We are living a fast life, instead of a good life (Carl Honore - Canadian Journalist)

Di sini, pendulum zaman berayun lamban. Seperti daun kering mengalun di sungai tenang. Di tengah riuh mantra pemuja kecepatan yang tak memberi ruang bagi yang tak bergegas, di sini semua berjalan pelan: alon-alon waton kelakon.

Perlahan siang pulang. Saya sodorkan selembar uang pada Bapak Pengayuh Becak sambil menyelipkan kata terima kasih karena telah gontai mengantar ke Alun-Alun Utara. Senyum ompong membalasnya. Ditambah air muka ceria sebab tak perlu sibuk merogoh kembalian.

Bersama langit kelabu, azan Masjid Gedhe Kauman mendayu. Saya terjerat. Lantunan memapah langkah mendekat ke gapura. Saya pungut daun sawo kering luruh. Saya baru tahu, gapura tak sekadar pintu. Ia menyerap makna.

Gapura dari Bahasa Arab ghafura, yaitu ampunan dosa. Siapa yang melewati gapura masjid berbekal niat ibadah, insya Allah dosa-dosanya diampuni. Saya pun baru paham, pada pohon sawo tersirat makna luruskan shaf-nya.

Ada gapura, ada benteng. Antara keduanya ada cepuri; pagar kecil berhias ukiran buah waluh atau labu. Buah waluh pun adalah simbol. Pada awal penyebaran Islam masyarakat sulit sekali melafalkan kata Allah. Hingga para sunan mengasosiasikannya dengan waluh.

Tak di luar, tidak pun interiornya, tak ada bentuk dan ornamen masjid yang tak menyematkan arti. Dari ukiran wajik di pintu, warna-warni serambi, hingga tiang bertatah ukiran. Saya luangkan waktu lebih memangut di teras itu. Bahkan saat beberapa telah merapikan shaf salat isya. Saya selow saja. 

Sungguh ritme kehidupan serbacepat yang Anthony Giddens menyebutnya juggernaut telah menggiring, menggilas manusia pada lubang hampa. Dangkal namun tanpa dasar. Shallow, nirmakna.

Tepat saat jamaah tegak ke rakaat ketiga. Iblis berbisik. Saya melesat ke angkringan Pendopo Ndalem. Alon-alon saja, pak. Pinta saya. Roda pun bergerak pelan disusul tawa Bapak Penarik Becak yang terdengar mengerikan.

Gaya hidup bersicepat merebut banyak hal; kenikmatan, kesederhanaan, ruang sosial, bahkan waktu luang itu sendiri. Alih-alih mengembalikan otentisitas kita keluar dari arus banal, liburan berhari-hari hanya semacam ajang balap lari.

Dari satu destinasi ke destinasi lain, mengejar banyak spot sebagai bahan upload-an di media sosial. Seorang cerdik pandai bilang untuk mencapai kebahagiaan sejati, manusia butuh melambatkan perburuan. Bukan justru mempercepat sensasi kesenangan.

Malam itu, saya duduk di bahu Malioboro. Saat seseorang menganjurkan rokok. Saya menepis dengan senyuman. Kreatifitas Malioboro tanpa batas. Ujarnya. Sambil menghaluankan mata pada grup perkusi yang riuh berekspresi.

Ikon kota ini terkait dengan Duke of Marlborough. Suaranya tanpa ditanya. Gelar yang diberikan pada John Churchill, jenderal Inggris pada abad 18-an. Sudut mataku menikung ke arahnya. Versi lain menyebut Malioboro disadur dari bahasa Sanskerta; mâlyabhara; berhias untaian bunga.

Ia makin menggebu. Sambil menyulut batang baru. Malioboro, jalur sakral. Sumbu imajiner, bulevar penguasa Pantai Selatan, keraton, dan Gunung Merapi. Ruas rajamarga; arteri para raja. Urat nadi tanah Jawa.

***

Esok hari, bersama Si Perokok kami menembus aorta hutan Gunung Seribu ke arah Ginirejo. Lalu, tiba di pijakan pertama tangga Makam Raja-Raja Mataram. Tapi entah mengapa hari itu makam tak menerima tamu. Setelah rehat dari menuruni 400 tangga, kami berputar entah ke mana.

Dalam kesangsian, Si Perokok gopoh dengan ide mencari makan siang. Ia bilang ini paling banyak dicari: Mangut Lele Mbah Marto. Imogiri sendiri dikenal penghasil wedang uwuh terbaik. Minuman tradisional cita rasa para raja. Penambah stamina.

Rasanya, perlu momen di mana kita menundukkan diri pada otoritas lokal. Kuliner setempat (slow food) atau gaya hidup masyarakatnya (slow tourism). Keliaran a la metropolitan mesti didomestikasi sesekali.

Pengalaman menyantap kuliner lokal yang bahan dan cara pengolahannya diracik apa adanya sedikit banyak menyegarkan indra pengecap yang biasa teracuni makanan cepat saji (fast food).

***

Di sini, pendulum zaman berayun lamban. Di atas ban dalam di permukaan air di perut bumi dalam. Sepanjang 350 meter. Seperti daun kering. Pikiran berkilat pada kisah Nenek Pemungut Daun Kering. Mungkin bukan daun sawo.

Kedalaman air antara 5-12 meter. Ini Gua Pindul satu rangkaian dari tujuh gua yang terdapat arus di bawahnya. Mbelik panguripan; mata air kehidupan yang turut menafkahi warga Bejiharjo, Gunung Kidul. Sang gua memiliki tiga zona; terang, remang, dan gelap. Kami melintasinya kurang satu jam.

Sepanjang jalan pulang, hutan jati dan bongkahan batu kapur berkejaran. Pikiran tentang kisah Nenek Pemungut Daun Kering tergali. Perempuan renta sederhana pula mengaku bodoh. Kesetiaannya memupul daun kering di halaman masjid menyimpan makna luar biasa.

Pada tiap helai daun yang diambilnya, si nenek menaruh pengharapan. Maka, suatu hari, ketika seseorang menyapu bersih daun-daun kering itu. Air matanya tuang. Si nenek cemas tidak kepalang.

Ada kalanya, kita pun menghendaki suatu tenaga untuk menundukkan diri dan menyerahkan kebebasan. Karena ternyata jalan bebas sendiri terlalu berat jika terus dijalani.

Referensi: