"Berhenti mewariskan konflik dan tidak membuat konflik baru", itulah moto FSAB (Forum Silaturahmi Anak Bangsa), sebuah forum rekonsiliasi para putra-putri tokoh yang pernah terjebak pusaran sejarah berdarah di Indonesia pasca-Kemerdekaan.

Moto tersebut di atas, menurut buku ini, melebihi apa yang pernah dikatakan oleh Nelson Mandela, "to forgive but no forget."

Rekonsiliasi, menurut KBBI, mempunyai pengertian perbuatan memulihkan hubungan persahabatan ke keadaan semula; perbuatan menyelesaikan perbedaan. Sedang Kamus Oxford memberikan makna: an end to a disagreement or conflict with somebody and the start of a good relationship again.

Pada dasarnya rekonsiliasi adalah tindakan terpuji untuk mengampuni yang secara alami ada pada nurani dalam sebuah konflik diri sendiri ataupun pada pihak lainnya yang lebih luas dan dalam.

Konflik adalah sebuah kelaziman dari salah satu sifat dasar dalam hidup. Konflik menunjukkan bahwa semua hal bisa berubah dan akan berubah. Perubahan adalah sebuah kepastian, sebagaimana kehancuran dan kematian.

Kehancuran dan kematian adalah bagian dari perubahan. Konflik memungkinkan adanya regenerasi, yang baru tampil ke depan. Konflik adalah salah satu akses menuju perubahan.

Di dalam buku ini, semuanya dikisahkan dengan gamblang lewat rentet peristiwa-peristiwa konflik yang pernah terjadi di Indonesia pasca-kemerdekaan sebagai akibat berbagai macam pertentangan dan perubahan.

Paparan dalam buku ini didahului oleh prakata, sekapur sirih, tinjauan, prolog, hingga epilog. Termasuk tinjauan yang disampaikan oleh Salahuddin Wahid tentang keteguhan sebuah asa dalam menumbuhkan semangat rekonsiliasi.

Apa yang disampaikan beliau berujung pada karakter dasar rekonsiliasi yang tentunya sudah digeber oleh dunia filsafat. Sebagai contoh, Hegel, filsuf Jerman, melihat gerak sejarah dunia sebagai gerak dialektika (dialektische Bewegung). Artinya, satu hal akan melahirkan lawannya sendiri.

Dialektika menurut Hegel adalah dua hal yang dipertentangkan lalu didamaikan, atau biasa dikenal dengan istilah tesis (pengiyaan), antitesis (pengingkaran), dan sintesis (kesatuan kontradiksi). Kesemuanya bisa berhubungan dan tentu pula bisa bergesekan untuk menghasilkan hal baru yang merupakan gabungan yang lebih baik (Aufhebung).

Proses inilah yang disebut oleh Hegel sebagai sintesis. Gerak dialektika ini terjadi pada ketetapan alam semesta, sosial masyarakat, hingga individu atau diri pribadi.

Seperti yang diuraikan secara menarik dan dramatis dalam buku ini, bahwa banyak anak pelaku kekerasan terhadap korban 1965 merasa ikut bersalah dan lalu melakukan sesuatu yang positif terhadap keluarga korban.

Apa yang disampaikan oleh Salahuddin Wahid adalah prinsip keadilan dan ingatan (zwischen Gerechtigkeit und Gedächtnis), di mana basis ingatan masa lalu adalah dasar utama untuk mencapai usaha dan upaya rekonsiliasi.

Tanpa basis ingatan masa lalu, rekonsiliasi tidak akan mencapai tujuannya. Dalam artian, mendorong semangat dan ruh rekonsiliasi sebagai kebutuhan dasar hidup manusia (Grundbedürfnis).

Basis ingatan masa lalu, kita lalu bisa bergerak mendorong keadilan. Para korban konflik dan perubahan bisa memperoleh keadilan dari penderitaan mereka.

Ingatan masa lalu para putra-putri tokoh yang pernah terjebak pusaran sejarah berdarah di Indonesia tentunya melebihi sindrom hyperthymesiakondisi di mana seseorang memiliki ingatan riwayat hidupnya, atau kejadian yang terjadi di masa lalunya dengan sangat baik.

Mereka, terutama yang menjadi saksi hidup, ingatannya akan melebihi orang-orang dengan hyperthymesia atau Highly Superior Autobiographical Memory (HSAM). Melebihi untuk mengingat hal-hal kecil yang terjadi selama hidupnya.

Upaya rekonsiliasi juga erat hubungannya dengan pengakuan dan distribusi (zwischen Anerkennung und Verteilung). Kumpulan cerita korban, deskripsi, ataupun narasinya haruslah diakui sebagai bagian dari sejarah masyarakat dan bangsa. Ia akan menjadi coretan-coretan tinta sejarah.

Mereka berhak menceritakan kehidupan mereka. Memberi kesempatan kepada mereka untuk melepas tekanan batin dan mental dengan bercerita, mengadu, merajuk, curahan hati, dan sejenisnya yang berhubungan dengan peristiwa kelam dan trauma mereka.

Prinsip selanjutnya adalah reparasi dan pengampunan (zwischen Entschädigung und Verzeihung). Ini memungkinkan korban untuk membangun kembali hidupnya setelah penderitaan di masa lalu, akibat tekanan batin dari konflik yang terjadi.

Usaha membangun kembali atau reparasi harus juga disertai oleh pengampunan dari kedua belah pihak atas apa yang telah terjadi. Tanpa pengampunan, reparasi atau usaha untuk bangkit tidak ada artinya, dan rekonsiliasi tentunya tidak akan terlaksana.

Hal selanjutnya adalah keterlibatan dan harapan (zwischen Beteiligungsparität und Hoffnung). 

Dalam prinsip ini, keseluruhan proses upaya-upaya dan semangat rekonsiliasi haruslah mendorong dan menjadikan semua pihak, baik korban, pelaku atau pihak lainnya agar menjadi individu yang bebas serta selalu terlibat aktif di masyarakat tanpa tekanan apa pun dan dari siapa pun.

Poin selanjutnya adalah masa lalu dan masa depan (zwischen Vergangenheit und Zukunft). Rekonsiliasi merupakan proses berkesinambungan seperti lentingan lembut yang selalu bergerak antara ingatan akan masa lalu dan harapan akan masa depan.

Ke semua prinsip di atas akan berpijak pada satu hal mendasar dan paling hakiki, yakni kebebasan hati (innere Freiheit).

Kebebasan hati di mana seseorang ataupun kelompok yang lebih besar tidak lagi terpaku dengan satu tujuan secara fanatik dan kaku. Ia menjadi terbuka untuk berbagai macam kemungkinan, dan mencoba mengusahakan yang terbaik dari apa yang ada, liberty!

Buku setebal 352 halaman yang diterbitkan PT Kompas Media Nusantara ini juga menceritakan tentang serunya putra-putri tokoh yang dulu bermusuhan secara politik tersebut untuk berkumpul dalam satu organisasi bernama Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB).

Mereka antara lain putra-putri Jenderal A Yani, Jenderal Sutoyo, Jenderal Supardjo, DN Aidit, dan Kartosuwiryo. Rekonsiliasi yang mereka bangun dan perjuangkan akan selalu berusaha dan tetap untuk percaya bahwa perubahan adalah bagian dari keniscayaan hidup (Lebensnotwendigkeit).