Kreatif adalah kata yang menjadi simbol generasi di abad 21 ini. Hampir di semua bidang kata itu harus dimasukkan untuk kemajuan dan kemaslahatan bersama. Salah satu persoalan yang menyita perhatian adalah penanganan sampah, khususnya di kota-kota besar. Muncullah beragam ide kreatif untuk penanganannya, salah satunya dengan menjadikan sampah sebagai energi pembangkit listrik.

Penanganan terkait sampah tentulah mengusik banyak orang, maka beragam solusi harus dimunculkan untuk menyelesaikannya. Jika merujuk pada data Worldenergy pada tahun 2012 menyatakan bahwa setiap orang memproduksi sampah +/- 1,2 liter per harinya.

Ini menunjukkan terdapat setidaknya 240 juta liter sampah baru yang lahir di Indonesia tiap harinya. Bayangkan jika pengelolaannya diatur dengan tingkat kreativitas tinggi, maka sampah yang awalnya menjadi musibah dapat menjadi berkah.

Menjadikan sampah sebagai sumber energi merupakan alternatif penanganan yang sangat solutif. Di berbagai negara maju, hal ini sudah menjadi biasa dan memberikan efek terhadap pembangkit listrik bagi masyarakat. Sebut saja Amerika, Perancis, Denmark dan Swiss, penanganan sampahnya telah mencapai titik maksimal. Di Denmark semisal hampir 54% sampahnya diubah menjadi tenaga listrik. Sungguh pencapaian yang wajib ditiru oleh Indonesia.

Secara teori, sebenarnya teknologi pengolahan sampah menjadi listrik tidaklah begitu sulit, bahkan sangat sederhana. Dalam prosesnya, sampah dibakar sehingga menghasilkan panas (ini disebut proses konversi thermal). Panas yang dihasilkan dari pembakaran tersebut dimanfaatkan untuk mengubah air menjadi uap, bisa melalui bantuan boiler.

Dari uap bertekanan tinggi yang dihasilkan, dapat secara teknis dihubungkan dengan generator, yang selanjutnya menghasilkan tenaga listrik siap pakai.

Dengan proses edukasi yang baik dan terarah, pemanfaatan sampah menjadi listrik di atas dapat pula dilakukan oleh masyarakat, khususnya di perkotaan yang kuantitas sampahnya sangat banyak. Setidaknya permasalahan sampah bisa memberikan efek positif bagi kehidupan bersama.

Tak hanya Sekadar Energi

Permasalahan sampah pada dasarnya telah dirasakan merata efek negatifnya oleh seluruh lapisan masyarakat. Pada level kesadaran yang demikian itu, muncullah upaya secara beriringan mempromosikan penghematan energi dan pelestarian bumi. Akhirnya beberapa komunitas masyarakat bahkan Pemerintah menjadi semakin giat meneliti dan mencari energi-energi alternatif yang ramah lingkungan dan mudah diproduksi.

Kesadaran akan hal ini, sebenarnya lebih dari sekadar kebutuhan energi tepat guna. Pada saat yang bersamaan, juga menumbuhkan kembali integritas, etos kerja dan semangat gotong royong masyarakat itu sendiri. Sampah yang tadinya tak berguna menjelma menjadi teknologi yang efisien dan efektif dalam usaha mengurangi dampak kelangkaan sumber energi serta perusakan bumi.

Kesadaran ini menjadi terbentuk, dikarenakan kenyataan yang memang sudah dirasakan bersama. Artinya, setelah mengalami gejala serta permasalahan diatas, kita sebagai makhluk berakal budi, akan cenderung berhasrat untuk memperbaiki keadaan, sebagai bagian dari usaha bertahan hidup.

Dengan kata lain, permasalahan ini dapat dikatakan menjadi sebuah media untuk menghijrahkan sudut pandang pemikiran bahwa manusia berada di luar sistem kerja bumi, menuju pola bahwa manusia merupakan bagian tak terpisahkan dari bumi. Meletakkan posisi menjadi bagian dari bumi adalah bentuk penjagaan kita dari keserakahan dan keangkuhan, akar dari permasalahan sebenarnya.

Hal yang sering kali menjadi perbincangan terkait hal ini adalah bernilai tidaknya sampah bagi manusia. Nilai suatu benda akan habis dan hilang, tentu saja jika manusia merasa bahwa benda tersebut sudah tidak dapat memberikan manfaat untuk hidupnya. Tapi apakah kita pernah bertanya tentang kemungkinan tersebut bersifat relatif dan subjektif.

Oleh karena asumsi ini, manusia terkadang bahkan cenderung membuang jauh-jauh benda yang dianggap tidak berguna.

Jika saja sejenak kita menyempatkan diri untuk berpikir bahwa biaya energi yang digunakan untuk menghasilkan suatu benda, dan kerugian yang ditimbulkan setelah sebuah benda tidak terpakai. Apakah sebanding dengan nilai guna yang diambil oleh manusia dari benda tersebut. Sayangnya, hal tersebut sering luput dari analisa kita.

Kita seolah hanya berpikir bagaimana suatu benda pemenuh kebutuhan dapat tercipta, dan bagaimana membuangnya ketika dianggap sudah tidak memiliki nilai manfaat.

Saatnya Hemat Energi dengan Mengelola Sampah

Di abad ini manusia mana yang tidak menghasilkan sampah dalam kehidupannya. Sampah merupakan produk universal dari segala tingkatan manusia tanpa memandang status sosial dan budaya. Setiap individu ikut berkontibusi dalam mencemari bumi dan menipiskan sumber daya alam dan energi tak terbarukan.

Namun yang sangat perlu direnungkan saat ini adalah hubungan prilaku hemat dengan budaya hidup sehari-hari bangsa ini. Kita sering tidak hemat dan efisien justru pada pekerjaan kecil yang dilakukan. Dengan membuang sampah, kita justru betindak tidak efektif dalam hidup, dan tidak efisien pula. Artinya, membuang sampah merupakan suatu jalan ringkas dan tidak efektif.

Sampah seperti plastik misalnya, yang berbahan bakar minyak bumi, jika terus diproduksi tanpa adanya daur ulang maupun penanganan lain, justru akan merusak bumi. Manusia mengambil segala sesuatu dari alam, kemudian merusak alam dengan apa yang telah diambil.

Pengelolaan sampah mutlak harus dilakukan karena sangat berhubungan dengan penghematan energi dan kelestarian bumi. Banyak yang dapat dilakukan terhadap sampah yang ada, agar energi yang masih terkandung di dalamnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber baru energi kehidupan.

Paling tidak, hal kecil yang dapat dilakukan antara lain mengurangi material yang digunakan dan berpotensi menjadi sampah cepat atau lambat. Dengan kata lain, kurangi produksi sampah.

Alhasil, eksploitasi sumber daya alam berkurang dan beban pencemaran dari sampah juga dapat diminimalisir. Hal lain lagi dengan memanfaatkan kembali benda- benda yang masih dapat digunakan, mengelola dengan daur ulang atau memanfaatkan sampah menjadi barang lain yang bernilai.

Usaha pengelolaan sampah harus dilakukan secara berjamaah. Di balik semua usaha masyarakat, sangat diperlukan juga adanya kebijakan dari pemerintah secara menyeluruh tentang pengelolaan persampahan ditingkat pusat maupun daerah. Bukan hanya kebijakan yang bersifat teknis dan berupa pencegahan saja.

Kebijakan dapat berupa pengaturan clean production dan zero waste pada produksi. Sehingga tercipta produk-produk yang aman dalam kerangka siklus ekologis. Kebijakan pengelolaan sampah juga berarti perilaku menghemat lahan tempat pembuangan akhir (TPA). Lahan terbagi menjadi beberapa bagian dan dapat dipakai secara bergantian sehingga dapat bergantian pula ditutup serta dijadikan kawasan hijau.

Agaknya ini akan menjadi mimpi belaka jika hanya sebagian dari kita yang melakukan pengelolaan sampah. Diperlukan adanya upaya upgrade system nilai dan budaya masyarakat kearah sistem yang lebih teratur dan bervisi. Dengan begitu, pengelolaan sampah menjadi suatu hal yang tidak rumit untuk dilakukan. Energi yang terkandung dalam bumi, termasuk dalam sampah yang kita produksi, sangatlah mungkin dimanfaatkan seoptimal mungkin.