Debat pertama Capres-Cawapres untuk Pilpres 2019 sudah selesai. Pasca debat, rupa-rupa penilaian terhadap proses dan hasil debat dari masyarakat bermunculan. 

Evalusi pasca debat yang paling ramai dapat disaksikan di media sosial. Banyak aspek dinilai oleh para netizen, mulai dari cara bicara, kesantunan, kredibilitas data, hingga kecenderungan debat yang hanya mempertontonkan pola debat kusir, yaitu model debat yang tidak tentu ujung pangkalnya. 

Setiap kandidat keukeuh mempertahankan pendirian dan kebenaran yang dipegangnya meski dengan argumen yang ngawur.

Saya mempunyai penilaian sendiri tentang debat dua kandidat ini. Penilaian saya tertuju kepada rendahnya pengertian dua kandidat tentang rivalitas. 

Bukti rendahnya pemahaman kedua kandidat soal aspek ini adalah ketika pemandu debat meminta untuk memberikan hal positif dan negatif kepada masing-masing kandidat. Dari jawabannya, kedua kandidat cenderung sulit untuk menyuarakan hal positif dari lawan debat, lebih banyak menyindir bahkan menyuarakan hal negatif. 

Rivalitas yang ketat itu boleh-boleh saja, tetapi paling tidak bahwa kedua kandidat mestinya saling menunjukkan penghargaan antara satu terhadap yang lain, sehingga pesta demokrasi tidak terksesan sebagai perang demokrasi. 

Tentang rivalitas, ingatan saya kembali pada duel Manchester United versus Arsenal tanggal 29 April 2018. Sebelum pertandingan dimulai, kubu lawan yakni Manchester United membuatkan satu perayaan kecil untuk Arsene Wenger, pelatih Arsenal waktu itu yang memutuskan pensiun di akhir musim Liga Inggris kemarin.

Itu adalah sebuah perayaan ketika Manchester United memberikan penghargaan kepada Arsene Wenger, mengingat dedikasi tingginya bagi Arsenal, salah satu klub besar Inggris yang pernah mencatatkan sejarah sebagai satu-satunya klub di Inggris yang pernah membuat rekor tak terkalahkan selama satu musim, yaitu musim 2003/2004. Perayaan itu, walau singkat, tapi sangat berkesan untuk siapa saja, secara khusus untuk fans kedua klub.  

Di bawah asuhan sang Profesor, begitu julukan Wenger, Arsenal meraih masa jayanya. 22 tahun membina Arsenal, Wenger tercatat sudah melakoni 1192 pertandingan bersama klub. Ia juga sempat membantu Meriam London meraih tiga kali gelar juara Liga Inggris, tujuh kali piala FA (Kompetisi tertua di daratan Inggris), serta tujuh kali FA Community Shield.

Bisa dibilang, Wenger sudah banyak berjasa untuk nama besar Arsenal. Berkat prestasi dan kejeniusan mengorbit bakat muda, Wenger sukses merusakkan dominasi Manchester United sebagai salah satu klub tersukses di Liga Inggris di awal periode 90-an hingga kini. 

Tidak berlebih ketika kita mengklaim saat ini bahwa sulit membayangkan Arsenal tanpa Wenger dan Wenger tanpa Arsenal. Identitas keduanya sudah saling melekat sehingga sulit memisahkan citra keduanya.

Makna Positif Rivalitas

Kisah kesuksesan Wenger di Arsenal dan suksesnya dia merusakkan dominasi Manchester United adalah awal mulanya rivalitas kedua klub. Menariknya, di tengah rivalitas ini, penghargaan terhadap Wenger menjelang pensiun diberikan oleh sebuah klub yang merupakan salah satu rival abadi Arsenal, Manchester United. 

Manchester United dan Arsenal dalam sejarahnya di liga Inggris merupakan dua klub besar yang sering kali tidak akur ketika kedua tim berlaga di atas lapangan. Akan tetapi rivalitas, pada akhirnya tidak abadi. 

Buktinya, rivalitas Arsenal dan Manchester United yang sering kali panas itu berbalik jauh ketika Wenger yang hendak mengakhiri pengabdian sebagai pelatih di Arsenal mendapatkan sambutan hangat serta diberikan penghargaan oleh Manchester United. Sontak seisi Old Trafford yang dipenuhi supporter dua kubu yang biasanya garang dan ganas, satu dalam respek memberikan penghormatan terakhir kepada salah satu pelatih besar di Inggris.

Tanda kehormatan diberikan Sir Alex Ferguson. Ironis membayangkan sebuah penghargaan diberikan oleh seorang “musuh”. 

Akan tetapi, sepak bola melampaui ironi. Ia justru indah ketika ia menciptakan ironi sekaligus melampuainya. Tidak ada yang mustahil bagi sepak bola. Dan kredo ini saya pikir berlaku untuk setiap suporter bola di belahan dunia ini.

Bagi saya, momen ini tidak hanya menunjukkan indahnya sepak bola dalam mengolah ketidakmungkinan menjadi kemungkinan, tapi lebih dari itu, peristiwa ini juga memberikan makna atau nilai kehidupan yang mendalam tentang rivalitas dan bagaimana ia mesti disikapi dalam hidup.

Apresiasi MU atas Wenger memang tidak akan meniadakan rivalitas kedua klub. Dan Lebih jauh saya membaca tindakan apresiatif terhadap Wenger memberikan arti baru nan positif bagi kata rivalitas. 

Bahwasanya rivalitas bukan persaingan untuk memenuhi egoisme dan ambisi pribadi melulu, tapi rivalitas atau persaingan mesti juga berarti sebuah proses menguatkan kepekaan kedua pihak yang bersaing untuk mendewasakan diri dan menerima kompetisi bukan sebagai jalan mengekalkan musuh dan jarak tapi memajukan peradaban manusia untuk satu tujuan bersama, yang dalam sepak bola kita kenal respect, penghormatan satu sama lain.

Dan karena itu momen-momen magis seperti ini membuat sepak bola indah dan enak ditonton. Untuk saya sepak bola itu indah, dia bukan hanya tentang seni olah bola dan strategi yang dipertontonkan. Akan tetapi dia juga adalah tempat di mana nilai-nilai kehidupan diwujudkan sekaligus dirayakan.

Wenger dan Rivalitas Menjelang Pilpres 2019

Pilpres 2019 menghitung hari saja. Seiring dengan mendekatnya pilpres, pasti rivalitas antarkubu calon pemipin akan menguat dengan drastis tanpa terkendali. Karena itu, rivalitas mesti dikontrol jangan sampai ia berubah menjadi konflik kepentingan yang merusak dan memecah belah masyarakat.

Karena itu, penting untuk belajar dari momen-momen magis dari sepak bola sebagai hal normatif dalam memaknai rivalitas secara positif sebelum kompetisi politik dalam pilpres 2019.

Karena itu, penulis mengajak kita untuk belajar dari momen penghargaan terhadap Wenger oleh pihak Manchester United sebagai pembelajaran untuk memaknai rivalitas dalam ketatnya persaingan politik menjelang pesta demokrasi lima tahunan ini.

Politik adalah seni untuk mengatur kesejahteraan bersama. Rivalitas dalam politik perlu, tapi jangan sampai rivalitas menghilangkan nilai respek sebagai saudara dalam kemanusiaan sekaligus saudara dalam keindonesiaan. Jangan sampai rivalitas menjarakkan sekaligus memecahbelah masyarakat ke dalam kubu-kubu identitas, kesukuaan ataupun agama tertentu.

Sebaliknya, rivalitas dalam pemilu seharusnya menyatukan meniscayakan pemberian apresiasi antara para calon pemimpin yang berkompetisi di dalam pemilu itu sendiri. Dengan memahami rivalitas seperti ini, para calon pemimpin ikut berperan dalam mendidik masyarakat untuk bersikap fair, saling menghargai perbedaan serta berusaha untuk menghindarkan diri dari pontensi konflik terbuka karena adanya kampanye hitam dan saling menyudutkan.

Rivalitas politik harus tetap berada dalam koridor politik akal sehat, sehingga berdaya mencerahkan masyarakat untuk memilih pemimpin yang betul jual program, jual kualitas dan kemampuan diri yang mumpuni, bukan menjual kemiskinan, isu-isu murahan yang menjelakkan pribadi calon-calon tertentu, atau terlalu membangga-banggakan diri.

Penghargaan terhadap Wenger oleh Sir Alex Ferguson, yang mewakili keluarga besar Manchester United  menampilkan sisi lain dari sepak bola. Rivalitas selalu ada tapi rivalitas yang sama tidak pernah abadi. 

Di samping sebagai bumbu yang membuat kompetisi lebih enak, lebih bergairah untuk dinikmati, rivalitas seharusnya juga merupakan proses pendewasaan diri agar semakin kita berbeda semakin kita juga mengedepankan sikap saling menghormati serta mengapresiasi perbedaan secara tulus dan jujur.

Rivalitas harus antar kita pada kesadaran bahwa memberi respek dan menyisihkan jauh ambisi pribadi yang berpotensi merusak kehidupan adalah nilai tertinggi dari kehidupan. Sepak bola sukses menampilkan kepada kita pembelajaran tentang hidup yang seyogianya dihidupi. Rivalitas politik dalam pilpres 2019 mesti dihidupi dalam semangat ini.