Iklim politik nasional semakin memanas diiringi semakin dekatnya pesta politik terbesar di tahun depan. Para calon anggota legislatif beramai-ramai memposisikan diri yang paling layak untuk dipilih. Sementara dua kubu capres saling berebut simpati masyarakat yang masih bimbang menentukan pilihan.

Kedua kubu saling berebut mendapat dukungan para ulama dan tokoh agama. Di kubu Jokowi, cawapres KH. Ma'ruf Amin lekat dengan identitas keulamaannya sebagai ketua MUI dan juga Rais Aam PBNU. Sementara di kubu Prabowo digadang sebagai satu-satunya calon presiden hasil ijtima' ulama.

Kasus penistaan agama yang menjerat Mantan Gubernur DKI Jakarta (Ahok) membuat warna politik identitas tampaknya semakin larut dalam perkembangan politik nasional. Segala lini media nasional dipenuhi pernyataan dan komentar tokoh politik dengan bernada agamis.

Jika di kubu Prabowo menuding Jokowi sebagai pihak yang mengkriminalisasi ulama, sementara di kubu Jokowi menuding Prabowo tidak berpihak pada ulama. Hal ini dikarenakan Prabowo memilih Sandiaga Uno sebagai cawapres yang bukan dari hasil ijtima' ulama. Tetapi kubu Prabowo menyebut Sandi sebagai santri post-islamisme.

Elite pendukung Prabowo menginginkan debat capres dengan berbahasa Inggris. Lalu  timses Jokowi menginginkan setiap capres mengaji ayat suci Alquran ketika debat nasional. Tampaknya identitas agama semakin masif digunakan dalam urusan politik. Kesucian agama seharusnya tak perlu digadaikan demi kepentingan politik praktis.

Pilpres yang akan datang adalah tanding ulang antara Jokowi melawan Prabowo. Jikalau dalam sepak bola, ini adalah pertandingan El Classico antara Barcelona melawan Real Madrid. Pertandingan adu gengsi raksasa Spanyol dalam mempertahankan eksistensi gengsi yang layak sebagai raja Spanyol.

Layaknya El Classico, harusnya kedua capres mempertontonkan pertandingan yang seru. Tentunya hal ini harus diikuti dengan penyampaian visi dan misi yang menarik kepada masyarakat. Yang sangat disayangkan, dengan waktu yang semakin dekat, kedua tim masih berkutik dengan pernyataan kontroversial lalu saling klarifikasi.

Belum ada wacana solutif dalam merencanakan kemajuan bangsa ke depan. Kedua paslon tampaknya masih mempertontonkan gimmick kepada masyarakat. Jika pendukung Prabowo menggoreng ucapan Jokowi yang menyebut Al-Fatihah dengan logat Jawa jika diperdengarkan Al-Fatekhah. Sementara di kubu Jokowi membalas dengan kesalahan Prabowo dalam menyebut shalawat nabi. 

Duel yang diharapkan sekeren El Classico nyatanya semakin jauh dari harapan. Gorengan issue yang diagungkan tidak jauh dari urusan agama dan ukuran keimanan yang harusnya dalam ranah pribadi.

Visi dan misi tampaknya hanya menjadi pajangan di kantor atau situs KPU. Hal substansial yang harusnya akan menjadi pertimbangan masyarakat untuk memilih nyatanya tenggelam ditelan bumi. Kedua capres dan tim-nya masih mempertontonkan gimmick yang sangat menjengkelkan.

Tontonan yang ditampilkan tidak jauh dari masalah keimanan dan religiusitas. Tarik ulur identitas keagamaan semakin menjadi dan tanpa terkontrol. Tanpa disadari masyarakat ikut terlarut dalam permainan politisasi agama. Diskriminasi antar ras dan agama semakin tampak di negeri Pancasila ini.

Gesekan antar masyarakat tanpa disadari semakin meruncing dalam praktik kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa kejadian yang tidak mengenakkan akhir-akhir ini. Budaya toleransi yang sudah lama tertanam justru semakin luntur.

Rasa kemanusiaan kita telah hilang hanya karena berbeda pilihan politis. Sadarkah kita hal ini telah merusak tatanan kehidupan kita sehari-hari? Jika berbeda pilihan dengan kerabat atau keluarga, kita malah berdebat tentang ukuran identitas agama seorang calon presiden dan malah berujung saling kelahi.

Hal sekecil ini telah merusak hubungan kekerabatan yang sudah lama kita bina. Teringat ucapan Gusdur yang mengatakan, “yang paling penting dari politik adalah kemanusiaan”. Tetapi nasihat Gusdur tampaknya tidak diindahkan oleh segelintir politisi di negara ini.

Politisasi agama yang sudah dalam taraf menjengkelkan ini semakin diagungkan oleh mereka. Tidak ada rasa bersalah atas dampak ini yang telah merusak tatanan kehidupan kebangsaan dan masyarakat. Pergesekan antara masyarakat karena perbedaan identitas semakin terlihat dan berujung disintegrasi.

Kejadian salib nisan kuburan yang dipatahkan oleh oknum yang terjadi akhir-akhir ini, lalu kisah seorang ibu yang menolak ketika ditawari duduk di samping seseorang di bis Transjakarta karena mengira orang yang menawari tersebut berbeda agama. Tanpa disadari, nilai kemanusiaan dan toleransi kita semakin menipis akhir-akhir ini.

Hal seperti ini perlahan akan menghancurkan nasib bangsa kita ke depan. Tidak ingatkah kita susahnya founding fathers berjuang memerdekakan kita dari belenggu penjajahan yang lebih dari 3,5 abad? Lalu lupakah kita bagaimana mereka memproklamirkan negara tanpa melihat identitas ras, agama ataupun kulit tubuh?

Dan tidakkah kita merasa bagaimana perjuangan pahlawan kita mempersatukan elemen bangsa dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai ke pulau Rote dengan bertaruhkan nyawa? Sampai lahirnya organisasi pergerakan nasional Budi Oetomo, Sarekat Islam, Indische Partij dan lain-lain.

Bagaimana Sumpah Pemuda menyatukan elemen bangsa dari berbagai daerah dengan identitas kedaerahan masing-masing lalu menyatukan pemikiran mereka dengan lahirnya Sumpah Pemuda yang merupakan cikal bakal terbentuknya negara. Nafas kebangsaan ini harus terus kita jaga dan kita nafaskan kepada anak cucu kita.

Jangan sampai kita memberi warisan buruk yang membebani generasi masa depan bangsa. Perkuatkan persaudaraan kita sebagai sesama anak bangsa dan terus memperjuangkan cita-cita bangsa ini. Jangan sampai kepentingan politik praktis merusak rasa kemanusiaan dan rasa persaudaraan kita. Gunakanlah akal sehat kita dalam bertindak dan menilai sesuatu. Karena sejatinya agama adalah suatu hal yang suci. 

Untuk itu, jika ingin menggunakan agama dalam urusan politis, tempatkanlah agama sebagai ukuran moral dalam menilai hal yang baik atau buruk yang harus kita hindarkan. Jangan kita jadikan agama sebagai alat untuk memperoleh kekuasaan. Karena jika kita salah dalam menempatkan sesuatu maka hal itu malah akan membuat kerusakan dan kemudharatan yang mempengaruhi tatanan kehidupan kita.