Sekali lagi saya katakan, sebagaimana pada tulisan sebelumnya, saya tidak suka berbicara tentang “sejarah kelam palsu” para sahabat. Karena bagi orang yang tidak kuat ilmu riwayat-nya, dia akan kesulitan mengurai benang kusut sejarah yang dipenuhi dengan riwayat kelam palsu. 

Bagi seorang pemula, dia akan dengan mudah kehilangan penghormatannya kepada para sahabat, yang oleh Allah swt sendiri dipuji, diridhoi, dan dinyatakan sebagai orang-orang benar.

Sedemikian pentingnya ilmu riwayat ini, hingga Abdullah bin al-Mubarak berkata, “Isnad adalah bagian dari agama. Seandainya tanpa isnad, siapapun akan berkata apapun seenaknya”. Artinya, kebohongan sejarah akan dengan mudah dijajakan lalu tanpa disaring dengan mudah dipercaya. Inilah keunggulan metode isnad untuk menangkal hoaks.

Barangkali, jika anda mendengar Perang Jamal, pikiran anda akan langsung terkonstruk bahwa perang itu adalah perang sayyiduna Ali ra melawan sayyidatuna Aisyah ra. Begitu juga, ketika anda mendengar perang Shiffin, pikiran anda akan langsung tertuju pada tipu muslihat sayyiduna ‘Amr bin al-‘Ash ra. Padahal tidak demikian realitas historisnya.

Tentang perang Jamal, akan penulis uraikan pada tulisan selanjutnya. Sedangkan tentang perang Shiffin, sudah penulis uraikan pada tulisan sebelumnya.

Imam Malik ra dan Pencemar Nama Baik Sahabat Rasulullah saw

Penulis teringat kisah imam Malik, saat didatangi seseorang yang mencemarkan beberapa sahabat Rasulullah saw. Imam Malik berkata kepada orang itu, “Apakah kamu termasuk orang benar yang dinyatakan langsung oleh Allah di dalam firman-Nya, ‘Orang-orang yang berhijrah yang terusir dari kampung halamannya dan meninggalkan harta bendanya demi mencari karunia Allah dan keridhoan-Nya dan dmei menolong Allah dan rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar (al-Hasyr [59]: 8)’”? orang itu menjawab, “Tidak”.

Imam Malik kembali bertanya, “Apakah kamu termasuk orang yang dipuji langsung oleh Allah swt di dalam firman-Nya, ‘Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin) dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan (al-Hasyr [59]: 8)’”? orang itu menjawab, “Tidak”.

Imam malik melanjutkan perkataannya, “Engkau sudah menyaksikan dirimu sendiri bahwa engkau bukan orang yang dinyatakan benar secara langsung oleh Allah swt dan bukan pula orang yang dipuji secara langsung oleh Allah swt. Maka saya bersaksi tentang dirimu, bahwa engkau bukan termasuk orang yang diharapkan di dalam al-Quran, ‘Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Penyantun dan Maha Penyayang (al-Hasyr [59]: 10)’”.

Maksud imam Malik, orang yang dinyatakan benar secara langsung oleh Allah swt dan dipuji langsung oleh Allah swt, di dalam dua ayat pertama di atas (al-Hasyr [59]: 8-9), adalah para sahabat. Dan orang ini, padahal diharapkan oleh al-Quran, pada ayat selanjutnya (al-Hasyr [59]: 10), agar mendoakan para pendahulunya dan membuang kedengkian dari dalam hatinya, namun dia tidak melaksanakan harapan al-Quran itu.

Sikap Ilmiah dan Kritik Terhadap Sahabat

Barangkali masih ada yang berkelit, ini merupakan sikap ilmiah, bukan mencaci maki, tapi hanya sekedar kritik membangun. Penulis jawab, jika demikian, kritiklah dengan menggunakan ilmu pengetahuan yang sudah diwariskan oleh para ulama, yaitu ilmu kritik sanad. Ilmu ini akan menjelaskan informasi historis yang benar-benar sejarah, atau hanya kebohongan belaka.

Apakah Kepalsuan itu disengaja?

Sebenarnya, berita palsu itu terlahir dari ketidakmengertian para pembaca sejarah. Mereka mengira bahwa semua sejarah yang ditulis ath-Thabari adalah valid (sahih), padahal ath-Thabari tidak mengatakannya demikian. Ath-Thabari menuangkan riwayat sesuai sanadnya. Artinya, ath-Thabari ingin mengatakan bahwa riwayat yang ditulis itu harus dicek sanadnya.

Jika sanadnya sahih, maka riwayatnya sahih. Jika sanadnya tidak sahih, maka kisah yang diriwayatkannya juga tidak sahih. Sayangnya, ada seseorang yang membaca kisah yang diriwayatkan ath-Thabari semuanya sahih, karena melihat nama besar ath-Thabari. Lalu tersebarlah kisah-kisah yang lebih rumit dari benang kusut, bagi yang tidak hati-hati terhadap sanad itu.

Terbunuhnya ‘Utsman; Prophecy Rasulullah

Sayyiduna ‘Utsman ra, sebenarnya, sudah mengetahui secara meyakinkan bahwa dia akan mati syahid, karena diberi tahu oleh sayyiduna Rasulullah saw, baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

Secara langsung, terdapat hadis yang diriwayatkan oleh imam Ahmad di dalam Musnad-nya, dari Ibnu ‘Umar ra. Bahwa waktu itu, Rasulullah saw sedang bersabda tentang sebuah fitnah, kemudian seorang laki-laki melintas. Lalu Rasulullah saw bersabda, “Orang laki-laki yang bertudung kepala ini akan terbunuh secara zhalim di dalam fitnah itu”. Ibnu Umar berkata, “Saya melihat laki-laki tersebut. Ternyata dia adalah Utsman”.

Juga terdapat hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, di dalam kitab sahih mereka berdua, dari Abu Musa al-Asy’ari, bahwa Rasulullah saw memasuki sebuah kebun. Sayyiduna Abu Musa al-Asy’ari berkata, “Rasulullah memerintahkanku menjaga pintu kebun.

Kemudian, datang seorang laki-laki meminta izin masuk”. Rasulullah saw bersabda, “Bolehkan dia masuk, dan berilah kabar gembira bahwa dia akan masuk surga”. Ternyata, laki-laki itu adalah sayyiduna Abu Bakar ra. Kemudian datang seorang laki-laki lain meminta izin masuk. Lalu Rasulullah saw bersabda, “Bolehkan dia masuk, dan berilah kabar gembira bahwa dia akan masuk surga”. Ternyata, laki-laki itu adalah sayyiduna ‘Umar bin al-Khaththab.

 Kemudian datang seorang laki-laki lain meminta izin masuk, lalu Rasulullah saw diam sejenak dan bersabda, “Bolehkan dia masuk, dan berilah kabar gembira bahwa dia akan masuk surga melalui sebuah cobaan yang akan menimpanya”. Laki-laki ini adalah sayyiduna ‘Utsman, dan cobaan yang akan menimpanya adalah terbunuhnya sebagai syahid.

Secara tidak langsung, informasi itu diketahui pada peristiwa guncangnya gunung Uhud. Pada waktu itu, ketika Rasulullah saw, sayyiduna Abu Bakar ra, sayyiduna ‘Umar, dan sayyiduna ‘Utsman berada di atas gunung Uhud, tiba-tiba gunung Uhud bergerak, lalu Rasulullah saw bersabda, “Tenanglah, wahai Uhud, karena di atasmu ada seorang nabi, seorang siddiq, dan dua orang syahid”.

Yang dimaksud seorang nabi, di dalam hadis di atas, jelas adalah Rasulullah saw. Yang dimaksud siddiq, tidak diragukan lagi adalah sayyiduna Abu Bakar as-Siddiq ra. Sedangkan dua orang syahid yang dimaksud adalah sayyiduna ‘Umar ra dan sayyiduna ‘Utsman ra. Karena di atas gunung itu memang hanya ada mereka.

Juga terdapat hadis sahih, saat Rasulullah saw, Abu Bakar ra, sayyiduna ‘Umar ra, sayyiduna ‘Utsman, sayyiduna ‘Ali, sayyiduna Thalhah, dan sayyiduna Zubair ra berada di atas gunung Hira’. Tiba-tiba, gunung Hira’ bergerak, lalu Rasulullah saw bersabda, “Tenanglah (wahai Hira’), karena di atasmu ada seorang nabi, seorang siddiq, atau seorang syahid”.

Jadi, terbunuhnya sayyiduna ‘Utsman merupakan prophecy yang secara meyakinkan akan terjadi dan ditunggu oleh dirinya sendiri dan orang lain.

Para Sahabat Melindungi ‘Utsman ra

Pada waktu itu, fitnah sudah bergejolak sangat dahsyat di Madinah. Para arab badui, para budak, dan para rakyat jelata “dikompori” oleh Ibnu Saba’, seorang Yahudi yang masuk Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam. Permasalahan terus berlangsung lama. Sayyiduna ‘Utsman dikepung di dalam rumahnya, tidak diberi air, dan dicegah untuk mencapai sumur yang digali dengan biaya hartanya sendiri dan didermakan di jalan Allah untuk orang-orang mukmin.

Para sahabat yang lain tidak meninggalkan dan tidak menyerahkan sayyiduna ‘Utsman. Bahkan mereka mengirimkan putra-putra mereka untuk melindungi sayyiduna ‘Utsman. Sayyiduna Abdullah putra sayyiduna ‘Umar, sayyiduna Abdullah putra sayyiduna Zubair, sayyiduna Hasan putra sayyiduna Ali, sayyiduna Husain putra sayyiduna Ali, dan para sahabat yang lain mendatangi sayyiduna ‘Utsman.

Tetapi, setiap sahabat yang mendatangi sayyiduna Utsman ra, yang ingin menolongnya dan ingin menghalangi orang-orang yang akan membunuhnya, sayyiduna ‘Utsman menyuruh mereka dengan berkata, “Saya ingin dengan sungguh-sungguh, terhadap orang yang taat kepadaku, untuk menyarungkan pedangnya lalu pulang ke rumahnya”. Kenapa? Karena sayyiduna ‘Utsman ra sudah mengetahui bahwa dirinya akan terbunuh. Jadi, hal itu dilakukan untuk mencegah pertumpahan darah kaum muslim.

Maka benar, sayyiduna ‘Utsman ra terbunuh syahid secara zhalim, mengorbankan dirinya demi para sahabat yang lain, dan bersabar terhadap cobaan Allah swt seperti yang sudah di-prophecy-kan oleh Rasulullah saw.

Kebohongan Di Sekitar Kronologi Terbunuhnya Utsman

Kisah di atas menunjukkan, tutur al-Kamali, apa yang anda lihat di banyak buku sejarah, bahwa sekelompok sahabat Rasulullah saw ridho terhadap pembunuhan sayydina Utsman ra, bahkan membantu proses pembunuhan itu, bahkan mereka ikut serta dengan tangannya sendiri, semua itu adalah murni kebohongan, tidak ada sanad sahih (valid) yang mendukungnya, bahkan hal itu bertentangan dengan sanad yang sahih dan bersih.

Penulis tidak menuliskan kisah-kisah bohong di sekitar koronologi terbunuhnya sayyiduna Utsman ra, karena hal itu akan menyebarkan syubhat (kerancuan).

Status Riwayat Ath-Thabari

Barangkali nanti akan ada yang berkata, bagaimana mungkin riwayat ath-Thabari, imam para ahli tafsir, bisa lemah dan bohong? Ketahuilah, bahwa ath-Thabari ra tidak mensyaratkan dirinya untuk menuliskan riwayat-riwayat sahih saja. Dia hanya meriwayatkan di dalam kitabnya, semua riwayat yang ada di dalam ilmu pengetahuan, semua yang beredar di tengah-tengah pengetahuan, dia meriwayatkannya dengan mencantumkan sanad-sanadnya. Jadi, lihatlah sanadnya!

Ath-Thabari tidak pernah mengatakan, “Saya hanya menuliskan riwayat sahih saja. Semua riwayat sejarah yang ada di dalam kitab saya adalah kebenaran dan hak”. Bahkan, sebenarnya ath-Thabari meriwayatkan kisah yang benar sekaligus kisah yang bertentangan dengan kebenaran itu, tetapi dicantumkan dengan sanadnya. Karena itu, penting mengetahui ilmu kritik sanad. 

Jadi, ath-Thabari tidak bertanggung jawab terhadap konten riwayatnya, karena sudah disebutkan dengan sanadnya. Orang yang mempelajari ilmu kritik sanad akan mengetahui mana riwayat yang benar dan mana riwayat yang bohong.