“Bersatu dalam perbedaan.” Sebuah kalimat singkat, memiliki makna yang dalam. Lebih kurang itulah sepenggal kalimat yang masih membekas dalam ingatanku mengenai sebuah peristiwa di tanggal 26 November 2016. Saat beberapa mahasiswa jurusan Teologi dari sebuah universitas kristen di Yogyakarta bertamu ke tempat kami, Pondok Pesantren LSQ ar-Rahmah yang terletak di kabupaten Bantul-Yogyakarta.

Sempat terpikir olehku, faktor apa sebenarnya yang mendorong pemuda-pemuda beragama Protestan itu memberanikan diri untuk berkunjung ke pesantren kami.

Bahkan ternyata, kedatangan mereka bukan sebatas berkunjung, namun lebih dari itu. Mereka ingin mempelajari bagaimana kehidupan dan keseharian para santri di pondok pesantren dengan cara bermalam bersama kami di bawah satu atap yang sama.

Bagi sebagian orang, mungkin hal tersebut terlihat biasa. Namun tidak bagiku. Terbiasa hidup di lingkungan mayoritas Muslim, membuat peristiwa itu terasa sangat asing dan aneh.

Tak pernah terpikir olehku bagaimana pemuda-pemuda semester tiga yang kebetulan seusia denganku itu, tergerak untuk menembus batas-batas cakrawala berpikir kebanyakan orang pada zaman sekarang.

Tampaknya isu-isu kekerasan yang mengatasnamakan agama yang belakangan marak terjadi, sama sekali tidak mempengaruhi tekad mereka untuk terus mengejar ilmu, bahkan kepada orang-orang yang berlainan keyakinan sekalipun.

Informasi kedatangan mereka telah terlebih dahulu disampaikan oleh pengasuh pondok kepada kami lebih kurang satu minggu sebelum hari H.  Saat memberitahukan hal itu, pengasuh pondok memintaku untuk menjadi salah satu pengajar yang nantinya akan mengajarkan mereka mengenai beberapa materi terkait kearifan pondok pesantren.

Kepercayaan tersebut menjadi suatu kebanggan tersendiri bagiku. Apalagi orang-orang yang akan aku ajarkan adalah mereka yang berasal dari agama yang berbeda denganku.

Tiba-tiba sebuah ide muncul, bahwa aku ingin mengajarkan mereka mengenai Islam, dan akan menentang keyakinan mereka yang selama ini kuanggap salah. Aku sudah menonton begitu banyak video yang membeberkan banyak bukti mengenai kekeliruan agama mereka. Ya, aku akan mengubah keyakinan mereka. Begitu batinku.

Para mahasiswa yang berjumlah sepuluh orang itu sampai di pondok kami tepat ketika azan maghrib dikumandangkan. Dengan penuh antusias mereka menyimak setiap patah kata yang disampaikan pengasuh pondok dalam rangka menyambut kedatangan mereka.

Tidak ada yang aneh dari penampilan mereka. Semuanya adalah orang asli Indonesia, dan tentunya beragama Kristen. Mereka datang dari berbagai daerah, ada yang berasal dari Medan, ada yang dari Maluku, Sulawesi, hingga Jawa.

Di sini aku baru sadar bahwa ternyata pulau Jawa yang selama ini dikenal sebagai pulaunya para wali, masih terdapat penduduk asli yang beragama selain Islam.

Singkat cerita, waktu subuh pun tiba. Kami semua pergi menuju masjid dan melaksanakan salat subuh berjamaah. Seperti biasa, sesusai ssalat, kami kembali menuju asrama untuk melakukan kegiatan muraja’ah hafalan[1] secara bersama.

Sebuah peristiwa mengesankan pun terjadi. Ternyata semua mahasiswa Kristen itu ikut duduk bersama kami dalam kegiatan pagi itu. Mereka duduk dengan tenang di belakang kami sambil khusyu mendengarkan bacaan ayat-ayat al-Qur’an yang kami lantunkan secara bergantian.

Tak terlihat sedikit pun ekspresi bingung atau jengkel dari wajah mereka. Aku hanya melihat raut keseriusan yang mereka tampakkan saat mendengarkan bacaan kami. Bahkan salah seorang di antara mereka ada yang mengenakan peci dan sarung. Ah, benar-benar sebuah sikap yang menyejukkan!

Saat itu, hilanglah semua rencana muslihatku. Niatku yang sebelumnya ingin membuktikan kesalahan ajaran mereka, tiba-tiba runtuh dengan sendirinya. Bukannya aku membenarkan keyakinan mereka, atau meragukan keyakinanku sendiri. Namun yang kurasakan pagi itu ialah ketakjuban yang luar biasa terhadap mereka yang sangat menghargai plurarisme beragama.

Mereka tidak ragu sedikit pun mendengarkan bacaan-bacaan al-Qur’an yang kami lantunkan. Tak terlihat ekspresi keraguan dari wajah mereka. Saat itulah jiwa toleransiku muncul.

Seusai membaca al-Qur’an, Kiai kami melanjutkan acara dengan memperdengarkan bacaan kitab gundul. Hal itu beliau tujukan untuk memperkenalkan para tamu dengan sebuah tradisi khas yang telah mengakar dalam dunia kepesantrenan, yaitu membaca kitab berbahasa Arab yang tak berbaris.

Agar sesuai dengan kondisi saat itu, beliau sengaja memilih tema yang berkaitan dengan pandangan Islam mengenai hubungan sosial antara umat Muslim dan non-Muslim.

Rasa takjubku semakin membara ketika mendengarkan pengajian yang disampaikan oleh Kiai. Di dalam kitab karangan Dr. Yusuf al-Qardhawi yang berjudul al-Halal wa al-Haram itu dijelaskan bahwa Islam sangat menolerir keberadaan non-Muslim selama mereka tidak mengusik umat Muslim.

Dan tentunya, umat Muslim juga harus tetap menjaga perdamaian dengan mereka yang non-Muslim. Kedua pihak harus saling menjaga dan menghormati. Tidak ada paksaan dalam beragama, begitu makna salah satu ayat di dalam al-Qur’an (Q.S. Al-Baqarah (2): 256). Beliau selanjutnya menjelaskan bahwa Islam melegalkan tiga bentuk persaudaraan di antara umat manusia.

Yang pertama ialah persaudaraan dari segi akidah. Inilah yang kemudian dikenal dengan jargon “Muslim dengan Muslim yang lainnya adalah bersaudara”.

Yang kedua adalah persaudaraan dari segi keturunan (pertalian darah). Dan yang ketiga adalah persaudaraan dari segi berbangsa dan bernegara. Nah, jenis yang ketiga ini lah yang saat itu melandasi hubungan dan interaksi kami.

Meskipun berasal dari latar agama dan keluarga yang berbeda, namun kami adalah anak-anak bangsa yang lahir di negeri yang sama, yaitu Indonesia. Sehingga tidak ada alasan apapun yang membenarkan kami untuk saling bertikai, apalagi didasari karena persoalan perbedaan akidah (keyakinan).

Seusai pegajian kitab gundul bersama Kiai, aku dipersilakan untuk menyampaikan beberapa materi kepada mahasiswa-mahasiswa Kristen tersebut. Sepuluh menit pertama kami hanya membicarakan hal-hal ringan yang berkaitan dengan kehidupan santri di pesantren. Lambat laun pertanyaan yang menjurus ke persoalan akidah pun muncul dari salah seorang temanku.

Ia ingin menguji konsep ketuhanan yang diyakini oleh mereka. Pertanyaan itu dimulai dengan kajian trinitas hingga sekte-sekte yang ada dalam agama Kristen. Suasana yang awalnya cukup cair seketika berubah  menjadi serius dan tegang. Meski demikian, mereka tetap berusaha untuk memberikan jawaban yang menurutku penuh dengan pertimbangan toleransi-pluraritas.

Setiap menjawab sebuah pertanyaan yang kami lemparkan, mereka selalu menyelipkan semacam pujian terhadap ajaran agama kami, dan mencoba untuk mencari titik kesamaan dari kedua ajaran. Titik kesamaan yang dimaksud ialah kesamaan nilai yang hendak dicapai oleh masing-masing ajaran, seperti nilai keadilan, kesamaan, kerukunan, perdamaian, dan lain sebagainya.

Sebelum mengakhiri diskusi, salah sseorang perwakilan dari masing-masing kubu secara spontan memberikan tanggapan mengenai diskusi yang barusan terlaksana. Kami semua sepakat, bahwa perbedaan dalam keyakinan tidak perlu dijadikan jurang pemisah di antara kami untuk bisa saling mengenal dan berinteraksi. Soal keyakinan adalah urusan masing-masing individu dan Tuhannya.

Yang perlu diwujudkan bersama-sama oleh semua manusia –dari golongan apa pun itu— ialah terciptanya kehidupan yang harmonis dan damai tanpa ada sikap saling membenci atau permusuhan. Karena, kedamaian adalah hak semua individu.

Sedangkan untuk mewujudkan hak yang bersifat universal di tengah kenyataan pluraritas agama, suku, dan ras tersebut, dibutuhkan sikap toleran dan saling menghargai dari semua kalangan, tanpa terkecuali.

Sebuah kata tiba-tiba terucap dari bibirku, “meski berbeda keyakinan, kita masih dapat bersatu dalam perbedaan.”

Pengajian lintas agama yang terlaksana antara dua kelompok mahasiswa berlainan agama pagi itu berakhir dengan gelak dan tawa. Secangkir teh dan beberapa potongan kue bolu ikut melengkapi kebahagiaan beberapa anak bangsa yang baru saja memahami mengenai arti dari sebuah kedamaian.

[1] Suatu istilah khusus yang diambil dari bahasa arab yang berarti mengulang hafalan al-Qur’an.