Persoalan kemanusiaan rasanya tak pernah habis ditemui. Hampir setiap hari selalu ada persoalan terkait krisis kemanusiaan ini. Salah satu yang terjadi adalah soal pengungsi. 

Keadaan perang yang terjadi dalam sebuah negara menyebabkan penduduk sipil merasa tidak aman lagi sehingga mereka mencari tempat perlindungan dan pergi ke tempat yang lebih aman menurut mereka. Memang perang akan berdampak buruk dari berbagai aspek kehidupan. Hal inilah yang mendorong terjadinya pengungsian. 

Ada sebuah contoh dari salah satu kamp pengungsi yang terletak di padang gurun. Tempat itu diberi nama kamp Rukban.

Kamp Rukban terletak di padang gurun tak berpenghuni di perbatasan Syria, Irak, dan Yordania. Menurut koran Jawa Pos tanggal 26 Oktober 2018, di kamp Rukban tersebut tercatat ada 50-65 ribu pengungsi. Jumlah pengungsi sebanyak itu tidak diimbangi dengan ketersediaan pangan dan jaminan kesehatan yang memadai. 

Menurut berita, para pengungsi terakhir kali mendapat bantuan makanan dan obat-obatan pada bulan Januari lalu. Kondisi ini tentu memprihatinkan banyak orang. Oleh karena kekurangan makanan dan obat-obatan, tercatat ada 15 orang yang meninggal bulan ini. Dari 15 orang itu, ada 2 anak kecil yang turut menjadi korban. Sungguh miris ketika membaca berita ini.

Kamp yang menjadi tempat pengungsian ini rasa-rasanya mirip dengan kamp konsentrasi ala nazi Jerman. Sebut saja Dachau atau Auschwitz yang telah menelan ratusan ribu bahkan jutaan orang Yahudi di era totalitarianisme Adolf Hitler. Memang jikalau di kamp konsentrasi para tahanan mendapatkan perlakuan kejam nan biadab, mulai dari penyiksaan fisik, mental, kerja paksa, dan lain sebagainya. Perlakuan buruk ini tak heran membuat para tahanan harus kehilangan nyawanya. 

Namun apakah pantas kamp Rukban ini dibandingkan atau disandingkan dengan kamp-kamp konsentrasi macam Dachau dan Auschwitz? Menurut penulis, tentu tidak dapat demikian. Dalam kamp Rukban ini, para pengungsi memang tidak mendapat perlakuan kasar semisal penyiksaan fisik atau bahkan dibunuh. 

Namun kemudian siapakah pengungsi itu? Dalam konvensi Jenewa 28 Juli 1951, dikatakan bahwa “disebabkan oleh ketakutan yang beralasan akan persekusi karena alasan-alasan ras, agama, kebangsaan, keanggotaan pada kelompok sosial tertentu atau opini politik, berada di luar negara kewarganegaraannya dan tidak dapat, atau karena ketakutan tersebut tidak mau memanfaatkan perlindungan negara itu, tidak dapat atau, karena ketakutan tersebut, tidak mau kembali ke negara itu.”

Persis di sinilah bahwa pengungsi adalah orang yang terancam hidupnya oleh karena persekusi dalam suku, ras, maupun agama dan akhirnya pergi meninggalkan negaranya untuk menghindari hal-hal tersebut.

Manusia sebagai makhluk sosial tentu tak dapat hidup sendirian. Apalagi cita-cita kebaikan bersama (bonum commune) tak dapat terwujud tanpa kehadiran orang lain. Sikap pembiaran ini tentu tak dapat dibenarkan. Sebagai manusia, tiap dari mereka memiliki fakultas hati nurani. Apa itu? Hati nurani bisa disebut sebagai kesadaran moral yang menilai sikap manusia baik-buruknya. 

Hati nurani berperan dalam hidup sehari-hari untuk menilai setiap perbuatan moral kita. Kemudian dalam pandangan etis, ada pula soal etika kewajiban dan etika keutamaan. Etika kewajiban menilai perbuatan kita dengan berpegang pada norma dan prinsip saja. Sedangkan etika keutamaan lebih menekankan aspek manusia itu sendiri. Sifat atau watak manusia lah yang dinilai, bukan hanya dengan penilaian berdasarkan norma tertulis saja.

Menilik pendapat soal etika di atas, penulis mencoba memandang peristiwa ini dari sudut pandang etika. Penderitaan yang dirasakan para pengungsi tentu menggerakkan hati manusia, terlebih yang ada di sekelilingnya. Negara yang mencap kamp ini ilegal maupun negara yang tidak mau memberi bantuan untuk keadaan saat itu, tindakannya kurang etis karena melakukan pembiaran. Memang kamp ini tidak sekejam kamp konsentrasi, namun dengan pembiaran tanpa bantuan, penulis kira ini juga penyiksaan secara halus. 

Dalam etika keutamaan, manusia dilihat secara lebih dalam, apakah kita ini orang baik/buruk. Kedua pendapat etika ini saling terkait satu sama lain. Etika kewajiban juga memerlukan etika keutamaan untuk dapat mencapai manusia yang mampu secara integral. Kalau hanya diwajibkan, akan jatuh pada sekadar patuh saja pada instrumen yang berlaku tanpa memasukkan nila-nilai ini dalam kehidupan. Sikap peduli pada pengungsi sudah terungkap dengan adanya badan UNHCR yang khusus menangani pengungsi dari PBB.

Pengungsi ini tidak hanya butuh kepedulian dari negara sekitarnya dan juga negara-negara lain yang memang peduli. Meski demikian, sebagai pengungsi, mereka tetap mempunyai kewajiban-kewajiban pada negara di mana ia berada, yang mengharuskannya terutama untuk menaati undang-undang serta peraturan-peraturan negara itu. 

Namun di sini permasalahannya adalah kamp tersebut berada di padang gurun dan berada dalam perbatasan tiga negara. Dan sejauh penulis membaca, tak satupun negara yang mengklaim kamp ini berada di wilayahnya. Meski demikian, bukan berarti permasalahan ini tak ada penyelesaiannya. Dalam Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), ada organisasi yang mengurus soal pengungsi. UNHCR dari PBB hendaknya turun tangan atas peristiwa tersebut.

Dalam Teks dari Konvensi 1951 Mengenai Status Pengungsi, dalam bab IV dikatakan bahwa dalam kesejahteraan umum pengungsi tetap mendapatkan jaminan berupa makanan, pendidikan, kebebasan beragama, berserikat, dsb. Dalam penjelasan tersebut sangatlah memprihatinkan karena pengungsi di kamp Rukban terakhir kali mendapat bantuan makanan serta obat-obatan pada bulan januari. 

Dalam kondisi kekurangan dan tinggal di padang gurun, mereka sangat menderita. Bahkan karena kekurangan obat dan makanan pada bulan ini tercatat ada 15 orang meninggal, dan bahkan dua diantaranya adalah anak-anak. 

Melihat kembali persoalan ini, kiranya sikap etis dari negara-negara yang ada di sekitar pengungsi dipertanyakan. Terlepas dari anggapan tersebut kiranya PBB sebagai perserikatan dunia dengan Konvensi Jenewa ini dapat menyadarkan bahwa pengungsi tetaplah manusia yang dijamin oleh hak-hak dasar asasi manusia. 

Dilema yang mewarnai peristiwa ini akan selalu ada. Misalkan dalam kamp tersebut, antek-antek teroris yang menyusup bisa saja ada. Mereka seakan memakai warga sipil sebagai tameng supaya mereka bisa aman. Jikalau ada yang menyerang mereka, mereka akan melibatkan warga sipil sebagai korban pula. 

Sepertinya hal ini yang dihindari oleh negara-negara di sekitarnya. Namun di sisi lain kita tentunya tak dapat menutup mata atas persoalan tersebut. PBB sudah sangat jelas memberi perhatian khusus bagi pengungsi lewat badan UNHCR.