Tata surya adalah kumpulan benda langit yang terdiri atas sebuah bintang yang disebut matahari dan semua objek yang terikat oleh gaya gravitasinya. Saat ini, dalam susunan tata surya terdapat 8 planet, yaitu: Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Sebelumnya juga pernah terdapat satu planet lagi, yaitu Pluto.

Pluto yang ditemukan pada tahun 1930 juga pernah dianggap sebagai planet ke-9 dalam sistem tata surya. Namun pada tahun 2006, Persatuan Astronomi Internasional (International Astronomical Union) menetapkan Pluto dalam kategori planet kerdil (dwarf planet). Dengan demikian, sejak tahun 2006 hanya terdapat 8 planet dalam sistem tata surya.

Salah satu planet yang unik dan menarik adalah Bumi, karena Bumi merupakan satu-satunya planet yang memiliki kehidupan sebagaimana yang kita alami saat ini. Bumi sendiri berawal dari bola lahar panas. Ketika permukaannya terbentuk, dari gunung-gunungnya keluar gas yang membentuk atmosfer di sekeliling bumi. Kemudian Bumi berangsur-angsur mendingin dan lahar di permukaan menjadi padat. Samudra dan laut pun mulai terisi air.

Usia Bumi saat ini diperkirakan telah mencapai 4,54 miliar tahun. Hal ini diukur berdasarkan penanggalan radiometik meteorit dan sesuai dengan usia bebatuan tertua yang pernah ditemukan. Usia Bumi saat ini tentu tidak bisa dikatakan muda lagi. Dan bahkan harus dikatakan bahwa Bumi ini sudah tua.

Sementara itu, aku lahir pada tahun 1997 Masehi. Apabila dikalkulasi, maka usiaku saat ini baru menginjak 21 tahun. Ya, tentu masih sangat muda, masih memiliki banyak cita-cita dan harapan untuk masa depan.

Menurut kategori umur Departemen Kesehatan RI, usia 12-16 tahun adalah masa remaja awal dan usia 17-25 tahun adalah masa remaja akhir. Sehubungan dengan pengkategorian tersebut, berarti aku masih tergolong sebagai seorang remaja.

Usia remaja umumnya identik dengan hidup yang bersenang-senang, nongkrong bersama teman, liburan ke sana-ke mari. Hal semacam itu sudah sangat lumrah terjadi di kalangan remaja.

Namun, di saat aku remaja, Bumiku sudah tua. Sebagaimana orang yang sudah tua yang terkadang mudah sakit, pun demikian dengan Bumi yang kutempati saat ini. Usia remajaku yang harusnya bisa dibuat untuk liburan kesana-kemari, sekarang harus mulai berdiam diri, karena harus mengurusi Bumi.

Bumiku yang sudah tua ini sering sakit. Pada bulan Agustus 2018 lalu, gempa dengan kekuatan 7 SR menyebabkan setidaknya 564 orang meninggal dunia dan ribuan orang lainnya mengalami luka-luka.

Selang dua bulan kemudian, penyakit bumiku kambuh lagi dan lebih parah dari yang sebelumnya. Gempa dan tsunami yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah dan sekitarnya menyebabkan 2113 orang meninggal dunia. Sedangkan korban luka-luka mencapai 4612 orang.

Baru-baru ini, Bumiku sakit lagi. Tsunami yang terkesan dadakan yang dipicu oleh aktivitas anak gunung Krakatau di Selat Sunda menerjang Banten dan Lampung pada 21 Desember 2018 kemarin, menyebabkan setidaknya 229 orang meninggal dunia, 408 orang dinyatakan hilang, dan 720 orang mengalami luka-luka.

Bumiku akhir-akhir ini sering sakit. Bumi semakin tua ditambah bebannya yang semakin berat dan jumlah penduduk semakin banyak menyebabkan kondisi Bumi semakin rusak. Berbagai macam polusi menyelimuti Bumi ini, polusi darat, polusi udara, polusi laut, sungai dan danau.

Pabrik-pabrik industri yang membuang air limbah beracun ke sungai menyebabkan ribuan ikan mati. Ditambah lagi dengan perilaku membuang sampah sembarangan, terlebih membuang sampah di sungai juga menyebabkan ancaman buruk yang sangat serius, yaitu ancaman banjir jika musim hujan datang dan ketersediaan air bersih semakin berkurang.

Pertumbuhan penduduk tentunya juga menambah moda transportasi. Saat ini penduduk di Indonesia bisa dikatakan setidaknya satu rumah terdapat satu kendaraan bermotor. Hal ini tentu juga menjadi ancaman yang serius bagi keberlangsungan makhluk hidup, pasalnya dengan banyaknya kendaraan bermotor, maka asap yang dikeluarkan juga semakin banyak dan menjadikan udara menjadi tercemar. Bahkan bisa menyebabkan lapisan ozon menipis.

Melihat berbagai macam penyakit yang ada di Bumi, maka perlu kiranya penulis mengajak kepada para pembaca yang budiman untuk turut serta menjaga dan merawat Bumi yang sudah tua ini, agar kondisi Bumi lekas sehat kembali. Kita bisa melakukan hal-hal kecil seperti di bawah ini:

Pertama, gunakan air secukupnya. Jika kita mencuci beras atau sayuran, sisa airnya jangan langsung kita buang, kita bisa menggunakannya untuk menyiram tanaman di depan ataupun di samping rumah.

Kedua, hemat listrik. Misalnya, ketika lampu di kamar kita sudah tidak digunakan lagi, maka kita bisa mematikannya agar tidak terlalu banyak energi listrik yang terbuang sia-sia.

Ketiga, tidak membuang sampah sembarangan. Sekarang ini terdapat banyak sekali tempat sampah, bahkan hingga dipisahkan berdasarkan jenis sampahnya. Sampah yang sekiranya bisa didaur ulang, alangkah baiknya kita daur ulang menjadi produk-produk yang bermanfaat.

Keempat, lakukan reboisasi (penghijauan kembali). Dengan menciptakan penghijauan kembali, maka kita telah membantu makhluk hidup lainnya untuk bisa menghirup udara yang sehat. Jika sudah ada tanaman, maka tugas kita adalah menjaga dan jangan merusaknya.

Mari bersama-sama menjaga bumi kita yang sudah tua ini. 

Referensi:

[1] https://kompas.com/