Hectic

Manusia laiknya kepompong yang gagal bermetamorfosis
Melepas dari urat-urat pada kulit kayu serupa mahoni dan besi
Masih saja keluar dan hidup diujung-ujung bedil
Yang menyalak semau rupa

Manusia serupa tumpukan mantra kumpulan cenayang
Hidup pada bisikan dan bunyi-bunyi
Atas nama pertanda atau segala purwarupa yang dibahasakan serampangan
Asal hidup saja
Dan dipandang orang meski berkali-kali ulu hati sudah nyeri ditumbuki ditendangi nyata
Manusia kah?
Atau nisan bernyawa berkeliling membawa nama-nama dan bunga kamboja serta harum mawar dan seruni
Manusia kah?
Dan hidup yang dipaksa
Supaya seolah selalu Brandy


Kerumunan

Kerumunan itu seperti lubang hitam dinyawai akal-akal dan
Nafsu belantara yang ujungnya sampai kala ini masih di ruang trans
Kerumunan menentukan kelanjutan antara satu, dua hingga tiga kalau mereka mau bisa langsung diganti sejuta
Kerumunan dan
Tuhan kalah  


Konsensus Komunal

Kita hanya perlu sedikit
Konsensus komunal
Untuk membuat agama-agama baru
Tanpa perlu transendensi atau
Tanpa perlu susah-susah
Membikin kitab suci
Baru


Desertir, Bukan Martir 

Demi mimpi-mimpi dari paara selir dan pengakuan
Atas nama jasa dan patung serta diorama di pintu kota yang dimandikan mawar dan kasturi  
Darah yang dijual amisnya
Jantungnya, berkelimpahan
Baik-baik saja
Jangankan ditembus klewang
Pun kuda perangnya  
lupa cara berderap

Hei para martir
Berendamlah di telaga yang menguning
Beserta senja berikut mendung yang bertumpuk mengisi
Kita punya langkah sekali lagi untuk memastikan
Apakah kita memang pantas untuk mati bagi yang udara pun benci untuk meniupi
Maka berdiam diri atau kita pura-pura pergi semadi
kelak bila Ia sudah mati
Cukup memasang seringai beberapa detik setelah bangkainya dipulangkan
Merugilah sedikit dengan memasang epitaf berbau wangi menutup busuk bangkainya yang masyhur di kolong jagat


Jualan Binatang

Kerjanya jualan binatang
Tak banyak jenis
Cuma tikus, ular, anjing, kambing dan sebagainya
Kalian anak muda terlalu banyak belajar istilah, sampai lupa
Ia sudah beristri tiga


Serenade Utopia

Ia dan beberapa gerombolannya tiba tepat dipersimpangan lima depan
Berhenti mematung
“ Masih adakah anak-anak nabi yang harus kami bunuh?” serunya
Suara pada rumah sepuluh depa dari arah kiri berbalas
“ Tidak ada lagi, habis sudah mereka “
Maka tak begitu lama, lagi datanglah bunyi suara
Seratus depa dari dalam tanah
“ Jangan pernah mencari stanza selanjutnya, babakan ini sudah ada di tepinya, maju sedikit saja maka jatuhlah kalian terpecah-pecah terhambur”
Ia merenung, membuka lembaran suci miliknya sendiri lalu berkata
“ Lanjutkan!!! “


Pukul Enam Lewat Segalanya

Antara muara dari sungai-sungai hutan, belukar bakau, enau, dan semak
Dan ujung lidahmu yang tak berhenti mengular
Memanggil-manggil keberuntungan dan serupanya datang
Nihil saja karena niskala rupanya
Selepas wangi subuh
Pukul enam lewat segalanya
Jauh-jauh hari hilang sudah masa yang kita buat pelan-pelan dari fragmen yang habis dilahap dikunyah


Brigadir Satu

Besi-besi kuningan, sertifikat batu dan ukiran-ukiran sampai plakat yang
Dipaku di dada, bahu dan samping kepala
Serupa penanda dari prasasti azali
Bahwa semestinya kamu mengabadi untuk kebaikan
Dan telah lama mati bagi godaan


Eselon Lima Setengah

Ini bukan tentang soalan rupa-rupa
Dari nama yang coba diangkat pada jajaran tamu
Yang duduk didepan
Kesemuannya adalah beban dari hidup yang semestinya bukan lagi tanggungan dari diri pribadi
Karena ada banyak air mata dan keringat kecut yang harus kau hisap sempurna sampai kering semua
Kamu semestinya sudah mati jauh-jauh hari sana
Karena sedikit lagi didepan, pada belokan kiri ada tuduhan-tuduhan
Dari tuhan
Jabatan


Arketipe Rindu Memang seperti Ini

Tak ada masa lalu dan luka yang perlu disembunyikan baik-baik
Dan sembilu, luka yang menganga dan menendang perut sampai nyerimu
Berlipat-lipat
Karena elok sudah terpasang di ujung mata dan baunya nelangsa
Bahwa kita bertemu dan dibikin merindu untuk kelak di depan saling meraung, jadi
Jika sembilu itu bukan lagi urusan antara kita dan rindu, maka patutlah kiranya Ia dijadikan alasan klise untuk saling menghabisi


Tuan dari Negeri Kemarin 1

Tuan dari negeri kemarin
Bawa janji-janji
Kenduri dan ramai-ramai
Di mimbar dan pasar-pasar
Sampai ujung tikar yang disulam dari benang-benang darah dan diwarnai serbuk tulang  
Api dan remuk redam
Tuan bawa pada bunyi-bunyi ingkar
Tuan membawa bukannya jalan pada masalah yang harap dibuangkan dari kami
Tuan sudah bawa pergi teman-teman malam nan terbuang kami yang berbagi tuak, tahi sapi dan keringat sama-sama tengik
Maka jadilah, kampung-kampung yang terbuang
Masih tetap akan terpasung, sungsang
Karena tuan  nyatanya hanya mengawang pada mimpi-mimpi soalan surga dan neraka yang pahit
Yang dihantar lewat mimbar, di sinagoge, masjid, gereja, kuil, pasar dan pedagang-pedagang


Tuan dari Negeri Kemarin 2

Segenap warga dari kampung terbuang
Dengan ini memutuskan, tanpa mengingat dan mempertimbangkan
Bahwa suluk-suluk yang mengabarkan tuan, semestinya dibakar dan dihanguskan
Sebab tuan lah muasal dari segenap
Sabda kebencian