Kembali ke tempat ini seperti kembali ke masa-masa saat diri ini menjauh dari kehidupan yang menyesakkan dan memuakkan. Meski suasananya banyak yang berubah, tetapi masih tersisa serpihan kenangan masa lalu.

Berdiri di antara satu banjar barisan yang seperti ular, mengantre untuk satu tiket yang akan dibeli. Memperhatikan setiap aktivitas yang dilakukan orang-orang di sekitar, terlihat juga wajah-wajah lelah setelah melakukan aktivitas sehari-harinya.

Hal tersebut seakan menyadarkan diri ini bahwa waktu telah menuju malam, terlihat sinar jingga mulai menipis di ufuk barat. Mungkin karena diri terlalu hanyut dalam lamunan, sehingga tak menyadari waktu yang kian berkurang.

Ketika antrean mulai berkurang, kuperhatikan dengan saksama tempat ini. Stasiun kereta yang bangunannya sudah tua, meski telah ada beberapa bagian yang diperbaiki ternyata masih meninggalkan kesan mendalam pada diriku.

3 tahun lalu, aku sama berdiri mengantre untuk membeli tiket, sebuah tiket perjalanan ke tempat baru yang jauh dari kebisingan kota dan hiruk-pikuk orang yang membuatku penat. Yang membedakan, kini aku berdiri untuk membeli tiket yang akan membawaku kembali ke kota kelahiranku.

Saat ini aku berada di stasiun kereta yang berbeda dengan stasiun kereta yang ada di kota tempatku dibesarkan. Namun, bangunan dan suasananya terasa sama. Ada suara petugas yang memberitahukan jadwal keberangkatan ataupun kedatangan, hilir-mudik orang yang datang dan pergi.

Tak ayal semuanya itu membawa ke masa-masa terendah dalam hidupku, ketika memilih pergi dari kota yang menjadi saksi tumbuh kembangku, karena tak sanggup menanggung beban yang begitu berat untuk kupikul sendiri. Ya, aku memilih dari masalah yang menjerat bukan hanya diriku sendiri tapi juga keluargaku.

Tanpa pamit, aku pergi meninggalkan keluargaku, berharap suatu hari ini nanti ketika aku kembali aku bisa mengembalikan kebahagiaan pada keluarga atau setidaknya mereka takkan hidup terpuruk seperti 3 tahun lalu.

Aku tahu tindakanku sangatlah egois, tapi apa yang bisa aku lakukan ketika semua orang seakan menyudutkanku dan menuduh diriku sebagai satu-satunya orang yang bertanggung jawab akan masalah yang menimpa keluargaku.

Dan stasiun kereta menjadi tujuanku, pada saat aku benar-benar sudah tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Bukannya aku tak mencoba memperbaiki, tetapi setiap usaha yang kulakukan seakan sia-sia saja dan menguap begitu saja tanpa ada sedikit pun penghargaan.

Saksi Bisu Diri yang Terpuruk

Di saat aku telah mendapatkan tiket kereta menuju kota kelahiranku dan duduk nyaman di kursi peron yang tersedia, menunggu kereta yang akan membawaku kembali sekitar satu jam lagi. Aku memejamkan mataku dan mengingat kembali kenangan 3 tahun lalu yang tak pernah hilang dari benakku.

Stasiun kereta menjadi saksi bisu diri ini yang terpuruk begitu dalam, bahkan ketika aku membeli tiket menuju kota lain yang aku pun tak tahu di mana dengan linglung, semuanya masih tergambar jelas dalam ingatan.

Dalam kurun waktu 3 tahun, aku mencoba membenahi diri, menata hati yang telah hancur berkeping-keping. Walau saat ini pun kutahu masih banyak retakan di hatiku, tetapi tekadku untuk kembali telah kuat. Karena aku harus menghadapi masa laluku. Sekelam apa pun masa lalu tersebut, aku harus bisa menghadapinya dengan bijaksana.

Dan ketika aku membuka mata, kulihat orang-orang dengan segala kesibukannya di peron tunggu ini. Ada jam dinding besar yang diletakkan persis di atas kepalaku. Semuanya seakan memberi harapan baru dalam sukmaku, meski aku tak tahu seperti kota kelahiranku sekarang. Tetapi aku selalu yakin pada Kemahakuasaan Tuhan tentang takdir manis untuk setiap hamba-Nya.

Butuh kekuatan yang tak sedikit untuk mengerahkan keberanianku agar aku bisa mengambil keputusan kembali ke kota kelahiran yang meninggalkan jejak luka yang teramat menyakitkan untuk hidupku. Masa-masa bahagiaku dulu menjadi pendorong terkuat untukku agar berani kembali ke kota asalku, meski masih tersisa ketakutan dalam lorong jiwa terdalamku.

Saling Menyapa, Saling Pergi

Ke stasiun kereta bukan sekali dua kali aku datangi, tapi beberapa kali dan setiap datang kemari selalu ada cerita yang berbeda yang kutuang dalam tulisan-tulisan di buku harian usangku. Aku ingat ketika ada nenek tua yang menyapa dan mengajakku berbicara. Meski saat itu aku enggan untuk berbicara dengan orang, tetapi pembawaannya yang bersahaja mampu menghipnotisku untuk ikut bagian dalam ceritanya.

Lain waktu, ada bapak-bapak yang menyapa dan bercerita tentang masalah rumah tangganya. Aku hanya menanggapi dengan anggukan dan sedikit kata-kata yang tak terdengar menyakiti. Meski aku sendiri tak mengerti ke mana arah pembicaraan bapak tersebut yang terlalu banyak ia ceritakan padaku.

Di waktu lainnya, aku betah berlama-lama mengobrol dengan seorang ibu yang membawa anaknya. Kuperhatikan anaknya yang meminta kepada ibunya untuk membelikan ia sebuah kerudung baru. Dan sebuah kebetulan yang mengejutkan aku pun membawa beberapa kerudung yang akan aku bagikan di panti tempatku mengabdi.

Akhirnya kuberikan satu kepada gadis kecil dan terlihat binar matanya yang membuncah. Tak ayal binar senyumannya membuatku menarik kedua sudut bibir untuk menyunggingkan senyuman tulus kepada anak tersebut.

Saling menyapa, lalu kemudian saling pergi itulah yang terjadi ketika aku menunggu kereta. Namun, tak kusesali karena dari semua itu aku banyak belajar tentang kehidupan, sekaligus sedikit demi sedikit mengobati luka hatiku yang telah menganga.

Tepat ketika aku menengok ke samping kananku, ada ibu muda yang tersenyum hangat kepadaku. Aku pun membalas senyumannya dengan ketulusan, dan kurasakan kehangatan menyelimuti hatiku yang telah kubiarkan beku.

Ah, stasiun kereta menjadi tempat yang penuh kenangan untukku. Suatu hari nanti aku akan menceritakan kenangan ini kepada anak cucuku. Saat ini aku hanya perlu mempersiapkan hati untuk kembali ke tempat yang menggoreskan luka yang begitu besar dalam hati dan kehidupanku.