Rada susah mengatakan, celoteh medsos Fadli Zon, lebih-lebih yang sedang memicu kegaduhan terkini, berjudul Doa yang Tertukar adalah puisi. Sebagai penikmat karya sastra di antaranya puisi, saya begitu pula Sampean kadung dimanjakan serentangan panjang, beragam sajian puisi karya para tokoh lain yang begitu nikmat lebih dulu.

Karena itu, saya patut bersyukur dan matur sembah nuwun kepada sekalian penyair dan penulis, dengan sendirinya turut mengenalkan dan terus membelajarkan tentang cita rasa puitik. Sialnya, ketika saya mencoba mencicipi tulisan Fadli terkait, belum kunjung terasa sensasi puisi.

Andaikan dipaksa untuk menggolongkannya sebagai puisi, dengan berat hati saya harus mengatakan hanyalah puisi rasa igauan. Tentu saja tanpa mengurangi apresiasi atas jerih payah Fadli yang kentara tergopoh-gopoh menuangkannya untuk kemudian ditahbis sebagai puisi.

Eits, jangan manyun dan berpikir macam-macam dulu. Sekurangnya tiga alasan yang kiranya boleh kita sepakati. Itu pun usai saya menyisihkan fokus nonpuisi, sehingga diharapkan pengecapan kita akan lebih berasa jernih.

Pertama, judul yang kesannya terburu-buru dipilih terasa amat hambar. 

Selain ingatan seketika terbawa pada judul sinetron televisi yang mirip terdahulu, diksi Doa yang dipakai juga seakan membetot pikiran kembali pada momen doa Romo Yai Maimoen Zubair yang masih segar dalam ingatan. Apalagi, keliru ucap nama Capres saat doa itu, sempat ramai dijadikan bahan gorengan medsos.

Sampai di sini, saya masih berharap akan menikmati suguhan yang maknyus pada muatannya. Terbetik dalam benak, ada banyak kenikmatan dari remah-remah isinya yang akan saya resapi, sehingga kita meragu untuk mempertanyakannya. Ketika ibarat menjumpai bungkusnya yang terlampau seadanya.

Kedua, jika memakai garpu analisis wacana tipis-tipis saja, bagian penutup tulisan cekak Fadli terkesan langsung putus. Semula kita bagaikan diiming-iming dengan kata-kata yang wah bahwa tiga bait sebelumnya begitu menggugah selera. Tetapi, lantas njekethek gagal ritmis di bagian akhir.  

Mulanya saya bagaikan diberitahu potongan-potongan hidangan yang berlumur saos teramat pedas, hingga bakal terasa meledak-ledak nikmat di mulut. Lalu, sensasinya masih terasa lekat meski disudahi minuman segar dan cemilan penutup buah-buahan. Dan selesainya saya bersemangat untuk menyeritakan kepada teman-teman.    

Ketiga, semakin gambyar lagi ketika Fadli terburu-buru menjawab pertanyaan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, di Twitter secara terbuka soal: apakah subjek ”kau” dalam rangkaian bait ”puisi” karangannya itu Romo Yai Maimoen Zubair? Jawaban darinya, bukan tokoh sesepuh NU asal Rembang bersangkutan.

Tanpa disadari otoritas Fadli justru menjadi bocor halus, atas karangan yang diklaim puisi itu sendiri. Bukankah kala sebuah karya sebutlah puisi disodorkan ke publik, maka tafsir cenderung berada di tangan pembaca, minimal setara kebebasan berekspresi sebagaimana Fadli cs ingin meluapkannya sejauh ini?

Metafor yang menyelimuti tulisan Fadli juga rasanya memudar. Imajinasi ketika mencerapnya urung berdansa leluasa. Pada gilirannya, karena tergesa-gesa dan instan, klimaks yang diharapkan menjadi kurang berkesan. Dan ”kau” bukan lagi sebuah misteri yang teramat sulit ditafsirkan.   

Boleh-boleh saja dan bebas Fadli menyampaikan tafsir semisal untuk klarifikasi. Hanya saja, konsekuensinya mengurangi taste, bila tak boleh menyebut nilai coretannya jeblok. Mengingat, telanjur distempel puisi dan bukan pernyataan. Saya mengangankan jawaban Fadli atas pertanyaan Menag, disampaikan lewat direct message sedianya.

Gelinya, kalau dikunyah lagi perlahan terutama bait pertama dan kedua, seketika terlintas perilaku Fadli antara lain dalam bermedia sosial dengan kecenderungan nyinyir dan nada sengak berdalih kritik, yang sudah menjadi rahasia umum selama ini. Narasi yang beruntai lebih banyak kata pasif juga mengesankan setidaknya dua hal.

Fadli serasa tengah dilanda kecemasan tak bertuan atas bayang-bayang sendiri. Tetapi saya ogah berandai-andai tentang kecamuk rasa panik kubu internalnya, atas upaya terkait coblosan Pilpres nanti. Entah apa diam-diam Fadli juga telah merasa pemilihan diksi-diksinya memang tidak presisi, sehingga dihantui kegamangan bahkan bayangan rasa bersalah?

Lalu, entah mengapa langsung terbayang Fadli sedang mencoreng muka sendiri bertubi-tubi, justru ketika mencerna dari awal tulisannya secara netral. Bagaimana pun Fadli manusia politik yang selalu membuka pertanyaan, sungguhkah tak jauh-jauh dari permainan bermacam lakon seperti yang disebutkan sendiri dalam tulisannya? Ini yang kiranya sering terlewatkan dari perhatian.

Yang perlu digarisbawahi, ketika politisi pragmatis-oportunis dan pengabdi politik aliran, terus menunggang-cemari jagat sastra termasuk puisi, maaf, terasa sungguh memuakkan. Apalagi saat masih digandoli konflik kepentingan secara intrinsik, guna memanfaatkan ruang puisi dan sastra berkedok kritik.

Bukan berarti politisi haram berpuisi. Sah-sah saja terlebih politisi yang mungkin berlatarbelakang pendidikan linear. Bisa jadi agar keluar dari kejumudan gaya berpolitik yang menjadi andalan. Tetapi, juga tidak sertamerta mengabaikan tanggung jawab. Waba'du, kembalikan puisi maupun sastra pada maqam-nya!