Suatu pengalaman yang sulit untuk dilupakan. Sebuah kesempatan didapati entah karena keberuntungan ataupun karena kemampuan. Entahlah.

Kesempatan diajak berkeliling ke dalam sebuah perusahaan pembuat kertas terbesar di Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Ya, Kabupaten tempat di mana aku dibesarkan.

Indah Kiat namanya. Sejak kecil perusahaan ini sudah begitu santer terdengar. Orang-orang berkata bahwa perusahaan ini sangatlah termasyhur. Perusahaan yang telah memberiku uang jajan (Beasiswa) selama perkuliahan berlangsung. Sampai akhirnya, di akhir masa kuliahku, barulah aku dapat berkunjung ke sana.

Di sana aku juga berkesempatan bertemu dengan tokoh utama di balik mashyurnya perusahaan ini. Hasanuddin namanya, ia merupakan direktur utama Indah Kiat. Banyak sekali cerita yang ia suguhkan saat itu.

Tentang bagaimana Indah Kiat mampu bergerak secara mandiri. Dengan mampu menanam sendiri bahan bakunya. Bahan baku berupa pohon Akasia dan Eukaliptus yang ditanam di lokasi Hutan Tanam Industri (HTI) milik perusahaan.

Hasan juga menjelaskan bahwa sampai saat ini Indah Kiat telah mempekerjakan ribuan tenaga kerja. Kebanyakan berasal dari masyarakat setempat. Penyerapan tenaga kerja yang bertujuan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.

Selain itu, ada beberapa program yang telah disediakan oleh Indah Kiat. Agar masyarakat lebih kreatif dalam mencari peluang, Indah Kiat biasanya membentuk suatu wadah atau tempat. Wadah yang dijadikan sebagai pusat kreativitas masyarakat.

Program yang langsung dibina oleh pihak Indah Kiat, salah satunya ialah Industri Kecil Menengah (IKM). Salah satu IKM binaan Indah Kiat ini, yaitu IKM Tunas Harapan. Tunas Harapan merupakan IKM yang telah 10 tahun lamanya berdiri.

IKM ini memiliki kemampuan untuk memanfaatkan sampah menjadi benda bernilai ekonomis. Sampah yang berasal dari aktivitas perusahaan berupa strapping.

Strapping merupakan bahan yang digunakan untuk pemaketan produk-produk perusahaan. Dulunya sampah strapping hanya dipandang sebelah mata dan tersia-siakan oleh perusahaaan.

Setelah muncul ide dan gagasan yang baik dari mantan seorang pekerja dari perusahaan tersebut, sampah strapping dapat menjadi bahan kerajinan tangan yang berguna bagi kehidupan sehari-hari.

Sampah strapping ini nantinya akan diubah menjadi kerajinan tangan, seperti tikar, along-along (keranjang pengangkut barang di motor), tudung saji, pot bunga, dan banyak lagi bentuk lainnya.

Adapun aktor di balik ide dan gagasan pemanfaatan sampah strapping menjadi bernilai ekonomis ini, yaitu Muhammad Nur. Seorang mantan karyawan yang dulunya bekerja di gudang pelabuhan Indah Kiat. Ide tersebut juga dia dapatkan saat masih bekerja di perusahaan.

Pada tahun 2008, Nur mendirikan IKM Tunas Harapan. Bermodalkan tekad yang kuat dan kepedulian yang luar biasa. Kepedulian yang ia lihat dari banyaknya pengangguran di sekitar rumahnya.

Pengangguran yang dilatar belakangi oleh tutupnya sebuah perusahaan Surya Dumai pada tahun 2005. Perusahaan kayu terbesar di Kecamatan Tualang dulunya. Akibat penutupan itu, banyak karyawan di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dan beralih profesi menjadi nelayan, pemulung, dan lainnya.

Nur menceritakan bahwa Tunas Harapan pada awal terbentuknya hanya beranggotakan tiga orang saja. Namun beriring dengan jalannya waktu, pada tahun 2018, Tunas Harapan sudah beranggotakan 92 orang yang mana hampir 98% nya ialah ibu rumah tangga.

Menurut pendapat Nur, pembuatan produk yang berasal dari bahan strapping ini tidaklah rumit. Hanya dengan latihan dan sedikit kreativitas, kita sudah bisa membuat satu produk dari bahan ini.

Dikarenakan kerja yang mudah dan tidak begitu rumit, maka biasanya masyarakat akan membawa pulang bahan tali strapping tersebut dan mengerjakannya di rumah masing-masing.

Hingga sekarang, Nur mengungkapkan bahwa Tunas Harapan sudah mampu mengolah 6 ton sampah tali strapping perbulannya. Kondisi ini sangat berbeda dibandingkan pada tahun 2008, yang mana Tunas Harapan hanya mampu memproduksi 1 ton sampah tali strapping per tiga bulan. Tentu saja ini membuat pendapatan warga sekitar naik.

Adapun penghasilan yang didapatkan dari pengelolaan tali strapping ini, Nur mengaku mendapatkan pendapatan kotor mencapai 12 juta rupiah. Sedangkan masyarakat yang ikut bekerja di IKM ini biasanya akan memperoleh hasil mulai dari 1.000.000 - 2.000.000 rupiah per bulan.

Hal ini jauh berbeda ketika masyarakat masih bekerja sebagai pemulung dan nelayan yang hanya dapat menghasilkan 500.000 - 700.000 rupiah saja per bulannya.

Menurut Nur, produk-produk Tunas Harapan ini mempunyai keunggulan, yaitu tahan air dan tahan lama. Karena kualitasnya yang baik dan harganya terjangkau, produk ini sangat diminati oleh masyarakat.

Bukan hanya dijual di pasar setempat saja, tetapi produk ini sudah dijual hingga empat provinsi, seperti Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, dan Jambi.

Kini kehidupan Nur layaknya seperti seorang pahlawan bagi masyarakat di sekitar rumahnya. Kepeduliannya yang begitu besar dalam upaya meningkatkan ekonomi masyarakat pun tidak sia-sia. Kepedulian yang membuat ia dipilih oleh masyarakat untuk dijadikan sebagai ketua RT.

Namun sayang, di balik semua usaha pasti terdapat kekurangan yang dimiliki. Sampai saat ini, ada beberapa kendala yang didapati oleh Nur selama ia merintis usaha tersebut.

Seperti pendistribusian produk yang hanya menggunakan pick up. Sehingga produk yang dapat didistribusikan hanya sedikit. Satu kendala yang membuat pengeluaran tidak sebanding dengan keuntungan yang didapati Nur.

Kurangnya promosi dan pemasaran secara online yang dilakukan oleh Tunas Harapan. Satu hal yang membuat produk ini kurang dikenal di daerah lain. "Tunas Harapan masih kekurangan sumber daya manusia yang paham teknologi, informasi, dan komunikasi," tutur Nur.

Tidak sampai di situ saja, Nur juga mengatakan bahwa kendala lain yang menjadi momok bagi Tunas Harapan yaitu minimnya peranan pemerintah. Selama ini pemerintah hanya bisa memberikan penghargaan berupa sertifikat, yang mana tidak ada pengaruh berarti bagi Tunas Harapan. Sungguh sangat disayangkan.

Seandainya saja pemerintah sedikit melirik IKM ini, dengan cara memberikan bantuan materil berupa kendaraan untuk pendistribusian dan bantuan dalam bentuk promosi produk dari Tunas Harapan, maka tidak dapat dipungkiri bahwa Tunas Harapan akan menjadi salah satu sumber penghasilan yang menjanjikan. Serta dapat menciptakan lapangan pekerjaan yang mandiri.

Hal ini pastinya juga akan berdampak bagi nama baik pemerintah. Masyarakat tidak akan melihat pemerintah lepas tangan akan hal ini. Sebaliknya, penilaian masyarakat akan berubah karena pemerintah telah membantu mereka untuk sejahtera.

Hingga akhirnya mereka akan menilai bahwa pemerintah telah bertanggung jawab dalam upaya menyejahterakan masyarakat.