Masa kecil saya boleh dibilang amat pluralis. Selain dekat dengan tetangga yang berbeda agama, saya menikmati betul nuansa damai di masa kecil dulu. Saya masih ingat betul dengan tetangga saya yang namanya “Mbak Linda”. Mbak Linda ini dulu memang beragama Nasrani. Tapi, ia jarang menunjukkan kepada kami sikap tidak suka, tak senang, apalagi sentiment agama.

Bukan hanya karena kami masih anak-anak, tapi memang ia begitu baik dan tak pernah menyinggung urusan agama. Ia tahu, kami dilahirkan dari keluarga muslim, kami pun tahu, dia beragama nasrani. Semasa kecil, sering saya mengajak adik saya untuk nonton televisi di tempatnya. Apalagi di hari minggu, kami sering menghabiskan hampir setengah hari di rumahnya. Ia begitu maklum dan merasa tak terganggu.

Seiring berjalannya waktu, kami pun besar. Kami masih menyapa Mbak Linda. Meski kami tak lagi nonton televisi di rumahnya. Tapi kini, ada alasan lain kami ke tempatnya yaitu “Play Station”. Dulu, hiburan “Play Station” masih langka, tak seramai sekarang. Di tempat itulah, kami sering bermain seharian bermain “Play Station”. Memori itu sungguh berkesan, sebab meski sebentar, kami menangkap kesan baik, dan kasih meski kita tahu kami berbeda keyakinan.

Setelah saya menginjak kelas empat sekolah dasar, saya masuk kelas program khusus. Waktu itu diberi nama “kelas unggulan”. Program ini dibuka di SD kami, SD Gesikan, Kecamatan Gantiwarno. Gurunya pun berbeda agama, tapi tak pernah cekcok apalagi urusan agama. Bila gurunya pun demikian, kami pun juga begitu.

Waktu itu, teman-teman yang berkumpul dalam kelas “unggulan” itupun ada yang berbeda keyakinan pula. Sering di sela-sela istirahat kami saling bercanda dan menyinggung sedikit soal agama. Tapi itu tak jadi soal, lama-kelamaan kami tumbuh dengan sikap saling toleransi, memahami, dan mengerti keyakinan masing-masing.

Ketika kami lulus, ada rasa haru, dan saling rindu menghinggapi kami. Setiap tahun, untuk mengobati rasa rindu dan kangen kami berkumpul (Reuni). Setelah idul fitri kami biasa halal bi halal. Mereka dari kalangan nasrani pun senang silaturahmi. Kami jadi makin rukun, makin memahami apa itu makna harmoni dan perbedaan yang ada tanpa menyakiti, tanpa membenci. Justru sebaliknya kami jadi saling menyayangi dan saling mengasihi.

Dulu, sebelum ribut-ribut masalah natal seperti sekarang ini, kami sering mengucap natal. Dan ucapan itu tak ada motif apapun selain untuk menghormati kepercayaan mereka.

Dengan begitu, mereka pun tak merasa kami mengikuti apa yang mereka yakini. Kami saling sapa, saling asih, saling asuh tanpa memandang urusan agama dan keyakinan. Sampai satu ketika, teman saya ada yang memilih jurusan pastur, kami pun masih saling sapa. Kami merasa bersaudara, disatukan oleh Indonesia.

Waktu pun berjalan cepat, kini kabar teman-teman saya pun menghilang satu persatu. Mereka punya keluarga, punya kesibukan masing-masing. Tapi kami masih disatukan oleh Grup virtual bernama Whatss App. Disanalah kami masih saling sapa dan saling berbagi kabar.

Saat saya bekerja, semuanya jadi terasa berubah. Saya bekerja di lingkungan yang tak terbuka seperti dulu. Saya jadi kangen dan trenyuh saat melihat Ahmad Syafii Maarif misalnya mengucapkan selamat natal kepada Romo Magnis Suseno. Begitu pula sebaliknya saat Romo Franz Magnis memberi ucapan Idul fitri.

Hal itu juga saya rasakan saat saya memberi ucapan natal kepada pemeluk agama Nasrani maupun Katolik. Saya mengucapkan itu semata karena memberi satu kebebasan keyakinan di satu sisi, selain merasa gembira sama seperti mereka gembira saat saya merayakan Idul Fitri.

Di tahun 2016, saya agak syok saat pimpinan sekolah kemudian memberi surat peringatan karena memberi ucapan selamat natal di Facebook. Selain merupakan pukulan pada batin saya, hal ini membuat suasana kedamaian yang saya rasakan menjadi berbeda. Ada goncangan dalam pikiran saya yang terus bergolak.

Setiap orang mengalami pergolakan pemikiran dan pengalaman religius masing-masing ketika berhadapan dengan orang yang berbeda. Setiap orang mengalami pengalaman berbeda saat menghadapi liyan. Saya merasa tak orang lain adalah orang yang membenci, menaruh sentimen, dan  menyebar kebencian. Saya memahami agama adalah kasih sayang, kedamaian, dan rahmat seluruh alam.

Begitu saya membaca buku Islam Tuhan, Islam Manusia karya Haidar Bagir, saya jadi tambah yakin bahwa islam itu mengasihi, islam bukan menakuti. Saya mempraktikkan ini ketika saya bertemu kawan dan teman saya yang berbeda keyakinan dari SD sampai SMA.

Mereka saling memahami, saling membagi kasih, dan tak merasakan gemuruh konflik, hingga ancaman yang dirasakan saat keyakinan teman mereka berbeda. Justru perbedaan itu menambah kita semakin yakin bahwa musuh kita adalah kemiskinan, kebodohan, dan kedzaliman.

Kini, di saat natal, saya ingin mengenang kebaikan mereka teman-teman saya semenjak SD sampai sekarang yang berbeda keyakinan dan masih menyayangi saya. Masih menghormati saya sebagai manusia. Masih memposisikan saya sebagai manusia yang beragama dan memiliki kesempatan yang sama dalam menjalankan keyakinan saya.

Izinkan di hari natal ini pula, saya mengucapkan selamat natal dan selamat menebar kasih bagi sesama, selamat menebar kasih bagi umat di bumi. Saya percaya, mereka umat Nasrani dan Katolik sekalipun tak sepakat dengan penindasan Israel terhadap bumi Palestina.

Saya pun percaya, mereka ingin kedamaian di Palestina, mereka juga ingin dan terus mewacanakan kemerdekaan untuk Bumi Palestina. Disanalah saya memandang, agama memiliki nilai kebaikan universal. Yang akan tumbuh subur bila ditanam di hati kita terdalam.

 

Tuan Rumah Pondok Filsafat Solo, Koordinator Komunitas Sarekat “Taman Pustaka”  Indonesia