Sajak Pemberitahuan

Dengan hormat

Dengan ini saya memberitahukan bahwa

Tanah air kita sudah semakin berkembang


lautan diarungi oleh nelayan

ladang hingga kebun dicocok tanam oleh petani

Sedangkan hasil diletakkan dirumah tetangga


Atas perhatiannya

Maka dengan ini , tanah air telah berkembang untuk siapa?


Apakah untuk reklame

Berdiri tegak disetiap jalan

Menjadi tiang pertarungan

Atau untuk rakyat yang bertelanjang

Mencari pangan di setiap jalan perkampungan


Sekian terima

Kasih yang dimana ?


Harus diletakan

Tanah air

Tanah tahanan

Tanah penderitaan


Demikian dari sajak pemberitahuan


Menyapa jejak pagi

Perjalanan panjang jejak di tanah rantau

Menyisakan surat kabar jejak kaki berumur darah


Kehidupan menjadi merapi

Semua rasa saling mengadu

Pada warna bibir yang berseruh lirih


Tusukan dari beberapa arah

Serontak kabar menjadi jejak tanpa tanda


Tanah air

Aku menyapa dari jejak berumur darah.


Kelahiran

Kini, waktu menjadi wadah kenang pada pelita

Bekas jahitan yang kau sulam warna kehidupan

Kian menjadi kesempurnaan.


Sebentar lagi kau akan melepas kelahiran

Kuharap tak menjadi tempat sandaran

Pada mereka, langit masih memiliki warnah hitam

Bukan lagi biru berlapis putih.


Aku mencoba menyerupai detik nadi

Agar rasamu adalah diriku

Bukan lagi dirinya.


Pada secangkir cerita kopi

Menjadi pertemuan antara bibirmu yang menepi

Saat rindu memangku

Kau tersipu.


Suara pembunuh

Terdengar suara tanpa tubuh

Mengintai di kota tua


Pencuri nyawa

Penyamar suara

Sungguh kejam

Tanpa ada tanda-tanda


Itulah cerita lama


Tanah gersang

Air dedak bebatuan

Hanya mengitung waktu

Nyawa yang hilang


Surat kecil untuk nona sebrang


Saat pena menjadi kaki pada uraian waktu

Terlihat kerut di atas mata yang masih bersenja


Daun yang berjatuhan

Pada pangkuhan tanah

Memberikan cerita alam

Terjerat pada musim kemarau


Tubuh terbentang

Tangis derita


Aku bertanya ?

Kapan perjumpaan

Antara bola mata yang bersenda-sendu

Pada dermaga gemerlip lampu kapal


Nona


Kini aku makin mengerti

Bagaimana rindu yang menepi

Pada secangkir kopi hitam

Merupa waktu

Yang tertunda

Merupa rasa sepi


Sebagaimana pantai kehilangan gelombang

Yang menari riang bersama angin bersepoi-sepoi


Pesan-pesan suara burung camar

Yang takut kerena kelaparan

Memberikan pesan tentang  surat kertas

Yang berlabu di dermaga.


Surat kecil untukmu


Kerinduan senyap tanpa tiada

Yang menjadikan tiada

Pada keramaian-keramaian kota


Tuhan berkata lain

Kupandangi setiap sudut perjumpaan

Berawal dari empat mata


Lalu datang kehadiran sepuluh mata

Dan juga dua puluh mata

Dari perbedaan suku


Semua mengisyaratkan

 perjumpaan merupakan seni kebebasan.


Tuhan berkata lain


Perjumpaan bukan lagi kebebasan

Melainkan pemaksaan moral


Lihatlah asap memanggilmu

Berdansa dalam alunan nada pemabuk kota


Jangan menyalahkan keamanan

Yang menjadi ketakutan

Dan keresahan


Karena burung gagak yang menakutkan

Akan takut pada kelaparan


Redaksi kehidupan membawa cahaya

Yang redup bagi mereka

Tidak mengenal pemabuk kota


Tuhan berkata lain

Untuk perjumpaan kita


 Waktu yang tersisa

Sepanjang kehidupan menyisakan arti sederhana

Mimpi yang  datang menyambutku 

dengan renungan kematian


Apa yang bisa dilakukan

Dari sisa kejadian di kota perantauan ?


Agama, harta, pembunuhan, penzaliman ataukah menyambut kematian.?


Sungguh menjadi tetapan diujung usia

Demi waktu

Dalam tubuh usang

Membisikan malam

Yang pernah hadir lalu berpulang.


Lari karena tanah air beli


Menyaksikan kehidupan di gedung abjad

Rupa yang berbeda terlahir pijakan

Ejaan antara api dan tanah

Memberikan pesan untukmu


Manusia teperangkap di gedung pertunjukan

Seolah jeruji kertas adalah bui para pencuri.


Aku berjalan diruang yang bertuan

Bercakap pada tubuh kedua di rumah kaca


Tiba-tiba datanglah cecak

Membisikan kesaksian

Atas pengintain pada tembok yang gagah

Lalu muncul bayangan hitam

Menyerupai tubuhmu


Keadaan menjadi api yang menjalar

Menghabiskan benda-benda yang berada disekitar


Cukuplah perempuan jalang

Yang merasakan keasingan di tanah sendiri


Bukan mereka (manusia garam) yang asing berlari di kota sebrang

Sehingga lupa bagaimana cara membuat halaman rumah

Pada tanah kelahiran


Katanya,

Tanah air

Pasti jaya

Untuk selama lamanya

Aku pun ikut bernyanyi dengan lagu perlawanan

Tanah air

Pasti beli

Untuk selama-lamanya

Mereka merebut tanahku

Wajah-wajah yang disebut tengkula

Tertawa seperti pemabok diskotik


Petani Larut dengan keringat pertunjukan

Di arena tambak.


Tanah,

 air, 

api

 dan

 udara

Serentak berteriak

Lawan

 Atau aku yang akan goncangkan rumahmu


Syair untuk perempuan dalam kehidupan mimpi


Tertulis namamu ditubuh lautan

Menjelajahi ditepi peristirahatan mentari

Lalu akar-akar yang bersembunyi di bawa muka lautan

Berdatangan untuk melilit.


Wanita malam

Maimunah. Jangan terlalu mengintai

Lansung saja serang dengan akal licikmu

Manusia kursi akan luluh dipangkuhanmu


Paling tidak kau bisa memuaskan hasrat

Untuk mencuri berkas-berkas penting.


Maimunah


Ajarlah malam dengan kain kebebasan

Lari dan cari

Jika ada orang lain

Ajaklah untuk bermain

Menutupi kelicikanmu.


Angin yang menorobos ke lubang kecil

Sehingga darah membeku

Tidak menjadi penghalang

Meracuni manusia kursi.


Maimunah,