Pesantren merupakan ruang ekspresi keagamaan yang memiliki peran fundamental dalam membangun kecerdasan anak bangsa. Tradisi pesantren sejak lama menanamkan kualitas spiritualitas dan kesalehan sosial sebagai spirit kebangsaan atau nasionalisme. 

Interaksi sosial yang dibangun di kalangan pondok pesantren menciptakan ruang komunal sebagai ekspresi nilai-nilai islam progresif moderat. Secara bersamaan pula nilai-nilai sosial keagamaan tertanam di kalangan santri.

Berkaca pada situasi sosial pasca reformasi, salah satu fenomena yang menguat adalah maraknya publikasi berbagai diskursus mengenai religiositas muslim di Indonesia. Keterbukaan diskursus di ruang publik berpengaruh pada perkembangan sosial keagamaan masyarakat Indonesia tak terkecuali lingkungan pesantren. Kendati demikian, wacana tentang identitas Islam di Indonesia merupakan isu menarik untuk selalu dibicarakan bagi para sarjana Indonesia.

Transformasi ritus-ritus keagamaan masyarakat urban kental dengan nuansa zaman yang terus berkembang. Pasca reformasi, kebebasan berekspresi dan berserikat menjadi modal lebih bagi masyarakat perkotaan. Sehingga bukan tidak mungkin jika muncul kelompok-kelompok yang dengan leluasa mengekspresikan keagamaannya di ruang publik. Kebutuhan spiritualisme masyarakat urban yang semakin tinggi dibuktikan dengan kian ramainya majlis pengajian di berbagai sudut kota.

Tradisi pesantren dalam perkembangan literasi digital dan pengaruhnya terhadap eksistensi santri di ruang publik ini menjadi fokus penelitian. Sebagai sebuah diskursus akademik, tradisi pesantren dan perkembangan literasi digital ini merupakan gagasan yang penting untuk dikaji lebih dalam.

Santri dalam Perkembangan Literasi Digital

Munculnya berbagai macam ekspresi religiositas yang ditampilkan masyarakat perkotaan tersebut di atas, selain sebagai bentuk peningkatan religiositas, juga dapat dimaknai sebagai bentuk era rekontruksi agama, atau lebih tepatnya gerakan agama. Gejala tersebut juga dapat diistilahkan sebagai bentuk dari rekontruksi baru mengenai makna ketuhanan di tengah modernitas (Warsito Raharjo Jati, 2017:119-120).

Identitas sebagai Muslim merupakan salah satu cerminan dari kenyataan primordial. John A. Titaley menjelaskan kalau Indonesia merupakan sebuah realitas dengan dua identitas. Keduanya adalah realitas primordial dan realitas nasional, (John Titaley, 2013:146). 

Sebagai identitas primordial, religiositas selalu diupayakan untuk selaras dengan identitas nasional yang menjadi payung bersamanya. Identitas keagamaan tidak jarang kerap bersitegang dengan identitas nasional. Karenanya perlu formulasi yang tepat untuk menjadikan dua identitas itu tidak saling berpunggungan.

Santri sebagai identitas kebangsaan belum banyak diteliti. Terjadinya reformasi 1998 membuka ruang ekspresi keagamaan di ruang publik. Kampanye keberagamaan dalam masyarakat yang beragam menjadi salah satu isu yang banyak diminati peneliti dewasa ini. Tulisan sederhana ini sebagai upaya merumuskan kontribusi santri dalam upaya membangun peradaban di era kemajuan literasi digital ini.

Pesan yang disampaikan melalui literasi digital telah banyak dikonsumsi kalangan anak muda dewasa ini, tak terkecuali santri. Santri memiliki keleluasaan memanfaatkan perkembangan teknologi menjadi alternatif pengetahuan sekunder. 

Belakangan santri mulai muncul di ruang publik dengan beragam ekspesinya. Berselawat merupakan ekspresi kultural dalam meneladani serta bentuk kecintaan terhadap Rasulullah Muhammaad saw, dengan perkembangan media sosial menjadi magnet di kalangan milenial. Keterbukaan media sosial membuka ruang ekspresi keagamaan dalam tradisi pesantren lebih terbuka dan terdiseminasikan ke khalayak.

Kekuatan Kultural sebagai Identitas Pesantren

Ancaman puritanisme islam belakangan ini kian menjadi sebagai ancaman kekuatan kultural pesantren. Seperti halnya isu yang berkembang di media, ancaman pembubaran sedekah laut di Bantul (detik.com, 15/10). 

Buya Husein Muhammad dalam sebuah diskusinya di café basa-basi Yogyakarta (14/10) menyampaikan tentang seperti apa gambaran orang jahiliyah. Bahwa jahiliyah bukanlah masyarakat bodoh seperti di Arab sebelum nabi Muhammad lahir. Jahiliyah di sini, hilangnya kesadaran diri terhadap hakikat orang lain, sehingga bersikap angkuh, ekstrem, melakukan kekerasan, pendendam, dan mengagumi diri sendiri. Dikutip dari catatan facebook Alhilyatuz Zakiyah Fillaily,(05/11/2018).

Pasca peristiwa pembakaran bendera HTI, fenomena Muslim Coki, sampai pengaruh sinetron azab terhadap cara berpikir sekelompok orang saat masyarakat mengalami bencana di berbagai platform media sosial yang paling mudah diamati. Buya Husein mencontohkan bagaimana sikap Nabi Muhammad dalam bergaul baik dengan sesama muslim maupun non-muslim.

Di antaranya, yaitu temui orang yang tidak mau berkawan denganmu; temui orang yang menolakmu; dan maafkan orang yang salah terhadapmu. Ini merupakan sikap Nabi yang tidak mengenal identitas untuk berbuat baik yang patut diteladani oleh pemuda milenial.

Santri tentu lekat dengan nuansa sikap sosial dan upaya meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. Aktivitas keseharian santri tak lepas dari sentuhan tangan dingin seorang Kiai sebagai kontrol sosial dan spiritualitas yang dibangun di lingkungan pesantren. 

Santri sarat dengan pengalaman ilmu saling menghormati satu sama lain, sikap tawadhuh terhadap Kiai. Kekuatan moral santri modal kuat dalam membangun peradaban di era kemajuan literasi digital ini sebagai identitas kebangsaan.

Mengutip John Saliba, ia mengatakan bahwa agama menjadi kekuatan integrasi, suatu ikatan yang mempersatukan serta memberi kontribusi terhadap stabilitas sosial dan kontrol sosial juga berkontribusi terhadap preservasi pengetahuan (John Saliba, 2003:148). Santri dengan tradisi pesantrennya dapat berperan sebagai komponen yang berkontribusi terhadap stabilitas sosial di era literasi digital dewasa ini.