Dalam debat pertama calon presiden semalam, publik sudah bisa menggambil sedikit gambaran akan ke mana dan apa yang akan muncul saat kedua calon bersilang pendapat.

Ternyata tidak jauh dari perkiraan semula. Kedua calon, baik dari pasangan calon Presiden Jokowi dan Amin Ma’ruf serta pasangan Prabowo dan Sandiaga Uno, yang satu bercerita tentang apa yang telah dilakukan selama menjabat dan satunya bercita-cita apa yang akan dilakukannya saat terpilih jadi presiden.

Meski sempat ada suasana panas saat Prabowo mengajukan keluhan tentang simpatisannya yang mendapat perlakuan tidak adil di beberapa daerah, keluhan ini langsung ditanggapi oleh Jokowi agar tidak menuduh-nuduh karena kita negara hukum dan harusnya langsung dilaporkan ke pihak berwajib.

Selama ini kita bisa mengamati saling serang keduanya melalui tim sukses masing masing, baik yang berada di wilayah publik, misal kinerja dan capaian kinerja, maupun sisi sisi negatif dari pribadi masing-masing capres. Mulai dari yang santun hingga “kasar”, timses mulai mengikat masyarakat dengan kata-kata yang lebih sering adalah menyerang satu sama lain; kalau tidak bisa dikatakan menjelek-jelekkan satu sama lain.

Nah, apa yang terjadi semalam adalah pertarungan sesungguhnya mengenai bagaimana kedua calon menangani konflik. Publik bisa melihat mana yang menggunakan data valid maupun yang tidak saat keduanya bertukar ide semalam.

Penegakan hukun, hak asasi manusia, adalah tema yang banyak menjadikan debat semalam memanas. Dalam sisi petahana, apa yang dilakukan telah maksimal dalam penegakan hukum dan di pihak penantang masih merasa banyak yang perlu ditingkatkan.

Memang kita yang awam ini harus bisa membaca konteks pendapat dari dua pasangan ini. Kita harus bisa mencatat mana yang mesti diklarifikasi dan kita buktikan kebenarannya agar kita tidak termakan oleh pendapat mereka.

Dalam ranah hukum, masih ada beberapa kasus yang menjadi pekerjaan rumah untuk diselesaikan dari pihak petahana. Kasus Munir dan penyerangan Novel Baswedan adalah contoh penegakan hukum yang masih belum maksimal.

Meski demikian, dari pihak Prabowo pun harusnya tidak menutup mata bahwa ada prestasi-prestasi lain yang dilakukan Jokowi. Misal apa yang dilakukan oleh KPK selama ini dengan banyaknya kasus tangkap tangan adalah prestasi.

Selain itu, dalam kasus kriminal lainnya, misalnya narkoba, pun banyak prestasi yang terjadi saat Badan Narkotika Nasional dipimpin Budi Waseso. Mantan Kabareskrim Polri itu banyak menggagalkan penyelundupan narkoba ke negeri ini.

Kisah yang ditawarkan oleh Jokowi adalah sesuatu yang konkret dan bisa dinilai masyarakat karena memang sudah dijalani oleh Jokowi saat menjabat sebagai presiden. Ada poin plus dan minusnya tentunya. Terserah publik menilainya.

Sedangkan apa yang dilakukan oleh Prabowo adalah menilai kekurangan-kekurangan Jokowi dengan banyak menjanjikan perbaikan-perbaikan.

Terlepas dari menghalalkan segala cara dalam politik, tentunya kita berharap agar kedua capres bisa memberikan pembelajaran politik yang santun. Keindahan berargumen saat berdebat adalah kunci. Ini bisa dilakukan dengan mengolah isu-isu pemberdayaan pemerintahan yang baik.

Kedua calon harus bisa mengolah dan menjadikan cita-cita bangsa untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur, menjadi jurus untuk menggalang pemilih. Adu ide adalah keharusan daripada sekadar saling menjatuhkan dan menjelek-jelekkan kepribadian masing-masing.

Untuk mengetahui mana yang lebih konkret idenya, pembaca bisa menjadi penilai sendiri dengan begitu banyak dari perjalanan dan kiprah kedua pasangan calon presiden ini

Tentunya kita harus sadar dan mempunyai kedewasaan untuk menyikapi cara mereka mengambil simpati di wilayah publik. Dengan mengkritisi maupun mencari bukti-bukti dari ide yang dilontarkan saat berdebat yang itu memang menjadi domain publik. Misalnya, bagaimana seseorang itu berorganisasi, komitmennya dalam pekerjaan, serta kiprah apa yang pernah ia lakukan dalam menyelesaikan persoalan di negeri ini.

Meski sempat tarik ulur mengenai teknis debat yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum ini, hingga memunculkan isu bocoran soal dan keberpihakan KPU ke salah satu pasangan, apa yang tampak semalam adalah adanya dua kisah yang muncul dari kedua pasangan calon presiden.

Kesimpulan yang bisa kita ambil dari debat pertama semalam adalah pasangan Jokowi dan Amin Ma’ruf bercerita sejarah pemerintahanya selama lima tahun. Dan itu tentunya menjadi senjata yang mujarab untuk bercerita tentang apa yang telah dia lakukan.

Sedangkan pasangan Prabowo dan Sandiaga banyak menjanjikan cita-cita dan mengkritik kebijakan-kebijakan apa yang kini telah dilakukan pemerintahan Jokowi. Maklum, penantang.

Tentunya dari kedua pendapat yang telah disampaikan, masyarakat harus bisa menjadi juri bagi dirinya masing masing. Mulai untuk membiasakan awas dan mencatat untuk dijadikan dasar verifikasi yang dilakukan.

Sejarah adalah kisah yang terjadi dan tentunya bisa diverifikasi sedangkan cita-cita adalah angan yang mungkin bisa terjadi atau gagal. Keduanya bisa dikritisi dengan cara masing masing. 

Saatnya Anda dan kita semua menjadi pemilih cerdas dengan tidak hanya terpaku dari suara timses dan hoaks yang kemungkinan diproduksi dari kedua kubu. Selamat mengkritisi!