Ada beberapa ramalan yang secara epik mendapatkan kebenarannya jauh setelah ia dilontarkan. Salah satunya adalah ramalan William James, filsuf dan psikolog terkemuka AS abad lampau. 

Kalau tidak salah 1904, James menerbitkan sebuah buku yang terbukti tak tergantikan sampai sekarang tentang pengalaman religius. Judulnya, The Varieties of Religious Experience. Di antara isi buku yang termasuk paling banyak dikutip orang dan telah menjadi quotable quotes adalah pernyataannya tentang akan makin menguatnya kecenderungan spiritualitas manusia modern.

Meski sains boleh jadi akan melakukan apa saja yang melawan kecenderungan ini, manusia akan terus bersembahyang sampai akhir masa. Dorongan naluriah untuk bersembahyang adalah konsekuensi dari fakta bahwa meski bagian paling dalam dari diri empirisnya adalah diri yang bersifat sosial ia hanya akan bisa menemukan kawan yang menenteramkannya (kawan agung-Nya) dalam dunia yang ideal.

Pada kenyataannya berlawanan dengan semua ramalan yang sebaliknya, keberagamaan saya sengaja tak menyebutnya agama, untuk mengetahui makna sebagai cara hidup ketimbang sebagai pranata, tenyata tak memudar bersama majunya sains dan menguatnya cara hidup sekuler. 

Tak sedikit ahli, termasuk sosiolog terkemuka Peter Berge (dalam bukunya yang berjudul The Desecularization of the world), terpaksa menelan ludah dan mengakui bahwa keberagamaan umat manusia justru menguat bersama kemajuan sains dan cara hidup sekuler. Penyebabnya adalah lahirnya ekses-ekses yang justru dibawa oleh kemajuan sains dan teknologi, serta cara hidup sekuler yang tadinya justru diramalkan sebagai pembunuh agama itu sendiri. 

Sebagaimana diungkapkan oleh Gilles Kepel, sekularisme telah menimbulkan perasaan kecewa yang mengakibatkan fragmentasi, melemahnya kohesi sosial, pudarnya kesetiaan pada nilai-nilai, meluasnya kriminalitas, dan gagalnya hukum untuk menjadi alat yang manjur untuk mengatasinya, lemahnya institusi keluarga, dan masih banyak yang tidak bisa saya sebutkan. Kini manusia mencari kembali apa yang disebut sebagai "sumber-sumber baru identitas, dan moral baru untuk menarik kembali dan tujuan hidup mereka".

Sayangnya gejala kebangkitan agama ini telah melahirkan apa yang, bahkan oleh sebagian penganut agama sendiri dipandang sebagai "anak haram". Contohnya fundamentalisme, bahkan radikalisme agama. Ideologi model seperti ini bukan saja mengklaim bahwa paham mereka pasti benar, bahkan lebih jauh memastikan bahwa yang selainnya pasti salah dan membawa penganutnya jauh dari keselamatan dunia-akhirat. Dari para guru seperti inilah mereka merasa mendapatkan jaminan keselamatan yang mereka cari. Juga ketenteraman keimanan.

Yang patut disyukuri meski sebenarnya ini adalah gejala yang alami belaka, kebangkitan agama ini juga merevitalisasi satu aliran yang bagi banyak orang merupakan ekspresi autentik agama, yang bertentangan dengan fundamentalisme keagamaan. Inilah suatu gejala yang biasa disebut dengan penyimpangan spiritualisme, baik spiritualisme keagamaan maupun gejala yang biasa disebut SNBR (Spiritual But Not Religious, spiritual tapi tak religius). Di sinilah kiranya terletak pemecahan terhadap persoalan fundamentalisme dan radikalisme agama yang tak jarang mengikutinya, juga belakangan ini merebak dimana-mana.

Terlepas dari berkembangnya spiritualisme non-religius itu, agama-agama besar di dunia dapat menawarkan alternatif mistisme yang memang tak pernah absen dalam batang-tubuh ajarannya. Di luar agama-agama Timur yang memang cenderung esoterik dan Kristen memang dipandang sebagai agama berorientasi kasih Islam pada analisis lebih dalam agama yang kental bernuansa spiritual (kerohanian) dan cinta.

Apakah ini suatu jenis eskapisme dan sikap antidunia? Sama sekali tak harus demikian. Puncak proses bertasawuf yang lahir dari spiritualitas intens, adalah pengembangan moralitas (akhlak, budi pekerti) luhur, yang justru dianggap sebagai suatu yang kurang dalam cara hidup manusia modern, dan telah menjadi sumber kekecewaan banyak orang yang pada gilirannya, melahirkan frustasi keagamaan. 

Moralitas luhur akan dapat menjamin semua pencapaian sains, teknologi, dan berbagai upaya sekuler akan berjalan di jalur yang benar menuju pencapaian tujuan-tujuan puncak kemanusiaan yang sekaligus dapat menyejahterakan alam semesta.

Bahkan mistisme bisa menjadi antidote (lawan) fundamentalisme dan radikalisme keagamaan. Mengingat ia memiliki kelebihan dalam hal sifatnya yang mempromosikan cinta, kedamaian, dan kerja sama, bukan benci juga pertentangan yang saling memusnahkan. 

Dan betapa pun puncaknya, kita masih percaya bahwa dalam rajutan kemanusiaannya, makhluk Tuhan yang mulia ini selalu merindukan kedamaian dan tak menyukai konflik. Sekaligus dengan cara ini kita dapat mengembalikan fungsi agama sebagai sebuah lembaga yang mendukung perkembangan peradaban manusia yang maju, adil, dan sejahtera.

Contoh lain, runtuhnya spiritualisme modern di era digital adalah generasi muda kita telah kecanduan gadget yang mengarah pada seksisme, pornografi, dan Hoax. Juga panasnya antara dua kubu antara Jokowi (cebong) dan Prabowo (kampret), justru melahirkan persaingan politik kebencian. Bahkan di awal 2019 ini kita diributkan hoaks 7 gerbong truk surat suara yang dicoblos capres nomor 1. Lalu, bagaimana kita mengelak dari moral manusia zaman now yang sudah telah rusak ini?