Ketika melihat kertas putih kosong, tanpa terasa bayangan masa lalu tiba-tiba muncul, kemudian tersibak nyata di depan mata. Masa itu ibarat beberapa potongan fragmen sebuah tunas baru, layaknya seorang anak kecil yang sedang asyik dengan mainan baru, sebuah buku, dengan sampul putih, sarat akan ilmu pengetahuan dan seni.

Majalah Bobo, buku cerita bergambar serial Donald Duck, Doraemon, Dragon Ball ataupun Mickey Mouse, adalah beberapa buku yang cukup populer di kalangan anak-anak kala itu. Tidak hanya menambah wawasan pengetahuan ataupun mengenalkan karya seni yang indah tetapi juga menampilkan kualitas kertas terbaik, baik cover maupun isi, dan dikemas dengan cara yang menarik pula.

Mungkin hal inilah untuk pertama kalinya, melalui media kertas, ilmu baca tulis dan karya seni dikenal sangat baik oleh anak negeri.

Lambat laun kertas bukan hanya sebagai media baca tulis dan pertukaran informasi, akan tetapi berubah fungsi menjadi kebutuhan dan menambah kenyamanan manusia. Contohnya adalah struck belanja, paper bag, tisu, pembungkus makanan, surat-surat berharga, kotak obat-obatan, dan lain sebagainya.

Disini, peran kertas bukan hanya pelengkap dan kebutuhan namun juga sebagai penyumbang devisa terbesar bagi negara. Menurut Dirjen Industri Agro, Panggah Susanto menyatakan sampai September 2016, devisa yang didapat dari ekspor kertas mencapai US$ 3,79 miliar. Industri kertas menempati peringkat ke-7 sebagai penyumbang devisa terbesar dari sektor non-migas. Sebuah angka yang sangat fantastis.

Kementrian Perindustrian menyatakan bahwa jumlah kapasitas terpasang industri pulp (bubur kertas) nasional tahun ini akan mencapai 10,43 juta ton. Angka itu melonjak 31,52 persen dari 7,93 juta ton pada tahun 2016 lalu. Direktur Eksekutif Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Liana Bratasida mengatakan, pada tingkat dunia, industri pulp Indonesia berada pada peringkat 10, sementara kertas meraih rangking ke-6.

Untuk tingkat Asia, industri pulp dan kertas menduduki peringkat ke-3, sementara di tingkat ASEAN, Indonesia paling dominan. Hal ini menandakan bahwa pertumbuhan industri kertas yang semakin tinggi disebabkan oleh banyaknya permintaan pasar pada kebutuhan kertas pula. 

Di zaman sekarang, era digital, ternyata sebagian peran kertas sudah diambil alih oleh media internet. Mulai dari media cetak yang bisa dilihat melalui media online, buku yang berubah menjadi format digital atau ebook, surat yang tergantikan dengan email maupun kamus bahasa yang bisa dicari melalui online juga.

Namun, bila melihat data lonjakan pertumbuhan industri kertas yang cukup pesat, ditambah dengan peringkatnya yang masih tinggi, tampaknya peran teknologi digital, dalam hal ini media internet, dinilai masih belum mampu menggeser semua posisi kertas, walaupun sebagian telah diambil tempatnya. Logikanya seperti ini, manusia pasti membutuhkan kertas walaupun bukan sebagai media informasi ataupun hanya sebilah struck belanja.

Tentunya hal ini berdasarkan fakta. Ada batas-batas tertentu dimana peran kertas sangat vital. Batasan inilah yang sifatnya mampu membuat kertas, unggul jauh, diatas rata-rata. Salah satunya adalah sifatnya yang fleksibel atau mungkin juga aroma khasnya, baik yang masih baru maupun yang lama.

Pencinta karya sastra klasik pasti faham soal ini. Semakin lama maka aromanya semakin terasa kental. Opini ini tidak menghakimi namun faktanya real. Walaupun unggul, namun  penggunaannya harus tepat dan sesuai, se-efektif mungkin dan efisien.

Bila melihat fakta di atas yang menyatakan bahwa kertas berperan dalam penyumbang devisa terbesar bagi negara, tentunya hal ini sangat menggembirakan. Akan tetapi, perlu diingat bahwa semakin tinggi angka kebutuhan suatu kertas di masyarakat maka semakin banyak kertas yang akan diproduksi, dan semakin banyak pula batang pohon yang ditebang.

Untuk setiap ton kertas dibutuhkan sekitar 17 pohon hidup. Dalam sehari, rata-rata jutaan lembar kertas digunakan masyarakat, yang artinya jutaan pohon ditebang untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Bila tidak dilakukan dengan prosedur yang bijak, dampaknya pasti merusak alam dan lingkungan.

Masih segar dalam ingatan kita, di awal tahun 2017, berdasarkan data media Harian Analisa online, mengatakan bahwa banjir menerjang kawasan Sumatera Utara, Tapanuli Selatan serta daerah lainnya di negeri ini. 

Tidak hanya itu, tanah longsor juga menutup ruas jalan lintas Sumatera Sembahe-Berastagi yang menuju kawasan wisata yang ada di Tanah Karo, mengakibatkan kemacetan panjang. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah rusaknya alam, gundulnya hutan yang tidak hanya membawa dampak kerugian materi tetapi juga berpotensi menimbulkan korban jiwa.

Data laju kerusakan hutan (deforetasi) tahun 2006-2009 yang dirilis oleh Kementrian Kehutanan (Kemhut), mencapai 1,7 juta hektare per tahun. Tentunya faktor penyebab kerusakan hutan di negara ini, juga disebabkan berbagai hal.

Penebangan liar, kebakaran hutan, pembukaan lahan pertanian untuk penduduk, pemanfaatan kayu untuk keperluan berbagai furniture dan masih banyak lagi. Semua ini harus dihentikan. Caranya dengan menggaungkan kembali konsep konservasi, menerapkannya, kemudian kembali merawat alam.

Konservasi adalah pemakaian dan perlindungan sumber daya-sumber daya alam secara berkelanjutan meliputi tanaman (hutan), binatang, deposit-deposit mineral, tanah, air bersih dan bahan bakar fosil seperti batu bara, petroleum dan gas-gas alam (Abdullah, 2010). Konservasi dari segi ekologi merupakan alokasi sumber daya alam untuk sekarang dan masa yang akan datang (Utami, 2008).

Dalam arti sempit, konservasi di lingkungan alam sekitar, bisa dimaknai dengan melakukan kegiatan secara mandiri antara lain menanam bibit pohon, merawat lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan atau bisa juga mendaur ulang kertas sehingga berdaya guna kembali, dan menggunakan kertas dengan efektif.

Sumber: https://pxhere.com/id/photo/1099649

Sebenarnya banyak cara untuk menghemat penggunaan kertas, dengan tujuan untuk melestarikan alam. Seperti salah satu makna konservasi, pemakaian dan perlindungan alam secara berkelanjutan, maka definisi ini cocok untuk diterapkan pada kertas.

Sisa-sisa kertas yang sudah dipakai, dapat kreasikan kembali menjadi sebuah karya seni. Mulai dari membuat origami, menciptakan karya seni dari kertas berupa bangun ruang, dua atau tiga dimensi, memanfaatkan sisi kertas yang tidak terpakai untuk keperluan menulis atau menggambar, membuat scrapbook, dan masih banyak lagi.

Gunakanlah kertas dengan bijak, meskipun kertas termasuk bahan yang mudah didaur ulang ataupun bisa terurai oleh alam, namun semua itu butuh waktu, butuh proses yang tidak sebentar. Bila semuanya dilakukan dengan hati, tekun dan kreatif, maka karya seni tersebut akan berbuah manis, bernilai ekonomi dengan harga jual tinggi. 

Sumber: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Image-2D_and_3D_modulor_Origami.jpg

Sumber: https://www.flickr.com/photos/[email protected]/16001456256

Oleh karena itu, pentingnya kesadaran akan lingkungan, dimana manusia sangat tergantung pada lingkungan. Mulai dari diri sendiri, menerapkan pendidikan konservasi menjadi suatu kebutuhan, sehingga sadar akan lingkungan sehat dan lestari.

Bersama pemerintah berupaya mengatasi masalah lingkungan dan juga menerapkan pendidikan konservasi ke masyarakat yang sifatnya eduktif dan persuasif, dengan harapan, munculnya sadar lingkungan dan kembali merawat alam, menjaga alam untuk anak cucu kita.