Korea Utara, negara yang seringkali digambarkan sebagai negara yang memiliki kekuatan militer luar biasa besar yang kontras dengan penduduknya yang miskin dan kelaparan, pada 3 hingga 4 tahun belakangan ini kerap menjadi pusat perhatian media Internasional dan para pengamat geopolitik dan militer internasional. 

Sudah setengah abad lebih Korut mengembangkan dan memproduksi rudal balistik, sebagai sarana penggertak dan penyerang lawan hingga sebagai alat untuk mengirim hulu ledak nuklir dan jenis senjata pemusnah massal lainnya seperti senjata kimia dan biologis. Program nuklir dan rudal balistik lokal di era kepemimpinan Kim Jong Un mengalami progress perkembangan yang jauh lebih pesat dibandingkan pada masa kepemimpinan ayahnya, Kim Jong Il. 

Awal Mula Program Rudal Balistik Korut

Hwasong-5

Bagaimana Korea Utara yang pada masa perang dingin dianggap tidak lebih dari negara boneka Uni Soviet dan China, menjadi negara berkemampuan nuklir dan memiliki program rudal balistik yang pesat di medio 2010 keatas tidaklah lepas dari peran dan usaha ketiga pemimpin "Dinasti Kim" yang berkuasa di sana sejak kemerdekaan diproklamirkan pada tahun 1948. 

Korut yang berpegang teguh kepada ideologi mereka sendiri yaitu "Juche", menitikberatkan kepada kemandirian pada seluruh elemen berbangsa dan bernegara, termasuk di dalamnya mandiri dalam bidang militer dan persenjataan.

Dipelopori oleh presiden pertama Korea Utara yaitu Kim Il Sung, Kim pada tanggal 5 Oktober 1966 menginstruksikan agar menyelaraskan program pembangunan ekonomi dan militer, artinya, industri militer mendapat prioritas utama dan regulasi pembelian dan produksi senjata mulai disusun. 

Korea Utara yang pada medio 1960an telah memiliki lusinan roket dan rudal dari berbagai jenis yang diimpor dari Uni Soviet dan China, mulai menyusun program jangka panjang untuk mengembangkan dan memproduksi rudal balistik lokal dengan mencari bantuan ke kedua negara.

Kim yang kecewa karena tidak mampu mencapai kesepakatan transaksi pembelian rudal balistik dari Uni Soviet, mulai melirik China untuk meminta bantuan dalam mengembangkan program rudal balistik lokal.

pada tahun 1971, Korut dan China menandatangani kontrak kerjasama di bidang program pengembangan dan produksi rudal balistik jarak pendek (SRBM) Dong-Feng 61 (DF-61). Bagian dari kesepakatan tersebut adalah, Korut mendapat bantuan dari China dalam mengembangkan rudal balistik lokal berdasarkan progress dari program pengembangan DF-61.

Pekerjaan baru dimulai pada tahun 1977 dan dibatalkan seluruhnya pada tahun 1978 karena situasi politik di China yang bergejolak pasca huru-hara revolusi kebudayaan dari mendiang Mao Tse Tung. 

Korea Utara yang tidak bisa bertransaksi dengan Uni Soviet, serta China yang masih kerepotan mengurus kestabilan situasi dalam negeri, mulai mencari sumber-sumber alternatif untuk mencari dan membeli rudal balistik.

Ada dua versi di sini, yang pertama Korut akhirnya mampu membeli beberapa lusin rudal balistik Scud-B dari Uni Soviet, dan yang kedua adalah Korut membeli rudal balistik Scud-B dari Mesir, sebagai balas jasa Mesir terhadap Korut yang mengirimkan kontingen pilot-pilot pesawat tempur untuk membantu Mesir dalam Perang Yom Kippur pada tahun 1973 lalu.

Tahun pembelian rudal balistik tersebut juga masih simpang siur, antara tahun 1979 hingga 1981. Versi dimana Korut membeli Scud dari Mesir disepakati sebagai yang lebih kredibel. 

Mulai pada tahun 1981, Korut yang akhirnya mendapat rudal balistik Scud dari Mesir, memulai program pengembangan rudal balistik lokal berbasis Scud-B dengan bantuan yang terhitung besar dari Mesir berupa personel militer, insinyur dan ilmuwan ke Korut untuk membantu proses riset dan pengembangan.

Hasilnya pada tahun 1984 Korut berhasil mengujicoba rudal balistik jarak pendek Hwasong-5 yang merupakan versi reverse-engineered dari Scud-B yang didapat dari Mesir, bersamaan dengan berdirinya basis industri pembuatan dan perakitan rudal balistik Hwasong-5 di kota Pyongyang dan Musudan-RI.

Pada tahun 1985, Iran mendekati Pyongyang untuk kemungkinan transaksi pembelian rudal balistik dalam rangka membantu Iran meneruskan "War of the Cities" melawan Irak, dimana pada fase tersebut Iran dan Irak saling meluncurkan rudal balistik Scud ke kota-kota besar untuk menimbulkan kerusakan besar dan teror terhadap penduduk.

Irak mendapat pasokan rudal Scud dari Uni Soviet, sementara Iran yang tidak mendapat pasokan Scud dari Uni Soviet mencari negara pengguna Scud lain, dalam hal ini berhasil mencapat kesepakatan transaksi pembelian Scud-B dari Libya. Namun ketersediaan jumlah rudal yang terbatas membuat Iran cepat-cepat mencari partner lain, dalam hal ini Korea Utara.

Tawaran pembelian dari Teheran dengan cepat disambut oleh Pyongyang, dengan besar transaksi mencapai 500 Juta Dolar AS. Pyongyang mengirim rudal-rudal Scud ke Iran, sebagai gantinya Iran ikut membantu Korut secara finansial dan teknologi untuk mengembangkan program rudal balistik bersama di masing-masing kedua negara.

Selain Rudal Balistik Hwasong-5 Korut juga mengirimkan peralatan perang seperti seragam, helm, senjata api, tank, hingga meriam artileri jarak jauh. Peran Korut dalam program pengembangan rudal balistik Iran juga terhitung signifikan, dengan mengirimkan rudal-rudal berikut perlengkapan pendukungnya, teknisi serta insinyur. Maka Iran pada 1990 berhasil memproduksi rudal balistik Shahab-1, yang merupakan versi Iran dari rudal balistik Hwasong-5 buatan Korea Utara. 

Rudal Balistik Jarak Jauh Berbasis Scud

Rodong-1

Tidak sampai di sana, Korut terus melakukan improvisasi atas desain rudal yang sudah ada. Berbasis Hwasong-5 yang Korut berhasil mencapai kemandirian dalam mengembangkan dan memproduksi, maka terciptalah rudal balistik Hwasong-6 atau Scud-C yang merupakan pengembangan dari rudal Hwasong-5, dengan peningkatan signifikan di jarak jangkau rudal, dibanding dengan Hwasong-5. 

Mulai pada medio 1988-1989, Korut menghentikan produksi Hwasong-5 dan mengalihkan seluruh usaha produksi rudal ke Hwasong-6. Di saat yang sama, Korut yang juga mengejar program nuklirnya sendiri, menetapkan bahwa rudal balistik adalah satu-satunya metode yang dapat mengantarkan hulu ledak nuklir ke Amerika Serikat. Maka, program rudal balistik Korut terus berkembang dengan emphasis ke peningkatan jarak jangkau rudal.

Pada medio awal 1990an, Korut sukses menciptakan rudal balistik jarak menengah / MRBM dengan nama Rodong-1, yang merupakan versi scaled-up dari rudal Hwasong-6, didesain dengan tujuan mampu mengantarkan hulu ledak yang lebih berat dengan jarak tempuh hingga 1000 km.

Krisis ekonomi dan bencana alam yang menghancurkan perekonomian dan pangan negara itu pada awal 1990an hingga pertengahan dekade era 2000an nampaknya melambatkan progress kemajuan dalam pengembangan rudal balistik dan program nuklir mereka. Akan tetapi pada era sulit bagi negara itu, Korut berhasil menciptakan dan meluncurkan rudal balistik jarak menengah-jauh / IRBM bernama Taepodong-1, yang diujicoba pada 1998 sebagai roket peluncur satelit Paektusan-1. 

Versi yang lebih besar dan jauh dari Taepodong-1, yaitu Taepodong-2 dikembangkan secara bersamaan dengan Taepodong-1. Kedua roket jarak jauh ini keduanya sama-sama menggunakan teknologi dari rudal balistik jarak menengah Rodong-1., yang dimana Rodong-1 sendiri adalah versi scaled-up dari rudal Scud-C / Hwasong-6.

Kegagalan Taepodong-2 pada dua kali ujicoba peluncuran pertama pada 2006 dan 2012 menunjukkan bahwa platform Scud sebagai basis pengembangan rudal jarak jauh tidak dapat diandalkan / reliable. Di tangan Korut sendiri Scud mencapai batas potensi pengembangannya pada rudal balistik Rodong-1 dan Taepodong-1.

Rudal Balistik Jarak Jauh Lainnya

Hwasong-14

Korut tidak hanya mengandalkan platform rudal Scud belaka sebagai basis dalam mengembangkan dan membangun rudal-rudal balistik jarak menengah dan jarak jauh. Keruwetan platform Scud dalam hal operasional seperti prosedur dan waktu pengisian bahan bakar pra-peluncuran membuat Korut ikut memikirkan platform alternatif lain dalam pengembangan rudal balistik jarak jauh.

Pada tahun 1992, Korut mengundang staf dan insinyur dari Biro Desain Makeyev di Rusia ke Pyongyang, untuk membantu menciptakan rudal jarak jauh. Biro Makeyev yang berpengalaman dalam merancang rudal balistik jarak jauh terutama rudal balistik berbasis kapal selam (SLBM) membawa rancangan blueprint SLBM R-27 Zyb sehingga lahirlah Hwasong-10 atau BM25 Musudan, versi lokal Korut dari SLBM R-27 Zyb buatan Rusia.

Era 2011 keatas menjadi titik dimana Korut mulai secara gencar mengejar kemampuan memproduksi rudal balistik antar benua (ICBM). Purwarupa-purwarupa rudal balistik antarbenua dipamerkan pada setiap parade militer Korut. Berbasis teknologi yang disadur dari R-27 Zyb / BM-25 Musudan, Korut menunjukkan keseriusan dalam mengejar kemampuan menciptakan ICBM yang dapat menghantam Amerika Serikat. 

Rudal balistik antarbenua (ICBM) bertipe KN-08 dan KN-14 yang muncul di setiap parade mulai tahun 2014, walau ditengarai hanya berupa "mock-up" belaka namun disinyalir Korut dengan serius mengembangkan sistem propulsi dan pemandu untuk kedua rudal ICBM tersebut.

Tahun 2017 menjadi momen di mana Korut membuktikan kemajuan progress pengembangan rudal jarak jauh dengan meluncurkan rudal IRBM Hwasong-12 dan rudal ICBM Hwasong-14. Berdasarkan hasil pemantauan trajectory rudal Hwasong-14, Hwasong-14 dikonfirmasi mampu mencapai jarak hingga 10.000 km, artinya rudal ICBM Hwasong-14 dapat menghantam benua Amerika. 

Rudal Balistik Berbasis Kapal Selam

Polaris-1

Tahun 2015 menjadi momen penting bagi program rudal balistik Korut, dengan keberhasilan ujicoba perdana rudal balistik berbasis kapal selam (SLBM) bernama Pukguksong-1 / Polaris-1. Dengan keberadaan Polaris-1, maka Korut secara teknis memiliki kemampuan untuk menyerang balik musuh secara diam-diam (Second Strike Capability). 

Polaris-1 juga menjadi pertanda bahwa Korut berhasil mengembangkan sistem propulsi roket berbahan bakar padat untuk rudal jarak jauh, maka kedepannya korut dapat menciptakan rudal jarak jauh dengan waktu persiapan dan peluncuran yang relatif singkat dibanding rudal berbahan bakar cair seperti keluarga Scud.

Di tahun yang sama dan tahun berikutnya, Korut mengujicoba rudal Pukguksong-2, versi perbaikan dari Pukguksong-1 dari platform peluncur di darat. Pengamat militer mengindikasikan bahwa Pukguksong-3 sedang dalam tahap pengembangan, diindikasikan dari rekaman-rekaman propaganda TV Korut mengenai kemajuan Rudal Balistik Korut pada medio akhir Agustus 2017. 

Kesimpulan

Perlahan tapi pasti, Korut mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam program riset dan pengembangan rudal balistik jarak jauhnya.

Sejak tahun 2016, Korut yang ditengarai berhasil mengecilkan ukuran hulu ledak nuklir hingga dapat dicantel di rudal-rudal balistiknya, menimbulkan kekhawatiran serius bagi para pengamat geopolitik dan militer di kawasan Asia, dengan Korut yang sukses mengecilkan ukuran hulu ledak nuklirnya, dan progress yang signifikan dalam pengembangan ICBM.

Hanya masalah waktu saja, dalam hitungan tahun, tidak sampai satu dekade, Korut mampu mencapai kemandirian dan kemajuan yang lebih signifikan lagi dalam program nuklir dan rudal balistik jarak jauh, dengan hasil akhir berupa ICBM-ICBM korut berisikan senjata nuklir, siap ditembakkan ke Amerika Serikat dan seluruh penjuru dunia.


sumber : 

  • Pinkston, D. (2008) "The North Korean Ballistic Missile Program". Carlisle Barracks, PA: Strategic Studies Institute, U.S. Army War College
  • Bermudez, Joseph S. (1999). "A History of Ballistic Missile Development in the DPRK: First Ballistic Missiles, 1979-1989"
  • Niksch, L (2006). "North Korea's Nuclear Weapons Program". Washington DC: Congressional Research Service.
  • Anonymous. (2009) "Ballistic and cruise missile threat". Ohio: National Air and Space Intelligence Center