Mattoangin, nama yang indah untuk sebuah bangunan. Didirikan tahun 1957, sebagai infrastruktruktur yang diperuntukkan untuk menunjang penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional ke-4. 

Di sana, di stadion itu, kita tahu, telah lahir banyak pemain sepak bola hebat yang telah menjadi saksi akan jatuh-bangunnya klub tertua dalam rentang panjang sejarah sepak bola Indonesia: PSM Makassar.

Tapi interaksi Mattoangin dan sepak bola bukan hanya kepada mereka yang berlari dan menendang si kulit bundar. Namun juga kepada mereka yang berdesak-desakan dan bernyanyi tiada henti di seluruh penjuru tribun. 

Jika Mattoangin adalah panggung bagi Wiljan Pluim untuk menari, arena untuk Hilmansyah beraksi, teritorial para pemain PSM, tapi bagi mereka, masyarakat yang lahir, tumbuh, dan menghirup udara Makassar saban harinya, ia bukan hanya sebatas stadion tempat menonton pertandingan sepak bola tiap akhir pekan. Bagi mereka, Mattoangin adalah rumah.

Rumah ialah tempat kelahiran yang disempurnakan oleh kenangan. ~ Henry Anatole Grunwald

Dalam mendefinisikan rumah, kita bisa melihatnya sebagai sebatas bangunan yang dibentuk oleh struktur dan material tertentu dan dibuat demi memenuhi kebutuhan manusia akan sebuah ruang tinggal. Sederhananya, rumah sebagai benda.

Atau, kita bisa menggambarkannya sebagai sebuah proses dialektis antardua subjek yang saling berkelindan. Sebab kita tahu. pada bangunan bernama rumah, ada berbagai macam hal yang terlibat di dalamnya. Hangat, rasa nyaman, aman, dan tentu saja... memori.

Avianti Armand, dalam bukunya yang berjudul Arsitektur Yang Lain, mengatakan bahwa relasi antara manusia dan sebuah karya arsitektur (bangunan) bukan hanya sebuah proses melihat, tapi juga mengalami. 

Ketika pria awal dua puluhan tahun melintas di depan bekas SMA-nya, dia tak hanya melihat pagar berlumut bekas sekolahnya. Tapi secara tidak langsung, pagar itu mengingatkan dia akan sebuah momen lama bertahun-tahun lalu bersama, ehm... mantan pacar.

Itulah juga mengapa kita semua selalu merindukan kampung halaman. Bukan karena kita merindukan bentuk dan warna "rumah"-nya, tapi karena di sana, di kampung halaman, ada sebuah memori masa lalu yang senantiasa menjadi jangkar dan menarik kita untuk selalu ke sana: ke tempat di mana kita menemukan keluarga, makna, menemukan cinta. 

Di sana, kita tidak sedang melihat rumah. Kita mengalaminya.

Sebagai markas dari PSM Makassar selama puluhan tahun, tentu saja tak terhitung sudah berapa banyak ingatan yang saling bertaut di Mattoangin. Kalah dan bangkit kembali. Tentang menang atau tersungkur, tangis bahagia dan sedih, hingga juara berkali-kali. 

PSM bahkan dijuluki sebagai salah satu tim paling stabil dan konsisten di Indonesia. Semua telah dilalui dan mengendap dalam kepala serta kehidupan publik sepak bola Makassar. 

Pengalaman dan memori kolektif akan sebuah bangunan bernama Mattoanging itulah yang kemudian menjadikan mereka, masyarakat Makassar, rela mengorbankan waktu, tenaga, dan tidak jarang harta yang tidak sedikit demi menyaksikan tim kebanggaan mereka PSM Makassar berlaga hampir tiap pekannya. 

Menonton PSM Makassar bertanding adalah upaya merawat ingatan bersama.

Saya percaya bahwa seseorang tak pernah bisa meninggalkan rumah. Saya percaya bahwa seseorang membawa bayangannya dan ketakutan-ketakutannya di bawah kulitnya sendiri, di sudut yang tajam dari mata seseorang, mungkin juga di bawah tulang rawan daun telinga. ~ Maya Angelou

Maka ketika ada sengketa tentang siapa pemilik sah stadion itu, urusannya bukan hanya menjadi dua pihak yang berkonflik. Sense of belonging masyarakat Makassar mendorongnya lebih jauh menjadi urusan publik. Dan tentu saja, orang macam apa yang ingin kehilangan rumahnya?

Belakangan, setelah terkatung-katung nasibnya, Pemprov Makassar berencana untuk mengambil alih pengelolaan Mattoangin dari tangan Yayasan Olahraga Sulawesi Selatan (YOSS) dan menjadikannya aset Pemprov. Sebuah angin segar tentu saja bagi publik sepak bola Makassar. 

Walau demikian, kita tak pernah tahu sampai kapan bangunan itu akan berdiri. Kapitalisasi ruang, dalam perkembangannya, menjelma menjadikan tanah dan bangunan-bangunan yang bercokol di atasnya menjadi hanya sekadar seberapa besar nilai ekonomisnya.

Dengan konsep kota dunia—yang entah apa orientasinya, Mattoangin tak ubahnya narapidana hukuman mati yang ditunda untuk dieksekusi. Olehnya, kita sama-sama tahu, cepat atau lambat, salah satu stadion tertua yang ada di Indonesia itu tak akan selamanya menjadi kandang PSM Makassar. 

Tapi sebagai bangunan yang telah menjadi arsip akan memori kolektif publik sepak bola Makassar—atau bahkan Indonesia, kita berhak berjuang.

Makassar, dengan segala derap laju perkembangannya, boleh jadi akan dengan cepat merubah wajah kota. Dalam bertahun-tahun ke depan, ia bisa saja berganti rupa dan menjadi begitu asing. 

Tapi bagi mereka, di sana, pada sebuah stadion tua di salah satu sudut kota—dengan besi-penyangga yang sudah mulai berkarat, tribunnya yang berlumut, pagar pembatas yang terlihat ringkih—akan selalu ada "rumah". Dan rumah selalu memanggil penghuninya pulang.