Salah jurusan adalah satu hal yang sering dirasakan oleh para mahasiswa. Menurut “Education Psychologist” dari Development Flexibility (IDF), sebanyak 87% mahasiswa di Indonesia merasa salah jurusan.

Meskipun sedang mengalami pandemi, musim Maba (Mahasiswa Baru) tetap memiliki feel tersendiri. Mulai dari bingung mau kuliah di mana, ikut jalur kuliah yang mana, sampai kebingungan jurusan yang dituju.

Ketakutan akan memilih jurusan pun dirasakan oleh anak-anak yang menjalani kuliah (mahasiswa baru). Mereka merasa takut kalau sampai memilih jurusan yang tidak sesuai passion, dan ahirnya tidak menikmati kuliahnya.

Lantas bagaimana seharusnya kita menyikapi fenomena ini? Apakah salah jurusan memang benar-benar menyeramkan?

Jadi gini, Dik. Pertama, perlu diketahui bahwa kuliah memang tidak seindah film cinta-cintaan. Kuliah itu isinya tugas (yang banyak), begadang setiap hari, revisi setiap saat, dan mie instan setiap ahir bulan. Jadi sebelumnya saya ingetin dulu, kalau kuliah itu tidak enak…

Kedua, kita harus tahu bahwa tujuan kuliah adalah mencari ilmu. Bukan kebutuhan konten, apalagi cari jodoh. Jadi yang jomblo tolong dikondisikan niatnya.

Nah, secara logika, orang yang mencari ilmu adalah orang yang belum punya ilmu. Karena itu jika kita belajar di bangku kuliah dan tidak bisa, jangan langsung merasa salah jurusan, ketidakbisaan itu sebuah kewajaran. Namanya juga belajar, pasti tidak langsung paham dong.

Baca Juga: Salah Jurusan

Jadi ketika kita baru masuk kuliah dan merasa kurang menguasai beberapa mata kuliah, ya jangan langsung down, itu sebuah kewajaran bagi manusia normal yang tidak memiliki kekuatan super.

Ibarat belajar naik sepedah, kalau jatuh ya wajar. Tidak mungkin sekali coba langsung bisa. Sama halnya belajar memanah, tidak bisa sekali coba. Semua butuh proses.

Nah, Jika tujuan kuliah adalah mempelajari hal baru, kenapa harus takut salah jurusan? bukankah apa pun jurusannya, kita akan tetap belajar hal baru?

Fenomena yang terjadi adalah ketika mahasiswa tidak bisa menguasai jurusan yang dipilihnya, maka dengan santuy mereka akan mengatakan “saya salah jurusan”, “ini bukan passion saya”, “saya tidak pernah berniat masuk jurusan ini”.

Hmmm benar-benar sebuah ironi.

Namun, jika kalian merasa salah jurusan, maka kalian harus bersyukur. Iya, bersyukurlah, karena salah jurusan adalah sebuah solusi untuk menghadapi masa depan.

Kenapa bisa terjadi? Oke mari kita bahas!

Sebut saja Bambang, ketika sekolah, dia adalah siswa yang sangat menguasai bahasa arab. Ketika kuliah, dia mengambil jurusan bahasa arab. Hasilnya, si Bambang menjadi sarjana yang sangat menguasai bahasa arab (saja).

Selanjutnya sebut saja si Bimbang. Berbeda dengan si Bambang, meskipun dia adalah kembarannya Bambang yang juga sangat menguasai bahasa arab, namun ketika kuliah dia mengambil jurusan olahraga. Dan hasilnya apa? si Bimbang menjadi sarjana olahraga yang jago bahasa arab.

Dalam contoh tersebut bisa kita simpulkan bahwa kalau kita hebat dalam satu bidang dan hanya mengambil jurusan yang kita kuasai, maka kita hanya punya satu kehebatan saja. Mestinya jika kita sudah hebat dalam satu bidang, kita harus belajar bidang lain (yang kita minati) agar kita punya lebih dari satu senjata untuk menghadapi tantangan di masa depan.

Bicara tentang masa depan, ada peribahasa keren dari Zimbabwe “butuh lebih dari sekedar mutiara untuk membuat sebuah kalung”. Yaps, benar sekali, sekumpulan mutiara saja tak akan bisa menjadi kalung, butuh bahan (kemampuan) yang lain.

Memang sih tidak ada salahnya mempertajam suatu keilmuan, namun perlu sampean ketahui, di jaman ini sudah tidak dibutuhkan lagi siapa yang paling hebat, Jaman ini akan dikuasai oleh yang paling beda.

Umpamanya sebuah perusahaan membutuhkan seorang karyawan IT, tentunya semua sarjana IT akan bersaing untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Nah masalahnya, kalau kita seorang sarjana IT dan hanya menguasai IT, maka apa bedanya kita dengan pelamar pekerjaan yang lain?

HRD perusahaan tersebut tentunya mencari yang paling beda, karena itu kita perlu menjadi yang paling beda agar bisa menarik perhatian dan diterima di pekerjaan tersebut.

Pandji pragiwaksono pernah mengatakan “sedikit lebih beda, lebih baik, daripada sedikit lebih baik”. Ingatkah sampean dengan Gangnam Style? Apakah dia terkenal karena pinter joget?

Tentu saja tidak dong. Disaat orang Korea lainnya belajar joget ala K-Pop. Tiba-tiba ada orang gendut, pake kacamata dan joget dengan abstrak. Dan benar saja, dia menjadi terkenal. Bukan karena dia paling hebat tapi karena dia beda.

Poin saya disini adalah sebenarnya salah jurusan itu tidak ada. Anggapan salah jurusan hanyalah sebuah keputusasaan dari orang yang kurang mau belajar lebih dari biasanya. Kalaupun kita merasa salah jurusan, maka itu justru solusi bagi masa depan anda.

Terahir, jangan memilih jurusan karena kamu bisa, tapi pilihlah jurusan karena kamu ingin. Apa pun pilihanmu, tidak ada yang salah dari pilihan tersebut, hatimu saja yang perlu dimantabkan.

Selamat mencoba, tetap semangat, dan tetaplah baik-baik saja.