Melihat kondisi Real Madrid saat ini tentunya sangat mengherankan dengan statusnya sebagai juara Eropa 3 tahun berturut-turut. Real Madrid seolah-olah kehilangan tajinya sebagai salah satu raksasa Eropa sejak memasuki musim kompetisi 2018/2019. Tak bisa dipungkiri, kehilangan Zidane di kursi pelatih dan hengkangnya Cristiano Ronaldo ke Juventus memang menjadi penyebab utama jebloknya performa Real Madrid pada musim ini.

Julen Lopetegui yang menggantikan Zidane nyatanya justru malah "merusak" Real Madrid. Trophy Piala Super Eropa yang sudah didapat pada 2 tahun sebelumnya bersama Zidane, kali ini kandas setelah Real Madrid dikandaskan rival sekota mereka Atletico Madrid yang merupakan kampiun Europa League dengan skor 4-2 pada Agustus 2018 silam. 

Memainkan kompetisi La Liga tanpa Ronaldo dan Zidane lagi memang terasa berat bagi Madrid. Puncaknya adalah ketika Madrid diremukkan dengan skor 5-1 oleh sang rival abadi, Barcelona dalam laga elClassico Oktober silamAlhasil madrid pun sempat terdampar di posisi 9 klasemen la LigaAlih-alih mendekat ke puncak klasemen, Madrid justru lebih dekat dengan zona degradasi. 

Di bawah Lopetegui, Madrid betul-betul tampak seperti tim tanpa identitas dan tidak punya pola bermain yang jelas. Di Liga Champion pun Madrid harus sempat merasakan kekalahan dari tim yang tidak diunggulkan sama sekali, CSKA Moscow. Walaupun mengakhiri fase group sebagai juara group, namun jelas sekali banyak hal yang harus hilang dari permainan Madrid selepas Zidane pergi.

Terdampar di posisi 9 tentunya bukan hal bagus untuk tim sebesar Real Madrid. Hingga akhirnya mereka melakukan pergantian pelatih. Julen Lopetegui dicopot dari jabatannya sebagai entrenador Madrid digantikan oleh Santiago Solari sebagai care taker nya.

Awal-awal masa kepelatihan Solari, tampak Real Madrid seperti mulai menemukan kembali kepercayaan diri mereka. 4 pertandingan mereka lalui dengan kemenangan. Hingga akhirnya Solari diangkat menjadi pelatih tetap Real Madrid. Namun, Solari bukanlah Zidane. Memang bisa dikatakan Solari lebih baik dibandingkan Lopetegui. 

Tapi, untuk melatih tim sebesar Real Madrid, Solari sepertinya memang belum cukup matang. Beberapa kali kekalahan masih dirasakan Real Madrid. Bahkan dengan skor yang cukup mencolok. Hal ini juga diperburuk dengan beberapa pemain yang begitu cemerlang di era Zidane, namun seolah "menghilang" di era kepelatihan Lopetegui-Solari. 

Pemain-pemain muda seperti Isco, Nacho dan Asensio seperti kehilangan peran dalam skuad Real Madrid. Khususnya Isco, kondisi hubungannya dengan Solari kian rumit dan sering kali diisukan bahwa dia akan meninggalkan Santiago Bernabeu. Gareth Bale yang digadang menjadi pengganti Cristiano Ronaldo sampai saat ini masih minim kontribusinya untuk tim.

Melihat kondisi seperti ini, tentunya tak lepas dari keputusan orang nomor satu di Real Madrid, yaitu Florentino Perez. Kebijakan-kebijakannya yang terbilang aneh memang jadi pertanyaan banyak pihak terutama fans Real Madrid sendiri. Membiarkan Zidane dan Ronaldo pergi adalah sebuah blunder fatal yang dilakukan sang presiden. Zidane adalah sosok yang kharismatik yang mampu menjaga keharmonisan tim. Figurnya mampu meredam ego pemain-pemain bintang Madrid yang selama ini menjadi masalah bagi setiap pelatih yang keluar-masuk Madrid. 

Sebut saja Jose Mourinho, yang pada akhir masa kepelatihannya di Madrid harus berselisih dengan para pemain-pemain utama Madrid seperti Iker Casillas, Sergio Ramos dan Ronaldo. Mantan presiden Madrid Ramon Calderon bahkan mengatakan bahwa Florentino Perez lah orang dibalik kehancuran Madrid saat ini. 

Calderon mengatakan bahwa Zidane pergi karena rencana Perez menjual Ronaldo. Sedangkan Zidan menginginkan agar Madrid menjual Gareth Bale saja. Berselisih paham dengan Perez, Zidane pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kursi kepelatihan Real Madrid beberapa hari setelah Madrid meraih titel ke 13 Liga Champions nya.

Kebijakan-kebijakan "aneh" Florentino Perez ini memang bukan hal baru. Dan kebijakan aneh nya musim ini adalah melepas Cristiano Ronaldo. Pemain yang merupakan mesin gol Real Madrid dengan torehan 451 goal nya selama berseragam Los Blancos. 

Bukannya mencari pemain dengan skill sepadan, Perez justru mendatangkan Thibaut Courtois yang berposisi sebagai kiper dari Chelsea. Yang sebetulnya bukanlah kebutuhan Madrid. Karena Madrid masih memiliki Keylor Navas yang masih cukup mumpuni untuk mengawal gawang Madrid. 

Melihat kebijakan Perez seperti ini memang bukan hal aneh sebetulnya. Dia bukan seperti presiden-presiden klub besar lainnya yang memikirkan prestasi klub untuk jangka panjang. Dia adalah seorang business man. Kelangsungan bisnis baginya jauh lebih penting dibanding prestasi klub. 

Di era pertama kepemimpinannya, 2000-2006, Perez membangun Los Galacticos dengan mendatangkan sejumlah pemain berlabel bintang. Zinedine Zidane, Luis Figo, Ronaldo, David Beckham adalah hasil kebijakan transfernya. Prestasi Madrid? Pada rentang waktu era pertama kepemimpinannya, Prestasi Los Galacticos bentukan Perez memang bisa dibilang lumayan. 

Piala Liga Champion 2002 dan gelar La Liga 2003 berhasil diraih. Hingga Perez melakukan satu blunder fatal dengan mengganti pelatih mereka saat itu, Vicente Del Bosque yang berhasil mempersembahkan beberapa tropi  bergengsi dengan Carlos Queiroz yang notabenenya adalah asisten pelatih Sir Alex Ferguson di Manchester United. 

Alasannya memang terdengar cukup konyol waktu itu. Yaitu karena, Madrid mendatangkan David Beckham dari MU sehingga perlu pelatih yang cocok. Sosok Queiroz dianggap bisa memberika solusi untuk permasalah "posisi" David Beckham di skuad Madrid. Sejak itu Madrid nirgelar hingga akhir era pertama kepemimpinan Perez di 2006. Perez kemudian turun pada tahun tersebut dan digantikan oleh Ramon Calderon.

Perez kembali mempimpin Madrid pada Juni 2009 hingga saat ini. Pada Era keduanya ini memang Perez tampak sedikit lebih serius memikirkan prestasi tim. Namun, tetap bukanlah yang utama. Pada periode kedua kepemimpinannya, Perez tetap tidak bisa menghilangkan kebiasaannya membeli pemain-pemain bintang dengan harga selangit. 

Cristiano Ronaldo yang merupakan janji kampanye nya jika dia terpilih menjadi presiden Madrid , berhasil dia datangkan ke Bernabeu. Tidak hanya itu, Perez juga mendatangkan pemain-pemain bintang lainnya, seperti Kaka, Xabi Alonso dan Karim Benzema. Apa Madrid langsung meraih Tropy dengan kedatangan pemain2 tersebut? Tidak. Madrid masih nirgelar. 

Hingga pada 2011 Real Madrid berhasil mengakhiri puasa gelarnya dengan meraih Copa Del Rey setelah Jose Mourinho masuk pada tahun 2010 menggantikan Manuel Pellegrini. Pada 2012, Madrid pun berhasil meraih gelar La Liga ke 32 nya. Mengakhiri hegemoni Barcelona yang sejak 2009 menguasai La Liga. Kebersamaan Madrid dengan Mourinho tak berlangsung lama. pada 2013 Mourinho mengundurkan diri dan digantikan oleh Carlo Ancelloti. 

Kedatangan Ancelotti bisa dikatakan salah satu keputusan terbaik Perez. di tahun beikutnya Madrid kembali merajai Eropa dengan meraih gelar Liga Championnya yang ke 10 atau yang mereka sebut La Decima. Setalah terakhir mereka raih pada tahun 2002 lalu. Namun, lagi-lagi Prez membuat kesalahan fatal, di tahun 2015, dia memecat Ancelotti dan menggantikannya dengan Rafael Benitez. Sebelum akhirnya Zidane masuk pada Januari 2016 setelah performa Madrid yang terus menurun di bawah asuhan Benitez.

Kebijakan-kebijakan Perez ini memang bisa dikatakan cukup merugikan tim secara prestasi. Bisa kita bayangkan, pemain seproduktif Cristiano Ronaldo dilepas dengan mudah "hanya" dengan banderol 100 juta Euro. Memang secara usia, Ronaldo tidaklah muda lagi. 

Namun, sebetulnya Madrid masih bisa mendapatkan keuntungan lebih dengan mempertahankan Ronaldo minimal 3 musim ke depan. Di samping jaminan tim yang tetap kompetitif, dari sisi bisnis yang merupakan prioritas utama Perez, Ronaldo masih memiliki valuasi yang cukup tinggi. 

Entah apa yang sebetulnya diinginkan oleh Florentino Perez. Jika menilai kekuatan skuad Madrid pada musim ini tentunya sudah sangat jauh berbeda jika dibandingkan musim sebelumnya. Untuk bersaing masuk papan atas klasemen La Liga saja Madrid harus bersusah payah. Saat ini Madrid duduk di Posisi 4 di bawah Sevila dan terpaut 10 angka dari Barcelona sebagai pimpinan klasemen.

Menarik juga untuk melihat sejauh mana langkah Madrid di Liga Champions nanti dengan skuad yang ada sekarang. Real Madrid akan berhadapan dengan Ajax Amsterdam di babak 16 besar Liga Champion. Di atas kertas, sebetulnya Madrid masih diunggulkan. Namun, melihat kondisi mental tim seperti saat ini, bukan tidak mungkin Ajax menjungkalkan Madrid.

Dengan situasi seperti saat ini kebijakan-kebijakan ajaib Florentino Perez sangat dinanti. Bursa transfer Januari mungkin bisa jadi solusi sementara untuk mendatangkan pemain-pemain baru. Atau justru inilah saat nya Florentino Perez untuk menyudahi era nya memimpin Madrid?

We'll see...