Tahun 2018 bisa disebut sebagai tahun politik, dimana di tahun ini para calon presiden untuk periode berikutnya mulai mempersiapkan diri dari berbagai jenis kegiatan terutama kampanye. Kampanye ini menyasar seluruh media termasuk media sosial yang sedang berkembang penggunaannya. Media sosial dianggap sebagai media yang efisien dalam berkampanye karena sifatnya yang massive dan mudah digunakan serta arus informasinya yang cukup cepat.

Namun pada prakteknya, banyak oknum yang tidak bertanggung jawab menyebarkan berita-berita yang belum terbukti keabsahannya alias hoax. Kabar hoax ini pun sangat deras menerpa calon presiden kita Joko Widodo-Ma'ruf Amin maupun kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Kesalahan-kesalahan mereka di masa lalu dan disertai tambahan bumbu yang menipu menjadi senjata bagi para lawan politik atau bahkan kubu haters atau untuk meruntuhkan citra salah satu kubu lain di hadapan publik.

Hoax 

Hoax tentu diciptakan bukan tanpa alasan. Hoax di negara kita ini sudah menjadi jurus atau bahkan senjata ampuh untuk menggiring mindset masyarakat agar sependapat at dengan apa yang mereka inginkan.

Kabar hoax sendiri tidak bisa kita hindarkan dalam kehidupan sehari-hari kita. Bahkan di channel nasional yang seharusnya memberikan informasi yang objektif dan absah masih bisa ditemukan berita hoax atau berita yang mendukung salah satu pihak saja.

Mengenai hoax sendiri, sekarang ini banyak media-media yang mengklarifikasi berita-berita hoax tentang pemilu yang sedang hangat di masyarakat. Namun apakah ada maksud lain dari pengklarifikasian berita hoax ini? Apakah ada kepentingan terselubung di dalam pengklarifikasian ini? Melihat banyak sekali petinggi-petinggi media yang merapat ke salah satu kubu capres.

Baca Juga: Vox Hoax Vox Dei

Di kubu Jokowi terdapat setidaknya 3 petinggi media-media ternama di Indonesia. Surya Paloh yang di tahun 2014 menjadi tim sukses Prabowo, di tahun ini memutuskan untuk bergabung bersama kubu Jokowi. Surya Paloh diketahui sebagai pemilik Media Indonesia dan Metro TV. Hary Tanoesoedibjo pemilik MNC Group dengan MNC TV, GTV, iNews, harian koran sindo dan Okezone.com. Erick Thohir yang ditunjuk sebagai ketua tim Kampanye kubu Jokowi-Ma’ruf juga diketahui pemilik Jak TV, radio Gen FM, dan media online Republika Online.

Sebagai Rakyat

Kita sebagai rakyat harus pintar-pintar dalam memilih berita. Pintar-pintar dalam memilih berita di sini berarti kita harus melakukan verifikasi terhadap berita yang kita baca. Apalagi mendapat berita dari FB & Whatsapp yang sering ditemukan berita hoax. Di sosial media sudah bukan hal asing lagi menemukan berita yang belum terbukti kebenarannya. Jadilah pembaca berita yang elegan. Elegan dengan kata lain kita harus bisa memilih media mana yang harus kita baca dan kita percayai. Elegan dalam menanggapi sebuah hoax dengan tidak menggubrisnya atau bahkan melaporkannya, karena hoax semakin kita tanggapi semakin besar peluang berita tersebut tersebar lebih luas.

Kebanyakan orang memilih sumber berita yang sesuai dengan pemikiran mereka. Ketika kita terlalu berpihak terhadap suatu kubu, kita akan melepaskan logika atas kebenaran. Sehingga apapun yang keluar dari sumber tersebut akan selalu kita telan mentah-mentah. Selalu lah belajar mencari tahu kebenaran informasi agar tidak salah menyimpulkan dan menyampaikan hal yang keliru ke orang lain

Kita boleh sangat pro sekali atau bahkan sangat kontra sekali dengan salah satu pihak. Namun hal yang ingin ditekankan disini adalah janganlah kita menyebar hoax di media manapun baik media sosial maupun secara lisan kepada orang orang disekeliling kita. Nilai lah calon presiden dari cara dia memimpin, visi, misi, dan tujuannya menjadi presiden.

Mungkin sedari dulu ketika para presiden memimpin banyak dari kita yang berpikiran “ah, mana janjimu yang ini…….itu……..” memimpin lebih dari 250 juta orang di 17.504 pulau tidaklah mudah. Mungkin memang banyak dari janji mereka yang tidak mereka tepati disaat mereka menjabat namun banyak hal juga yang tidak mereka janjikan namun itu terjadi. Beropini itu bebas namun jangan-lah menyebarkan kebohongan dan kebencian ke sesama.