Kemanusiaan merupakan pembahasan yang sangat vital dan rentan di dunia ini. Pernyataan ini sangat masuk akal, karena ketidakseimbangan dalam hal ini bisa menimbulkan permasalahan yang berujung pada penindasan dan kekerasan. Penyebab dari munculnya permasalahan ini antara lain adalah perbedaan-perbedaan antar individu, perilaku agresi, kesehatan mental, dan perselisihan pendapat antar kelompok.

Sejak pertama kali sejarah dicatat, konflik-konflik selalu menyertai peradaban manusia, bahkan terus meningkat hingga sekarang. Mulai dari yang paling kecil, berupa perselisihan-perselisihan antar individu, hingga konflik yang besar. Konflik yang paling besar adalah terjadinya konflik antar kelompok sehingga menimbulkan krisis kemanusiaan di antara mereka. Konflik besar ini tanpa ampun telah menyita puluhan juta nyawa di seluruh dunia.

Semakin berkembangnya peradaban manusia, tak serta merta konflik di antara mereka menyusut. Dalam beberapa dekade terakhir konflik di antara mereka tak kunjung menyusut, melainkan justru semakin memuncak. Sebut saja yang baru-baru ini, seperti tragedi kemanusiaan di Rohigya, perang Yaman, Somalia, dan masih banyak lagi. Bahkan semakin berkembangnya teknologi justru semakin memudahkan suatu kelompok untuk menghancurkan kelompok lain, dalam jangkauan yang lebih luas dan melibatkan lebih banyak orang.

Konflik seperti ini akan terus berlanjut kecuali muncul kesadaran di antara mereka tentang pentingnya makna kemanusiaan. Pada dasarnya penyebab dari konflik tersebut adalah sifat angkuh dan serakah yang tertanam dalam jiwa mereka. Sehingga solusi utama dalam permasalahan ini adalah penanaman pemahaman tentang makna toleransi di antara manusia.

Lalu siapakah yang sebaiknya menuntun manusia agar bisa lebih toleran? Dalam hal ini diperlukan seseorang yang berpengetahuan luas serta memiliki sifat kasih sayang di antara sesama manusia. Tidak sembarang orang atau tokoh masyarakat yang bisa mengemban peran ini. Sebab di luar sana banyak orang yang memiliki cakrawala pengetahuan yang luas, tetapi tidak banyak dari mereka memiliki sifat kasih sayang kepada sesama manusia. Sehingga orang yang paling pantas mengemban peran ini adalah para pemuka agama atau agamawan.

Setiap agama samawi pasti tidak menginginkan terjadinya kekerasan dan konflik di antara umat manusia. Hal ini sejalan dengan pemahaman agama bahwa di samping hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan kasih sayang di antara sesama manusia merupakan suatu keharusan, sekalipun berbeda latar belakangnya. Agama selalu menuntun penganutnya agar selalu ramah dan menghargai orang lain, karena sejatinya mereka sama-sama makhluk ciptaan Tuhan.

Lalu kenapa masih banyak terjadi konflik di dunia ini? Bahkan di antara konflik tersebut banyak yang beralasan untuk menegakkan agama mereka masing-masing? Alasan utama terjadinya konflik semacam ini adalah tidak adanya kecocokan antara pemahaman mereka dan pemahaman yang diajarkan oleh agama mereka. Selain itu, jika terjadi ketidaksesuaian antara ajaran agama dan nafsu manusia, terkadang manusia lebih memilih mengikuti hawa nafsunya tanpa mengetahui bahwa itu salah.

Masih segar di ingatan kita tentang konflik etnis Rohingya di provinsi Rakhine, Myanmar. Konflik ini awalnya disebabkan faktor ekonomi, lalu merambat ke faktor-faktor lain, seperti politik dan agama. Provinsi Rakhine memiliki sumber daya melimpah tetapi kekayaan mereka di eksploitasi sedangkan mereka tetap tertinggal dalam kemiskinan. Mereka merasa di eksploitasi secara ekonomi dan disingkirkan secara politis oleh pemerintah pusat, yang mana didominasi etnis Burma. Ketidakpuasan itu membuat mayoritas etnis Rohingya berseberangan dengan pemerintah pusat yang berkuasa.

Konflik berujung pada operasi yang dilakukan Militer dengan memerangi etnis Rohingya. Akibat dari konflik itu sebanyak 6000 orang tewas dalam konflik Rohingya, bahkan sumber lain mengatakan korban mencapai lebih dari 9000 orang. Selain itu lebih dari 600.000 orang mengungsikan diri ke Bangladesh. Angka tersebut berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dokter lintas batas (MSF). Dengan angka itu, MSF menyimpulkan bahwa operasi yang dilakukan Militer tersebut cukup brutal, bahkan memiliki alasan sangat kuat untuk diajukan ke Pengadilan Pidana Internasional (ICC).

Selain itu, tragedi yang paling terkenal di Indonesia tentunya adalah Tragedi G30S PKI. Tragedi ini awalnya disebabkan oleh faktor politik yaitu kegagalan PKI pada era Demokrasi Terpimpin. Selanjutnya tragedi ini merambat ke ranah ekonomi, sosial dan budaya, hingga agama. Tragedi ini berujung pada pembantaian tujuh perwira tinggi militer Indonesia dalam usaha kudeta yang dilakukan PKI. Tidak hanya itu, jumlah korban akibat tragedi itu mencapai ratusan ribu orang. Sumber lain menjelaskan bahwa jumlah korban mencapai jutaan orang. Tindakan yang sungguh sangat tidak manusiawi.

Berdasarkan beberapa tragedi tersebut, kita mengetahui bahwa penyebab utama dari konflik antara manusia adalah kurangnya toleransi di antara sesama manusia. Ketika suatu kelompok menginginkan jabatan, kekayaan atau pamor, mereka lebih memilih memerangi sebuah kelompok demi memuaskan ambisi mereka. Ironisnya mereka justru lebih sering menyerang orang-orang yang lemah dan tak berdosa. Sehingga banyak dari manusia menjadi korban pembantaian secara dzalim tanpa tahu apa salah mereka.

Dalam keadaan inilah agama berperan. Agama datang kepada umat manusia dengan membawa kasih sayang. Apapun agamanya, kasih sayang selalu dibawa dalam setiap ajaran-ajarannya. Karena memang inti dari diturunkannya agama adalah untuk mendidik manusia menjadi pengasih kepada sesama, di samping beribadah kepada Tuhan. Kasih sayang tersebut lalu diajarkan melalui lisan dan perbuatan pemuka-pemuka agama mereka.

Agama memiliki dua poin pokok dalam ajarannya. Selain mengajarkan tentang menyembah Tuhan, agama juga membimbing manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Dua poin tersebut tidak bisa dipisahkan satu sama lain, melainkan keduanya saling melengkapi. Keduanya sudah menjadi satu kesatuan agar bisa sempurna. Jika seseorang meninggalkan salah satunya, maka tidak sempurna agama yang dijalankan oleh orang tersebut.

Sebagai pengemban amanah Tuhan, tugas pemuka agama adalah mengajak manusia untuk mendalami agama secara sempurna. Di satu sisi, pemuka agama memimpin manusia dalam menyembah Tuhan. Di sisi lain, pemuka agama mengajarkan agar selalu bersikap toleran dan kasih sayang kepada sesama.

Kejernihan hati dan pikiran dibutuhkan dalam hal seperti ini. Tanpa hati dan pikiran yang jernih, manusia akan dikendalikan oleh hawa nafsu dan ambisi mereka. Selain itu mereka juga dituntut untuk menghargai urusan orang lain sebagaimana mereka menghargai urusan mereka sendiri. Sehingga pantas disebutkan di sini jika para pemuka agamalah yang pantas mengemban peran vital ini. Sebab jika tugas ini diemban oleh sembarang orang, terlebih mereka yang mementingkan diri mereka daripada orang lain, maka hal itu hanya akan menambah besar konflik di antara mereka.

Para pemuka agama hendaknya mengajarkan tentang arti persaudaraan dan toleransi antara sesama manusia. Mereka dituntut mengajarkan kasih sayang kepada sesama disertai dengan memberi contoh teladan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dari pengajaran seperti ini, menghasilkan manusia yang selalu menjaga hubungan persaudaraan dan menjaga toleransi antara sesama manusia, tanpa memperdulikan ras, suku, dan agamanya.

Jika nantinya ajaran agama dapat diimplementasikan secara sempurna dalam kehidupan manusia, maka akan menghasilkan kehidupan yang makmur dan tenteram. Sehingga tidak ada lagi manusia yang dirampas kehidupannya secara dzalim. Maka dari itu, pemuka agama, sekaligus sebagai bagian dari agen ofchange, hendaklah memahami tentang tugas yang diembannya, sehingga tujuan tersebut dapat benar-benar tercapai secara sempurna.

Munculnya berbagai konflik di dunia ini disebabkan oleh ketidakmampuan manusia bertoleransi kepada sesama manusia.