Catatan ini dibuat sebagai refreshing atas keadaan runyam yang dialami oleh Chelsea Football Club dan Yamaha MotoGP. Artikel di sini dibatasi kepada artikel yang ditulis dengan format akademik. Biasanya artikel jenis demikian disebut artikel ilmiah, karya ilmiah, atau jurnal ilmiah, tapi saya tak mau menyebut demikian karena membuka peluang penyempitan makna ilmiah.

Apakah riset itu?

Jika ada pertanyaan apakah riset itu, maka beberapa jawaban yang dapat kita berikan sebagai berikut:

  • Riset bukan sekedar melakukan percobaan di laboratorium. Sekarang para ilmuwan sepakat bahwa banyaknya riset yang dilakukan orang tidak diukur dari berapa lama ia bekerja di laboratorium dan berapa banyak topik riset yang telah ia kerjakan. Riset diukur dari telah berapa banyak publikasi artikel ilmiah atau paten yang dihasilkan.
  • Riset adalah usaha untuk mencari pemecahan/jawaban terhadap permasalahan yang belum terjawab.
  • Riset harus dilakukan berdasarkan metode ilmiah yang baku yang diakui oleh komunitas ilmiah di bidang masing-masing.
  • Riset harus mengandung unsur baru (originalitas), yaitu topik yang dikerjakan belum pernah dilakukan orang lain sebelumnya.
  • Karena belum pernah dilakukan orang maka riset sering kali sulit (masih gelap). Itulah sebabnya mengapa hasil dari kegiatan riset tersebut baru bisa ditulis dalam artikel ilmiah setelah melakukan riset selama beberapa bulan, bahkan bisa lebih dari setahun.

Bagaimana memulai riset?

Bagaimana kita memulai riset sehingga riset kita akan menghasilkan penemuan baru yang dapat digunakan untuk menulis artikel ilmiah atau dipatenkan? Beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai berikut:

  • Kita harus bisa mengidentifikasi masalah apa yang belum ada jawabannya.
  • Untuk itu kita perlu banyak membaca referensi, khususnya refensi pada publikasi terbaru.
  • Dalam artikel-artikel yang diterbitkan di sejumlah jurnal kadang dijumpai masalah yang belum terjawab (sebagian diungkapkan oleh penulis dan sebagian harus disimpulkan sendiri oleh pembaca). Inilah yang harus kita identifikasi. Untuk ini perlu perenungan yang mendalam ketika kita membaca artikel orang dan tentu saja perlu kebiasaan yang cukup lama. Sangat mustahil kita dapat mengindentikasi masalah-masalah yang masih ada di artikel-artikel ilmiah andaikan kita baru saja memulai kebiasaan membaca artikel ilmiah.
  • Kita juga harus yakin bahwa fasilitas, dana, atau waktu yang kita miliki atau institusi kita miliki akan cukup untuk melaksanakan riset tersebut (sadar diri). Jangan melakukan riset yang memerlukan biaya amat besar yang tidak mungkin kita mendapatkan biaya tersebut. Jangan melakukan riset yang memerlukan peralatan canggih dan mahal di mana kita tidak memiliki alat tersebut atau tidak memiliki akses untuk menggunakan alat tersebut.

Bagaimana kita melakukan riset?

Untuk mencapai tujuan riset secara efektif dan efisien, apa yang harus kita lakukan? Beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai berikut:

  • Kita harus melakukan riset dengan “smart”.
  • Kalau bisa di kepala sudah “tergambar” hasil apa yang akan kita peroleh sehingga riset yang kita lakukan seolah-oleh menjustifikasi apa yang ada dalam kepala.
  • Dengan cara ini kita dapat me-manage riset secara efektif dan efisien. Apa yang kita sintesis/buat maupun yang kita ukur menjadi terarah.
  • Cara ini juga berimplikasi pada penghematan waktu dan biaya

Bagaimana menemukan ide dari artikel orang?

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana caranya agar kita mampu mengidentifikasi masalah dari artikel orang yang sudah dipublikasi? Untuk tujuan ini, beberapa hal yang dapat kita lakukan sebagai berikut:

  • Kita harus banyak membaca artikel.
  • Baca baik-baik pendahuluan artikel orang. Biasanya di situ ditulis apa latar belakang riset mereka. Sering kali latar belakang tersebut muncul dari hasil membaca artikel orang sebelumnya.
  • Amati kesesuaian data pengamatan dengan hasil teori atau simulasi dalam artikel orang. Jika berbeda, pikirkan teori atau metode simulasi yang berbeda.
  • Bagi orang yang kerja eksperimen, banyak-banyaklah membaca artikel teori. Fokuskan pada teori yang belum ada data eksperimennya. Mungkin anda bisa melakukan eksperimen untuk membuktikan teori tersebut.
  • Bagi orang teoretik, banyak-banyaklah membaca artikel eksperimen. Fokuskan pada eksperiman yang belum ada teorinya. Mungkin anda bisa membanngun teori untuk menjelaskan data eksperimen tersebut.

Perlu diingat, kemampuan semacam ini tidak bisa muncul tiba-tiba atau dalam waktu singkat. Kemampuan tersebut akan terbentuk setelah melalui latihan atau usaha dalam waktu yang lama.

Jika data saya berbeda?

Kadang terjadi dalam penelitian data yang kita peroleh tidak bersesuaian atau bahkan bertentangan dengan data yang ada di artikel orang lain yang sudah dipublikasikan. Jika hal demikian yang terjadi apa yang harus kita lakukan? Berikut adalah beberapa saran:

  • Jika data eksperimen anda berbeda dengan orang lain jangan pesimis dulu. Siapa tahu itu adalah temuan baru, selama anda mengikuti kaidah riset yang benar.
  • Tidak ada data eksperimen yang salah selama menggunakan alat yang benar dan melakukan tahap eksperimen yang benar.
  • Untuk data yang berbeda tersebut, sebaiknya anda melakukan berulang-ulang sehingga anda benar-benar yakin bahwa hasil anda tersebut benar.
  • Tinggal anda perlu menjelaskan mengapa hasil anda berbeda dengan orang lain. Ini yang harus anda tulis di artikel.

Setelah riset, lalu apa?

Setelah kita melakukan riset dan mendapat hasil-hasil yang baru, apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Berikut ini adalah beberapa saran:

  • Mempublikasikan hasil anda di dokumen ilmiah yang sesuai, atau
  • Mengajukan hak paten.

Ini harus segera dilakukan, sebab jika ada orang lain (di belahan Bumi mana pun) yang kebetulan melakukan riset yang sama dan mendapatkan hasil yang sama dengan anda kemudian mempublikasikannya, maka hak anda atas riset tersebut menjadi gugur.

Ingat, anda bulan satu-satunya orang di dunia yang melakukan riset topik yang sama. Mungkin ada ribuan orang yang melakukan riset yang sama dengan anda. Jadi, cepat-cepat publikasi atau patenkan jika ada sudah mendapatkan hasil. Langkah ini akan menjamin kepemilikan anda pada hasil riset tersebut, atau hasil riset anda dapat dimanfaatkan oleh orang lain. Ingat. Tidak ada gunanya hasil riset anda simpan sendiri. Publikasikan supaya orang lain bisa memanfaatkannya.

Pikirkan, apakah tidak disayangkan jika anda:

  • Memiliki hasil riset yang dapat dijadikan artikel ilmiah,
  • Yang bisa jadi bermanfaat bagi orang banyak,
  • Yang bisa jadi membuat keparakan anda dikenal orang banyak,

Tetapi anda menyimpan begitu saja.

Jika anda menjawab: “sangat disayangkan,” apa yang harus anda lakukan? Salah satu yang dapat anda lakukan adalah menulis artikel ilmiah.

Bayangkan jika anda telah selesai menulis skripsi/tesis/disertasi:

  • Coba hitung, berapa eksemplar yang anda buat? Paling-paling tidak lebih dari 10 buah
  • Coba hitung, berapa orang yang memegang copy tesis/disertasi anda? Paling banyak 10 orang
  • Coba hitung, berapa orang yang dapat membaca skripsi/tesis/disertasi anda? Sangat sedikit. Orang baru bisa membaca jika datang ke perpustakaan tempat anda menyimpan skripsi/tesis/disertasi.
  • Apakah tidak disayangkan jika hanya ini yang terjadi?
  • Apakah tidak lebih baik jika lebih banyak orang membaca dan mengapresiasi karya yang telah anda lakukan dengan pengorbanan luar biasa itu?

Lalu bagaimana caranya?

Jawabannya hanya satu: tulislah artikel ilmiah dari skripsi atau tesis atau disertasi anda lalu kirim ke jurnal ilmiah.

Pertanyaan: bisakah data dari skripsi atau tesis atau disertasi dijadikan artikel ilmiah? Jawabannya sangat tegas: bisa! Pertanyaan yang lebih mendasar sebenarnya adalah: anda mau melakukannya atau tidak! Modal yang diperlukan untuk merealisasikan skripsi atau tesis atau disertasi menjadi artikel di antaranya adalah:

  • Kerja keras untuk menulis ulang data tersebut dalam bentuk artikel
  • Yakinlah, tidak bisa selesai dalam satu/dua hari
  • Butuh waktu lama dan koreksi berulang-ulang
  • Lebih sulit bagi pemula sehingga seorang yang baru pemula dalam menulis artikel harus kerja lebih keras lagi dan lebih sabar.

Tetapi, jika anda tidak mencoba, pasti tidak akan memiliki artikel ilmiah. Akibatnya karya anda tidak bermakna banyak dan sebenarnya anda tidak menghargai pengorbanan anda. Anda sebenarnya bisa membuat karya anda lebih bermakna dan bermanfaat bagi orang lain, tetapi anda tidak melakukannya.

Untuk menulis artikel dari tesis atau disertasi, dari mana kita memulai? Kita dapat melakukannya secara bertahap.

  • Jika menembus jurnal internasional sulit? Tulislah untuk jurnal nasional terakreditasi.
  • Jika jurnal nasional sulit?? Tulislah untuk seminar.
  • Jika untuk seminar juga sulit??? Berarti anda tidak percaya diri.

Ketika anda menulis di jurnal ilmiah, khususnya jurnal ilmiah yang sudah online, maka secara tidak langsung anda mempromosikan kepakaran anda ke masyarakat internasional. Dengan fasiltas internet, kita begitu mudah menilai kepakaran seseorang. Orang tidak bisa lagi berbohong tentang kepakarannya karena dengan transparan dapat kita lihat di layar komputer.

Salah satu metode untuk menilai kepakaran seseorang adalah menggunakan mesin pencari Google Scholar (http://scholar.google.com). Mesin pencari ini hanya mencari segala hal yang berkaitan dengan kepakaran atau intelektualitas yang berupa akademik, karya ilmiah, paten, dan karya lainnya. Karya-karya yang tidak ada kaitannya dengan kepakaran tidak akan muncul dalam pencarian Google Scholar. Para selebritis yang banyak sekali terdeteksi dengan mesin pencari Google (http://www.google.com) hampir tidak akan terdeteksi dengan mesin pencari Google Scholar.

Pada tampilan Google Scholar, masukkan nama anda atau nama pakar idola anda ke dalam kotak pencarian, lalu tekan tombol pencarian. Apakah nama tersebut keluar? Jika tidak keluar sama sekali maka kepakaran yang bersangkutan diragukan. Mungkin yang bersangkutan menjadi pakar hanya karena menjadi komentator di media, tetapi dalam komunitas intelektulitas internasional yang bersangkutan tidak memiliki karya apa-apa. Dengan pernyataan yang agak keras, yang bersangkutan sebanarnya bukan pakar, tetapi lebih tepatnya tokoh popular.

Bagaimana Cara Mengukur Dampak Ilmiah Artikel yang Diterbitkan?

Tanpa data statistik, saya menduga masih terdapat orang yang menggunakan jumlah kutipan pada artikel untuk mengukur kualitas artikel tersebut. Penggunaan tersebut didasari oleh anggapan bahwa kalau artikel memperoleh banyak kutipan, berarti produk yang ditawarkan dalam artikel tersebut “laris terjual”.

Dari situ muncul ukuran kinerja sebuah jurnal yang kita kenal sebagai impact factor (IF) atau faktor dampak. IF dihitung berdasarkan jumlah rerata kutipan pada tahun tertentu yang diterima setiap artikel yang diterbitkan oleh jurnal tersebut selama dua tahun sebelumnya. Namun, kalau ditelisik, IF dan jumlah kutipan tidak dapat dipakai untuk mengukur kinerja penulis.

Mengukur kinerja seorang penulis memang tidak mudah. Kalau jumlah artikel yang dihasilkan penulis dipakai sebagai kriteria, cara ini tidak menunjukkan arti penting hasil penelitian yang dilakukan. Jumlah total kutipan yang diperoleh juga tidak dapat dipakai, karena akan menjadi kacau ketika artikel ditulis keroyokan oleh lebih dari satu orang. Jumlah rerata kutipan per artikel juga tidak elok dipakai, karena cara ini menguntungkan penulis dengan produktivitas rendah sekaligus membunuh penulis yang produktivitasnya tinggi.

Karena belum ada cara efektif dalam menilai kinerja seorang ilmuwan secara kuantitatif, Jorge Eduardo Hirsch, fisikawan material kelahiran Buenos Aires yang bermain untuk University of California, San Diego, mengusulkan sebuah indeks yang namakan ‘h-index’ atau ‘indeks-h’ pas 15 November 2005.[1] Huruf ‘h’ dimaksudkan sebagai inisial nama keluarga pengusul, ialah ‘Hirsch’.

Perhitungan menggunakan h-index seperti ini: kalau penulis memiliki artikel sebanyak ‘h’ dengan jumlah kutipan untuk setiap artikel tersebut oleh penulis lain minimal sama dengan ‘h’, nilai kinerja penulis sama dengan ‘h’. Contoh: kalau penulis memiliki 2 artikel dengan jumlah kutipan untuk setiap artikel tersebut oleh penulis lain minimal 2, nilai kinerja penulis tersebut menurut perhitungan h-index sama dengan 2.

Dengan cara tersebut, Jorge Eduardo Hirsch memperkirakan bahwa nilai h-index antara 10 dan 12 adalah nilai rerata yang diperoleh seorang associate professor di Amerika Serikat, sementara profesor penuh umumnya akan mencapai nilai h-index ≥ 18. Penerima keanggotaan American Physical Society (APS) biasanya memiliki h-index antara 15 sampai 20, sementara anggota National Academy of Sciences (NAS) umumnya memiliki h-index ≥ 45.[1] Kalau Physical Society of Indonesia (PSI). Terus terang saya belum paham tata kelola riset di Indonesia (fans BLΛƆKPIИK masa perlu tahu, ye kan?).

Perhitungan menggunakan h-index juga dapat dipakai untuk mengukur kinerja ilmiah sebuah terbitan, sebuah lembaga, dan bahkan sebuah negara. Kalau gagasan Indra Jaya Piliang untuk membangun semacam LIPI di setiap kota/kabupaten mewujud, h-index juga dapat dipakai untuk mengukur kinerja ilmiah sebuah kabupaten/kota.

Kalau memiliki kegemaran menulis, mengapa tidak mencoba menghitung h-index? Mesin pencari Google Scholar dapat membantu dalam hal ini. Bisa juga memanfaatkan Publons, yang langsung berkaitan dengan Web of Science. Saya sendiri kalau menghitung h-index pribadi hari ini, baru memperoleh angka 3.[2] Fadhli Lukman, seteru saya yang bermain di Albert-Ludwigs-Universität Freiburg, sudah memperoleh h-index sebesar 1.[3] Sayang Surotul Ilmiyah dan Laila Fariha Zein belum membuat akun Google Scholar, sehingga perlu perhitungan manual. Hasil perhitungan manual untuk Ilmy & Laila menghasilkan h-index sebesar e+1, ehm. Dua pembimbing saya, Buk Setiya Utari dan Pak Kusnadi, masing-masing memiliki h-index 5, entah itu Rukun Islam atau Pancasila.[4][5] Embuhhhhhh....

Alobatnic, penggemar berat BLACKPINK.

Blog pribadi: http://alobatnic.blogspot.com/

Referensi

[1] Jorge Eduardo Hirsch. (2005, 15 November). An index to quantify an individual's scientific research output. PNAS. 102 (46): 16569–72. DOI: https://doi.org/10.1073%2Fpnas.0507655102

[2] Adib Rifqi Setiawan - Google Scholar Citations. URL: https://scholar.google.com/citations?user=GPyPf8sAAAAJ

[3] Fadhli Lukman - Google Scholar Citations. URL: https://scholar.google.co.id/citations?user=V_A_-GwAAAAJ

[4] Setiya Utari - Google Scholar Citations. URL: https://scholar.google.co.id/citations?hl=id&user=ZfhqrlQAAAAJ

[5] Kusnadi - Google Scholar Citations. URL: https://scholar.google.co.id/citations?hl=id&user=Ov6JZtcAAAAJ