Upaya memahami al-Qur’an tidak bisa melepaskan diri dari keterkaitan antara penggagas teks, teks, dan pembaca (Nadirsyah Hosen: 2017, 7). Sebagai kitab petunjuk, al-Qur’an tidak semudahnya dapat dipahami dengan semena-mena tanpa metode dan kaidah, begitu juga al-Qur’an tidak bisa dipahami hanya mengandalkan makna terjemahan. Lebih lanjut, Nadirsyah menjelaskan bahwa Kaidah dan metode untuk memahami al-Qur’an pada akhirnya dinamakan dengan ‘Ulum al-Qur’an.

Untuk meraba Hermeneutika, mari kita simak dari penjelasan Aksin Wijaya bahwa Hermeneutika adalah teori pengoperasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi terhadap sebuah teks (Aksin Wijaya: 2009, 24). Atinya, Upaya sitematis dan berdasar sebagai metode untuk memahami al-Qur’an yang pada akhirnya akan menghasilkan sebuah interpretasi akibat dialognya dengan teks. 

Dari sini dapat kita temukan dan sadari bahwa Hermeneutika adalah baru memasuki wilayah ‘Ulum al-Qur’an, sebagaimana dijelaskan oleh Nadirsyah, sebagai wilayah non-suci. Namun problemnya adalah ‘Ulum al-Qur’an dinilai telah final dan tidak membutuhkan pendekatan baru. Hal ini dikarenakan ‘Ulum al-Qur’an masih banyak yang menganggapnya sesuci al-Qur’an (Nadirsyah Hosen:2017, 7).

Poin pokok dari proyek Hernenutika adalah, dalam  memahami sebuah objek kajian, baik teks keagamaan maupun kesustraan dan lainnya, hermeneutika menggunakan pendekatan linguistik, dekonstruksi dan rekonstruksi historis, psikologi penggagas, antropologi, komparasi teks, dialog, dan sikap membebaskan diri pembaca dari sikap subjektifitas (Team Kodifikasi Purna Siswa 2005: 2009, 29).  

Sikap atas ditawarkannya Hermeneutika untuk dijadikan pendekatan dalam membaca teks al-Qur’an, yang diharapan mampu untuk menghasilkan pembacaan yang kontekstual dan modern, para santri yang terkumpul dalam Team Kodifikasi Purna Siswa 2005 Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien berbeda dari mainstream umat islam. Untuk lebih lanjut, pertama dapat digambarkan dari statment:

Dari berbagai madzhab hermeneutika, setidaknya dapat dikatakan bahwa hermeneutika memang suatu metode jitu penghampiran teks dalam kancah penafsiran yang cukup romantis, dan hanya bukan sekedar picisan (Team Kodifikasi Purna Siswa 2005: 2009, 29).

Penyambutan hermeneutik sebagai metode jitu yang cukup romantis dan bukan picisan adalah bentuk apresiasi yang tinggi atas pencapaian hingga mampu menemukan teori-teori yang disadari bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan sebagai jawaban atas kemandegan umat manusia dalam menyajikan makna yang kontekstual. 

Hal senada diungkapkan oleh Amin Abdullah yang mengatakan bahwa karya tafsir tradisional masih terbatas mengacu kepada riwayat dan perspektif linguistik. Dengan menggunakan pandangan Ichwan, Amin Abdullah yang mengatakan pemandangannya akan berbeda ketika hermeneutika modern digunakan sebagai salah satu perspektif dalam membaca al-Qur’an, karena dalam episteme historis modernitas, pungkasnya, telah menggerakannya dari tekstualitas menuju kearah rasional dan kontekstual (Amin Abdullah: 2013, x).

Lebih lanjut, Amin Ambullah, dengan mengutip pandangan Amin al-Khulli (w. 1966), upaya membengaun hermeneutika, ketika membaca sebuah teks, dari yang bersifat unthinkable menjadi thinkable adalah dengan cara memperlakukan teks sakral (al-Qur’an) sebagai kitab sastra Arab terbesar (Kitab al-‘Arabiyah al-Akbar), dengan konsekuensi sebuah analisis linguistic-filologis teks merupakan keniscayaan dalam upanyanya menaangkap makna al-Qur’an. 

Sikap dan pilihan ini hanya berjuan untuk menggapai angan-angan sosial kebudayaan al-Qur’an dan nilai luhur yang ada dibalik komposisi harfiah sebuah ayat sebagaimana yang telah dapat digapai leh Nabi Muhammad (Amin Abdullah: 2013, x-xi).

Berangkat karena hermeneutika digunakan untuk membaca Bible sebagai metode pemahamannya sebelum al-Qur’an, ditawarkanlah jenis baru, yakni, Hermeneutika poros tengah (Team Kodifikasi Purna Siswa 2005: 2009, 31) yang sebenarnya hanya sebagai bentuk penyaringan. 

Problem pertama yang dijadikan pertimbangan hermeneutika poros tengah adalah wacana tentang orisinalitas al-Qur’an. Selanjutnya, hermeneutika poros tengah tidak diproyeksikan untuk membaca al-Qur’an dengan hasil pembacaan yang sama baiknya dengan penggagas teks atau bahkan lebih baik, hermeneutika jenis ini juga tidak memiliki semangat untuk memahami pengarang lebih baik daripada memahami diri sendiri, seperti yang di tawarkan oleh Schleiermacher. 

Pertimbangan-pertimbangan di atas muncul karena asas dasar bahwa penafsir tidak akan mampu untuk menghasilkan pembacaan yang lebih baik daripada yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. (Team Kodifikasi Purna Siswa 2005: 2009, 34).

Sikap yang mengagumkan dari para santri, mengingat banyak dari umat islam yang bersikap reaktif dengan menolak mentah-mentah produk pemikiran barat tanpa ada pemilahan. Membaca yang tidak menyamakan seluruhnya inilah yang semakin luntur dari budaya intelektual muslim tak luput juga intelektual muslim Indonesia.

Dengan memahami Hermeneutika sebagai metode pemahaman dalam menginterpretasikan sebuah teks (Team Kodifikasi Purna Siswa 2005: 2009, 80), penerimaan ini, meskipun tidak secara totalitas, adalah bentuk inklusivitas intelektual kaum santri dan bukti mereka mampu untuk berdialog dengan gagasan-gagasan modern yang selama ini di wacanakan jauh dari kehidupan para santri.

Kesimpulan dalam berdialog dengan hermeneutik adalah bahwa nafas-nafas hermeneutik sebenarnya dapat ditemukan dalam kekayaan literatur tradisional islam. Untuk itu, dengan mengutip Nasr Hamid Abu Zayd, dikatakan:

Al-Hermeneutika idzan qadhiyyatun qadimatun wa jadidatun fi nafs al-waqt, wa hiya fi tarkiziha ‘ala ‘alaqati al-mufassir bi al-nash laisat qadliyatan khasatan bi al-fikri al-gharbi, bal hiya qadliyatun laha wujuduha al-mulih fi turatsina al-‘arabi al-qadim wa al-hadits ‘ala sawa’.

Hermeneutika dalam konteks ini adalah diskursus lama dan sekaligus baru. Concern pembahasannya adalah tentang relasi penafsir dengan teks, bukan hanya semata diskursus pemikiran barat, akan tetapi diskursus yang mewujudnya juga ada dalam turtas Arab, baik Arab klasik maupun kontemporer ( Team Kodifikasi Purna Siswa 2005: 2009, 80-81).

Wallahu a'lam bi al-shawab