Teknologi semakin berkembang maju, membuat segala hal menjadi lebih mudah. Apa yang tidak diketahui kini bisa diketahui tanpa diinginkan. Teknologi menjadi asupan sehari-hari yang tidak dapat lepas dari masyarakat modern ini. Dengan cara berpikir instan, semua hal diserap dan diakui kebenarannya. 

Di Indonesia, toleransi yang selama ini dijaga dengan kuat semakin pudar akibat rongrongan kepentingan-kepentingan pribadi di baliknya. Kebencian semakin sering dipertontonkan dalam skala harian dan menjadi hal yang wajib untuk ada dalam diri manusia itu sendiri. Kekuasaan yang berada di balik layar mengatur sedemikian rupa wajah dalam masyarakat.

Indonesia terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama. Agama yang diakui hanya 6, namun dalam masyarakat ada ratusan agama yang tidak tampak tetapi ada. Agama yang diam menjadi bencana dalam suara manusia. 

Agama hadir dalam diri seseorang bukan karena paksaan, tetapi karena adanya sebuah keinginan untuk menghadirkannya. Setiap orang memiliki perasaannya masing-masing, keyakinan dan hati nuraninya yang tidak dapat ditiadakan. 

Mengapa kita marah, membenci, dan tidak ingin ada perbedaan-perbedaan, yang sebenarnya hanya urusan simbolik belaka? Padahal, jika kita melihat lagi ke dalam hati nurani kita sendiri, ada perasaan tersembunyi untuk tidak membenci atau melukai orang lain, sebuah perasaan yang, sebaliknya, ingin menolong orang lain.

Akhir-akhir ini, banyak kasus intoleransi dan ekstremisme yang terjadi di Indonesia. Mulai dari kasus penyerangan Gereja St Lidwina di Yogyakarta, kasus pengusiran biksu dari tempat tinggalnya di Tangerang, dan kasus-kasus sejenis. Kasus penyerangan Gereja St Lidwina belum diklarifikasi motifnya karena pelaku masih dalam masa kritis di rumah sakit. 

Sementara itu, kasus pengusiran biksu dari tempat tinggalnya banyak menuai protes dalam masyarakat. Masyarakat banyak mengklaim soal tidak adanya hak fundamental yang diberikan kepada biksu tersebut, yakni kebebasan dalam menjalankan ibadah menurut keyakinan masing-masing individu. 

Menurut penulis, kedua kasus di atas adalah sebuah contoh intoleransi yang sangat memudar dalam masyarakat, padahal dalam perspektif sosio-kultural maupun legal, masyarakat Indonesia bebas melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan mereka, di mana pun mereka ingin beribadah, di mana pun mereka mengingat Tuhan. 

Jika ada pertanyaan untuk diri kita sendiri, “Apakah saya salah ketika saya ingin mengingat apa yang saya yakini?” atau “Apakah saya salah ketika saya beribadah kepada apa yang saya yakini?” maka mungkin pertanyaan semacam ini akan sedikit membantu perenungan kita. 

Mengapa kita tidak seharusnya membenci dan melukai keyakinan orang lain? Sederhananya, karena kita sendiri tidak ingin keyakinan kita disalahkan; atau dengan kata lain, semua keyakinan tidak ada salahnya.

Keberagaman itu indah, karena dengan demikian kita dapat saling melengkapi, menghargai, menghormati, dan mengerti arti persamaan. Kita dilahirkan berbeda-beda. 

Ada banyak faktor yang membuat perbedaan dalam diri seseorang, misalnya: lingkungan sekitar, pola hidup, kerabat, dan lain sebagainya. Perbedaan muncul dari pandangan akan suatu hal yang berbeda, pemahaman dari masing-masing manusia itu sendiri. 

Setiap orang tidak salah maupun benar dalam hal keyakinannya, karena apa yang salah menurut saya belum tentu salah menurut orang lain, dan begitu pula sebaliknya. 

Hal yang paling mengada atau benar adalah hal yang selaras dengan apa yang ada di dunia ini, hal yang paling natural atau original. Misalnya, tidak menebang hutan sembarangan karena hutan adalah penyokong utama dalam hidup manusia. Yang seperti ini biasanya dinamai hukum alam, dan tentu saja, menafikan keyakinan orang lain karena alasan tertentu sama sekali bukan hukum alam yang absolut nilai kebenarannya.

Populasi manusia yang semakin meningkat menyebabkan zaman yang semakin berkembang maju. Manusia semakin menemukan temuan-temuan baru yang membantu keberlangsungan hidup setiap individu dan masyarakat. 

Teknologi awalnya membantu manusia, namun kemajuan teknologi akhirnya malah membuat manusia kehilangan makna dirinya sendiri. Setiap hal baru yang muncul selalu menuai pro dan kontra, salah satunya adalah teknologi. 

Dulunya, masyarakat sulit untuk menjalin komunikasi jika berada dalam jarak yang tidak dapat ditempuh oleh kaki, namun sekarang terdapat teknologi bernama ponsel yang mempermudah komunikasi jarak jauh antar manusia. Ponsel sendiri berkembang terus, dan sampai sekarang telah memiliki beragam aplikasi untuk memanjakan atau menghibur individu, misalnya Instagram, Facebook, Twitter, dan aplikasi lainnya.

Applikasi hiburan yang beredar sekarang ini memberikan kebebasan kepada setiap individu untuk berpendapat, berbagi kasih, dan saling mengenal di publik dalam konteks dunia maya. Hampir setiap individu memiliki akun mereka masing-masing dalam aplikasi hiburan ini. 

Berita apa pun, mulai dari yang masih hangat sampai berita kesehatan, semua terkandung dalam aplikasi hiburan ini. Dan juga, hampir setiap hari, bahkan setiap saat, aplikasi ini menjadi tontonan masyarakat. 

Masyarakat semakin terbiasa dengan berita-berita yang hadir dalam aplikasi tersebut, yang pada gilirannya membuat masyarakat semakin tidak berpikir panjang ketika ada berita yang tidak sesuai dengan kebenaran yang ada, atau hoax

Masyarakat hanya bisa menerima dan bahkan meyakininya. Hoax-hoax dalam bentuk ujaran kebencian membuat masyarakat semakin gemar berpikir pendek dan menjadi sangat mudah untuk diprovokasi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Kebencian-kebencian yang ada dalam masyarakat tentunya datang dari ketidaktahuan masyarakat itu sendiri. Kebencian satu agama kepada agama lain bukanlah hal yang pantas ada, karena jika kita membenci agama atau keyakinan orang lain, hal itu mencerminkan ketiadaan agama atau keyakinan yang kita miliki. 

Keyakinan kita seharusnya sesuai dengan hati nurani kita, sama sekali tidak tercemar oleh bias-bias masyarakat banyak. Awalnya, kebencian itu muncul dari ajakan oknum-oknum yang menyebarkan kebencian untuk kepentingannya sendiri. 

Masyarakat yang tidak berpikir kritis semakin terjebak dalam ketidaktahuan yang membuat mereka ikut membenci agama lain sesuai dengan hasutan oknum yang mereka yakini. Kebencian yang dilontarkan oleh suatu agama kepada agama lainnya menuai protes balasan dari pemeluk agama tersebut, yang juga memiliki sumbu pendek dan tidak berpikir panjang. 

Kebencian yang dibalas dengan kebencian bagaikan api ditambah api yang menimbulkan kebakaran besar. Konten kebencian yang menghampiri kita bagaikan api yang memang sulit untuk diredakan. 

Namun, ketika dihadapkan dengan kepala dingin dan keyakinan untuk dapat menyelesaikan masalah, tidak jarang benang kusut ketidaktahuan dalam masyarakat akan terurai, dan individu pada akhirnya dapat menyadari kesalahan yang telah diperbuat.

Pemerintah telah melakukan beberapa tindakan untuk mencegah dan mengatasi beredarnya berita hoax, cybercrime, dan ujaran kebencian yang telah banyak beredar dalam dunia maya. 

Salah satu contohnya adalah adanya satuan khusus yang dibentuk pemerintah untuk meninjau pergerakan dalam dunia maya. Pihak aplikasi sendiri juga telah memberikan kewenangan kepada setiap pengguna aplikasi untuk melaporkan akun yang bernuansa provokatif. 

Seiring dengan pencegahan dan penanggulangan oleh pemerintah, masyarakat sendiri juga harus menjadi lebih bijak dalam mencerna permasalahan yang ada, tidak bersumbu pendek melainkan selalu berpikir kritis.

Menurut penulis, pendidikan adalah kunci agar masyarakat tidak lagi mudah diadu domba oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. 

Pemikiran kritis dan banyak membaca menjadi acuan kebenaran. Tidak asal membaca berita, namun menyaring dan mendiskusikan masalah dengan pihak-pihak yang kompeten, menjadi salah satu solusinya. Turut membantu membuka simpul ketidaktahuan masyarakat adalah poin penting untuk menangkal ujaran kebencian yang terus merebak. 

Hal terakhir yang ingin penulis sampaikan adalah: sadarilah kebencian yang sebenarnya tidak ada dalam hati nurani setiap orang. Kita semua ingin membantu sesama, hidup berdampingan dengan keyakinan akan perbedaan yang telah ada, serta membentuk kebijaksanaan bersama. Dengan demikian, hidup yang berjalan dengan hati damai dan tenang akan bisa kita nikmati bersama-sama.