Perkembangan teknologi dan panasnya persaingan perebutan tahta kekuasaan kancah perpolitikan menimbulkan sebuah terobosan terbaru yang di masa depan dapat terjadi. Melihat kemajuan teknologi AI (Artificial Intelligence) dan IoT (Internet of Things), menjadikan industri semakin maju dan efisien dalam menjalankan bisnisnya.

Tak bisa dipungkiri juga bahwa kendaraan politik seperti partai politik juga harus mempersiapkan percepatan motor politiknya untuk merebut kekuasaan. Munculnya kecanggihan robot (Android) dengan AI dan juga dikombinasikan dengan IoT akan memunculkan kandidat calon wakil rakyat dalam wujud robot.

Kelebihan robot di masa depan tentu sangat tepat dan cepat dalam pengambilan keputusan tanpa menimbulkan kerugian yang lebih besar daripada manusia yang menjalankan sistem pemerintahan. Maraknya kasus korupsi, tentu alternatif pilihan robot, dapat dipertimbangkan untuk di masa depan.

Sejarah dan peradaban kehidupan semakin canggih dan maju, sifat buruk manusia yang serakah dan haus akan pundi-pundi dunia menjadikan sistem pemerintahan diselubungi kepentingan kelompok semata dan mengorbankan keadilan dan kesejahteraan banyak orang. Meskipun ada beberapa sosok pemimpin manusia yang mengutamakan keadilan bagi seluruh rakyatnya.

Robot di era industri 5.0 atau 6.0 pada beberapa dekade di masa depan tentu akan banyak terciptanya robot yang terampil, multifungsi, dan cerdas yang banyak di pekerjakan pada sistem pemerintahan. 

Adanya robot diharapkan tindak pidana KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) semakin berkurang dan mungkin bersih dari kasus tersebut.

Masa depan mungkin akan banyak papan reklame yang dipenuhi spesifikasi kecanggihan robot yang akan menduduki kursi sistem pemerintahan. Tidak ada lagi wajah-wajah orang calon legislatif. 

Dalam rangka menyongsong masa depan itu, manusia di era industri 4.0 sudah dihadapkan beberapa kenyataan bahwa robot sudah dipekerjakan sebagai ASN di Saudi Arabia.

Bagaimana di Indonesia? Tentu sangatlah relevan dan selaras untuk mengurangi berbagai tindak pidana korupsi yang sangat menyengsarakan rakyat banyak. 

Terlebih, menjelang Pilkada atau Pilpres, suhu politik sangat tinggi dan panas. Kampanye hitam dengan isu-isu yang menyulut pudarnya toleransi dan kerukunan umat manusia sangat mengancam persatuan.

Tak bisa dimungkiri bahwa para elite politik berlomba-lomba merebut suara rakyat untuk memenuhi kehausan kekuasaan kepentingan kelompok semata. Meskipun tak sedikit yang melayani masyarakat dan berjuang atas nama kesejahteraan dan keadilan rakyat.

Kondisi jengah dan bosan melihat budaya bermedia sosial dalam kampanye menjelang pemilihan umum, seakan setiap calon yang diajukan pro-rakyat dan menggebu-gebu harus meraih dan menjadi puncak pemenang dari sistem pemerintahan.

Robot alternatif calon pemimpin negara atau lembaga negara?

Bagi penulis, melihat fenomena perpolitikan caci-mencaci yang tak terkendali pada media sosial, ada rasa kesedihan mendalam terkait itu. Dengan mempekerjakan robot dalam sistem pemerintahan, sangatlah tepat dan mencetak sejarah baru. 

Meskipun tidak dapat dilakukan pada era sekarang, paling tidak 20-30 tahun di masa depan, impian itu pasti ada secercah terwujud.

Tengok saja robot yang dipergunakan di industri sekarang, mereka dapat bekerja secara automasisasi dengan efisien, efektif, dan cepat. Jikalau sistem pemerintahan dilakukan dengan teknologi canggih dengan bantuan robot, pengurusan E-KTP, perpajakan, dan layanan public lainnya dapat ditangani lebih cepat tanpa birokrasi yang rumit dan lama.

Belum lagi pengurusan yang semacam itu, ada oknum yang bermain kotor harus dengan menyetor uang untuk “pelicin” agar berkas segera di proses. Budaya KKN harus segera dibumi-hanguskan di Bumi Nusantara.

Andai saja robot yang menduduki lembaga legislatif, tentu akan banyak perundang-undangan yang diterbitkan dan disahkan. Kursi-kursi dewan tidak lagi kosong tak berpenghuni, banyak pembahasan undang-undang yang diusulkan.

Itu hanya perumpamaan penulis jikalau robot menjadi pemimpin lembaga negara. Robot juga sudah memasuki gerbang kemutakhiran, ada robot yang diangkat menjadi warga negara, sebut saja “Sophia” robot yang mendapatkan warga negara di Arab Saudi.

Dunia sungguh sangat cepat berubah dan peradaban manusia juga telah masuk tahap kecanggihan teknologi yang melebihi kecerdasan rata-rata orang pada umumnya. Robot dan komputer era industri 4.0 telah membuka gerbang dengan percobaannya untuk melebihi batas kecerdasan orang dengan meletakkan AI pada tiap teknologi baru yang diproduksinya.

Sejarah manusia juga harus bersiap hidup berdampingan dengan robot di masa depan, karena perkembangan robot telah signifikan kemajuannya demi menuju dunia digital yang mutakhir. Hal inilah bisa saja muncul robot sebagai presiden di sebuah negara.

Industri robot yang semakin banyak inovasinya menimbulkan kegundahan bagi pegiat anti KKN untuk mencoba robot menduduki tahta tertinggi kekuasaan pada suatu negara. Robot diibaratkan bak pahlawan bagi pejuang anti tikus-tikus pencuri uang rakyat.

Dengan keberadaan robot, sistem secara langsung akan tersusun secara sistematis dan canggih untuk mengatur sedemikian untuk menjalankan proses yang diperintahkan. Robot masa depan akan menyerupai manusia seutuhnya yang mampu berpikir dan berposes seperti halnya manusia pada umumnya.

Era robotic akan segera meluncur mengisi kehidupan manusia di seluruh penjuru dunia, Saat ini sudah beberapa negara yang menggunakan robot di berbagai industri dan mengisi posisi pemerintahan.

Bagaimana dengan para pembaca budiman terkait Presiden Robot?