Petra Merta

bakaran persembahan Tuhan dulu hangus mewangi
dinanti para pendosa dan dedahnya yang tanpa jeda
kini tiada lagi kemah suci, tabernakel yang berkanopi
Itulah masbah pemberi sakinah hamba-hamba fana

falah adalah kedamaian yang kanaah, menerima adanya
dari madinah-madinah yang bermoyang
tempat-tempat kudus rindui debris-debris kikis
Dari gelontor puja dan puji yang telah berjeruji

bakaran persembahan yang baiduri itu
menyala tanpa ada yang menyapa lagi
kandil Menorah berayun apinya hingga mati
menyapa yang diam dan bermuram durja
memanggil yang pekak telinga
zaman telah berubah

ukupan kudus yang bersetanggi harum mewangi
tiada lagi hiruk pikuk yang menghirupinya
diterbangkan angin pilu kembali ke Tuhannya
mengadulah debu-debu itu karena wanginya
Tuhan, sebutir saja, ku rela


Antilogaritma

analog berjalan selogika bersenja manja
yang menggapitmu dalam ikat erat
lempeng geriginya bergerak membimbingmu
patuhi kaidah yang teratur tak lantur
merdulah orkestra. gesekkan nada usangnya
Membirama diatonis hingga pentatonis

uap air yang berlomba dengan dengus nafasmu
curi kerapatan udara yang tersisa tak laksa
membumbung tinggi hingga sekali
atau sebaliknya jatuh ke bumi yang tanah

sungguh, itu orkestra yang antilogaritma
yang memampatkan nada-nada
hingga segenggaman yang indah
nikmatnya ditelan oleh lugu yang masih biru
yang duduk di pojok-pojok hati

ceria berjungkat-jungkit hingga bangkit
dengan potongan waktu yang tercipta dulu
yang tak terpakai lagi hingga bersejarah  
kini bacalah, dengan semurah-murahnya

begitupun cinta yang antilogaritma
perhitungan simpangan dan cemburunya
menepis logaritmis yang sinis kikis
kaidah analog itu seksi nian rupawan

sesederhana aku cinta kau yang kasmaran itu
atau sebaliknya, kau cinta aku yang tak sederhana
semua terasa sederhana dalam tak sederhana
pagutan retro klepto, sang perampok asmara

yang hilir mudik itu wahai yang berjelita
roh-roh tanpa kekangnya
bebas merasakan lagi keringatnya
merdeka dari cungkup dan ikatannya

begitulah asmara dan bara-baranya
adalah bernas bebas tanpa ras
transaksinya bersahaja
bawa pulang atau tinggalkan


Vintage Weirdo

asimetris berkarakter tanpa tanya
lupakan keseimbangan mengonggong itu
akan terasa menggelayut indah tiada dua
tanpa bising dialektika neraca dan tara
netto brutto tiada peduli lagi
timpangpun tak mengapa, apa adanya
karena itu sudah tercipta lama

mengisi kekosongan,yang ditinggal sempurna
mengisi kehampaan, yang ditinggal riuhnya
genapkan deret ukurnya, yang ditinggal ganjilnya

kuning gading tak terelakkan pesonanya
menang dalam warna-warna yang menjalang
kuning gading yang kusam, tak terkendali lagi
memenangi pergumulan dosa dan doa
wahai yang asimetris, tak usah menggigis
yang jatuh bangun itu adalah ritmis dan rintis


Debil Imbesil

yang datang itu senyum mengambang tak gamang
berandangnya benderang yang menantang petang
menjejakkan kakinya yang tak seberapa
namun, hatinya tak sependek luntang

bangga di hadapan-Nya, seolah pembela esa
yang datang bukan untuk pergi
karena sudah tak ada yang dinanti lagi di dini hari
langkahnya hanya dibimbing sepotong harapan
pandangannya lurus, tiada perlu menoleh lagi

Tuhan inilah aku yang debil imbesil
dari tangan-tangan-Mu yang memberi aroma
Tuhan Kau meringkasku dalam debil imbesil
hingga tak ada yang kurasakan lagi
hanya aroma Tangan-Mu yang cantik memeram
hingga aku hanya aku
aku yang Kau-mu
Kau yang aku-Mu


Pawaka Montana

menjilat-jilatlah lidah iblisnya yang semerah amarahmu itu
menggerogoti setiap hirup berkah dari nirwana
kinanti yang tak usah ditembangkan lagi
hanya setumpuk amuk yang tak punya pulasara

rindang yang tiada lagi mendendang untuk memulang
pawaka montana lecut sejuk-sejuk yang tak berjeluk
panasnya sebatas luka yang hilang ingatan
tentang rindangnya titian montana

mana dahulu si hijau yang tak uju
mana dahulu hiliran tirta yang tak pernah serakah
mana dahulu semilir bayu yang tak pernah layu
mana dahulu hulu rindu yang tak pernah bersembilu
hancurlah yang rindang tinggal kerontang
hancurlah yang terpandang hingga tak berdendang

danawa adalah raksasa keserakahan yang sorak-sorai
merampas hijau daun yang sudah kejang merejang
satu pinta dari pawaka montana, padamkan dengan sejuk
agar anak cucu merindui rembus-rembus mahkotanya


Danda Arupako

rupa itu adalah gatal yang haus daulat
Penguasa segala asa, untuk terjadi
tentang kelakar yang mekar
dengan harta dan hiasan-hiasan yang tiada dua
membocor segala kepang kerahasiaan

Mekarlah yang tak terlena
Mekarlah semua keteguhan

beku yang sesungguhnya cair
siap berhanyut lecut
hablur yang sesungguhnya cair
siap lulur segala lacur
sublim yang sesungguhnya cair
siap simsalabim segala alim

inilah danda arupako
penumbuk segala bentuk
agar engkau hancur lebur