atau pukulan.

Pewarta akhirnya melapor pada sang raja. Sang raja tak begitu percaya namun ia yakin betul tak mungkin omongan itu dibohongi kurir-kurirnya. Dengan santai ia berjalan sedikit menampakkan dadanya yang terbuka dan tiga kenop yang dikulainya.

“Aku yang akan membalas semua ini. Raja bukanlah seorang pecundang yang tahu-tahunya hanya memanfaat kurirnya! Kalian tenanglah.”

Ia pun berjalan ke dalam. Dan kali ini pertikaian itu tak dengar apa-apa selain desir angin dan cumbuan ranting pohon yang meluruh.

Tak sampai dua menit Mento pun keluar dengan kejadian yang sama.

Salah seorang temannya kemudian bertanya penasaran, “Apa yang membuat kalian seperti ini?” pertanyaan itu begitu memalukan. Namun kesedihan telah meraih amarah mereka.

“Dia telah menjatuhkan harga diri kita... dengan kata-kata bajik, dan tentang ibu lantas berkata; apa gunanya kekuatan dan kepongahan jika orang tua adalah air mata yang terbendung karena ulah kalian? Kalian sangat tidak berharga.”