Belakangan ini hati saya tergelitik untuk mempertanyakan makalah ilmiah (scientific paper). Saya khawatir ruh makalah ilmiah ini telah dilupakan oleh masyarakat ilmiah kita, yang sangat mungkin telah menjadi penyebab ketertinggalan prestasi kita dibandingkan negara lain.

Buat saya, makalah ilmiah tidak lebih dari sebuah laporan hasil salah satu kegiatan tri-darma perguruan tinggi, yaitu penelitian, dalam bentuk ringkas namun padat (concise) dan mengikuti kaidah-kaidah yang telah disepakati oleh komunitas penelitian tersebut. Tidak lebih dari itu.

Tentu saja jika ada pelaporan, harus ada yang menerima dan memeriksa laporan tersebut. Siapa lagi yang kompeten untuk memeriksa laporan ini kalau bukan kolega sejawat dan sebidang yang sangat paham makna hasil penelitian tersebut. Karena laporan ini bersifat ilmiah, maka kebenaran di dalamnya haruslah dapat disanggah secara universal, menembus kungkungan negara, bahasa, dan budaya.

Inilah tujuan dari penerbitan makalah, terutama penerbitan internasional. Hasil penelitian yang dilaporkan pada akhirnya harus diakui oleh semua anggota komunitas global sebagai temuan dari si pelapor, jika tidak ada lagi (atau paling sedikit minim) gugatan.

Pemakaian makalah ilmiah sebagai laporan hasil penelitian kepada komunitas ilmiah sudah menjadi prosedur baku sejak lebih dari seratus tahun lalu. Boleh dikatakan, proses ini sudah menjadi bagian integral dari kegiatan ilmiah, bahkan sudah menghasilkan produk sampingan berupa faktor dampak (impact factor), indeks-h, indeks-i10, dan sebagainya, yang bertujuan mengukur seberapa pentingnya laporan ilmiah tadi.

Lazimnya, para penyandang dana penelitian tidak begitu paham detail hasil penelitian yang mereka danai, sehingga mereka harus berkonsultasi dengan kolega sejawat peneliti. 

Cara yang paling praktis tentu saja dengan melihat apakah hasil penelitian tersebut dapat menembus pemeriksaan ketat kolega tersebut, yaitu berhasil di penerbitan di jurnal standar komunitasnya. Sekali lagi, karena kebenarannya bersifat universal, maka komunitasnya harus global.

Jika penelitian didanai masyarakat, maka masyarakat yang relatif awam terhadap penelitian tersebut juga berhak bertanya apakah dana yang mereka bayar melalui pajak menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Jika produk penelitian adalah barang jadi yang dapat langsung dilempar ke industri atau paten, tentu saja pertanyaan tentang manfaat segera terjawab. 

Namun, bagaimana dengan produk berupa simulasi, metode, teori, pandangan filsafat, ataupun ideologi baru yang boleh jadi di negara ini hanya segelintir mahluk hidup yang mengerti makna pentingnya? Jika hasil penelitian sudah dimuat di jurnal internasional, maka para juri jurnal tersebut sudah mengambil alih tugas menjawab pertanyaan ini.

Tujuan Penerbitan Penelitian

Sekarang pertanyaan kita adalah apa sebenarnya tujuan penelitian kita, terutama penelitian di perguruan tinggi (PT)? Karena kegiatan di PT adalah proses transfer dan pengembangan ilmu, maka sejatinya mayoritas penelitian PT bersifat pengembangan ilmu yang cakupannya sangat spesifik, hanya diketahui segelintir manusia di negara ini, sehingga agar kebenaran hasilnya dapat diperiksa, maka harus dipublikasikan (secara internasional). 

Ironisnya, mayoritas masyarakat PT kita sudah lama dan terbiasa meninggalkan budaya ilmiah ini.

Contoh paling jelas, meski akhir-akhir ini sudah mulai dikurangi, produk sebuah penelitian cukup berupa laporan tebal plus laporan keuangan. Kalaupun ada review hasil penelitian, maka sudah lazim pula jika reviewer-nya tidak sebidang dan tidak tahu persis apakah hasil penelitian yang dilaporkan bermakna, saking spesifiknya penelitian tersebut. 

Inilah paradigma yang sudah berlangsung cukup lama yang telah membuat kita terjebak dalam ketertinggalan ilmiah yang sangat parah.

Tidak perlu digugat lagi betapa banyak manfaat penerbitan ilmiah, terutama penerbitan internasional, seperti klaim hak cipta, mempercepat pengembangan ilmu, mencegah plagiarisme, membangun komunikasi dan kerja sama ilmiah, menjaga mutu penelitian dan lulusan PT, serta menjaga eksistensi peneliti Indonesia di komunitasnya. 

Yang terakhir ini juga penting, karena saya sering mendengar dari beberapa kolega peneliti yang sering go international maupun sekadar mahasiswa yang baru memperoleh beasiswa, betapa mereka sering dilecehkan dengan cara halus atau bahkan relatif vulgar. Ungkapannya seperti, Oh, you are from Indonesia! Nice to meet you, I've never seen an Indonesian scientist is working in this field before.

Membiasakan Mahasiswa Menerbitkan Makalah Ilmiah 

Kita semua sependapat bahwa PT yang menyelenggarakan program sarjana, magister, dan doktor mestilah sebuah institusi ilmiah. Sudah pasti pula sebuah institusi ilmiah memiliki misi untuk menjunjung tinggi norma-norma ilmiah dan mempromosikan budaya ilmiah, baik ke dalam maupun keluar institusi. Bahkan, misi ini merupakan bagian dari janji sarjana saat mereka diwisuda.

Di dalam PT, mahasiswa sebagai bagian integral civitas akademika tidak boleh dipandang sebagai objek transfer ilmu semata, namun harus juga diikutsertakan dalam proses pengembangan ilmu. Justru dengan cara ini mahasiswa akan mengenal budaya ilmiah seutuhnya, bagaimana secara jujur dan efisien mencari data yang solid untuk mendukung argumentasi atau gagasan di bidang mereka. 

Pada akhirnya masyarakat pun menikmati hasil proses ini berupa lulusan PT yang selalu berpikir logis dalam berargumentasi serta bekerja secara sistematis dan efisien.

Menulis makalah di sebuah jurnal ilmiah merupakan bagian integral dari proses pengembangan ilmu, jadi harus juga dikenalkan kepada mahasiswa. Mereka yang pernah mengenyam pendidikan S2 atau S3 tahu persis bahwa menerbitkan makalah ilmiah adalah kegiatan biasa. 

Untuk S1, kondisinya agak berbeda. Mungkin hanya beberapa PT yang membiasakan hal itu. Namun, karena S1 merupakan bagian formal dari institusi ilmiah, budaya ilmiah pun sepatutnya diterapkan, meski tingkat penerapanya berbeda dengan S2 dan S3. Jika tidak, maka kita harus berhenti menganggap seorang sarjana berbeda dengan lulusan sekolah vokasi.

Show Up Our Bright!

Sebagai kesimpulan, kewajiban kita membuat penerbitan mahasiswa S3 memenuhi kualitas standar jurnal internasional yang sudah mapan, sehingga mutu lulusan S3 kita tidak perlu dipertanyakan. Jika kita bijak dan mau jujur, seharusnya kita mengakui bahwa selama ini kita dan generasi pendahulu kita sudah membuat kesalahan besar dalam pengembangan budaya ilmiah di PT, yang jika tidak segera dibenahi akan meruntuhkan bangunan peradaban bangsa ini. 

Jelas, pembenahan harus multilevel, bahkan mungkin dari tingkat PAUD sekalipun. Tetapi jelas juga bahwa pembenahan harus mulai dari detik ini. Tidak perlu kita harus menunggu Liverpool menjuarai Premier League! TIDAK BISA MENUNGGU LAGI!