Dewasa ini kita sering kali disuguhkan berita, baik di media cetak ataupun di media elektronik, tentang berbagai peristiwa yang mengandung isu SARA. Entah mengapa berita mengenai SARA belakangan ini kontras terlihat dan baunya pun tercium sangat kuat. Seolah-olah berita tentang SARA sedang trend di berbagai media bahkan kalau tidak ada berita mengenai SARA apalagi mengenai agama seolah seperti nasi goreng tanpa kecap.

Lucunya, kita sendiri sadar tak sadar ikut asyik menyimaknya. Bahkan dengan ‘tarian jari’ dan ‘tajamnya pena’ kita turut ngomporin dan turut serta berkomentar bersilat pendapat tentang berita yang mengandung SARA tersebut di sosmed ataupun di Web dan situs Internet.

Mari kita tengok peristiwa-peristiwa yang telah terjadi dan sekaligus telah menggores luka sangat tajam bagi republik yang mengaku sebagai bangsa yang menjunjung kebhinnekaan dan ramah tamah ini. Ingat pembakaran masjid di Tolikara Papua yang ‘tersangka utamanya’ adalah sebuah TOA (pengeras suara), ingat pembakaran gereja di Aceh pasca pembakaran masjid di Papua. lalu muncul aksi teroris di gereja yang berusaha melukai seorang rohaniawan dan untungnya dapat di gagalkan.

Ingat pula kasus perselisihan seorang umat Buddha yang marah-marah gara-gara suara speaker masjid yang 'kegedean' sampai-sampai kejadian tersebut berujung pada pembakaran vihara di daerah Tanjung Balai dan penurunan patung sang Buddha Amithaba dari puncak gedung vihara. Tak beberapa lama setelah kejadian itu, terjadi aksi teror oleh simpatisan ISIS di kota Tangerang jam 8 pagi. Peristiwa ini membuat publik yang sedang asyik sarapan dan memulai aktivitas di pagi hari terkejut.

Dan yang tak kalah hebohnya, isu SARA kini di seret ke gelanggang politik. Hal ini di awali ketika Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menyebut-nyebut surat Al-Maidah ayat 51 saat sedang beraktivitas di kepulauan seribu. Sontak perkataan sang gubernur DKI tersebut memancing kemarahan umat Islam dan berakhir pada demonstrasi besar-besaran pada 4 November 2016 dan aksi Super damai 2 Desember 2016 yang katanya di hadiri hampir 1 juta umat Islam.

Kasus-kasus di atas hanya segelintir dari beberapa kasus yang berjumlah puluhan jika kita tarik dari awal abad 21 ini. Kita yang menyaksikannya pasti merasa miris, sedih, dan terpukul oleh pukulan yang menampar wajah bangsa kita. Kadang ketika kita membaca berita-berita mengenai SARA yang membawa-bawa nama agama dan suku, tidakkah kita berfikir sejenak, Apakah kita pantas di sebut bangsa yang berlandaskan Bhinneka Tunggal Ika? Apakah pantas kita di sebut sebagai bangsa yang ramah dan toleran?

Ada yang menjawab peristiwa ini terjadi karena erosi atau pengikisan pada kebudayaan bangsa kita dan nilai-nilai falsafah Pancasila sudah mulai luntur. Ada lagi yang berkata ini akibat dari kesenjangan ekonomi, Ada pula yang berkomentar, ini adalah perbuatan dari oknum-oknum yang berusaha mengimpor paham terorisme ke dalam bangsa kita. Ada pula yang berkata ini disebabkan konspirasi orang-orang kafir. Dan pendapat yang terakhir: ini adalah takdir dari Allah.

Saya sebagai seorang Muslim Indonesia sangat sedih dan menyayangkan mengapa kini peristiwa yang berisi perkelahian, bentrokan dan sikap-sikap vandalistis selalu bertopengkan agama? Mengapa mereka membawa simbol-simbol agama? Entah, bisa saja mereka menggunakan atribut agama untuk melindungi kepentingan kelompok mereka atau mereka memang salah menafsirkan makna ajaran agama? Sekali lagi entahlah, hanya mereka yang berhak menjawabnya.

Tapi jika saya merenungi ajaran Islam yang di sampaikan oleh guru saya, yaitu Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, saya merasakan wajah Islam yang damai, ramah dan toleran. beliau adalah tokoh yang berani mengemukakan pendapat-pendapat humanisnya. Sosok seorang muslim yang melindungi kaum minoritas dari arogansi mayoritas. Sosok yang berusaha menjabarkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Seolah-olah beliau ingin berkata: “Islam itu gampang kok, cintai sesama dan berbuat adil pada setiap orang”.

Gus Dur berani mengatakan bahwa agama bukanlah sekedar aspek ritual, aspek akhlakpun juga sangat penting dan vital, karena memang itulah hakikat dari seluruh agama. Gus Dur menggunakan bahasa agama cinta yang merupakan bagian yang universal di terima setiap pemeluk agama. Di saat seperti ini, di tengah-tengah maraknya paham plus aksi radikalis yang membawa bawa agama dan di saat manusia seluruh dunia salah paham terhadap agama Islam, saya merindukan sosok Gus Dur.

Seandainya beliau masih hidup, fatwa-fatwanya yang jenaka pasti akan menyejukan hati setiap manusia, menampar para teroris yang bersembunyi di balik jubah agama dan menyindir para demonstran anarkis yang selalu berteriak: Aksi kami aksi SUPER damai.

Ahhh....... Sudahlah, agama itu jangan di bikin rumit, jangan di buat sulit, jangan di reduksi jadi sempit. jangan repot-repot dalam beragama, Tuhan Allah saja berfirman bahwa Agama itu tidak bermaksud menyulitkan dan ngerepotin kita hambanya, lalu mengapa kalian ribut dan repot sendiri???? GITU AJA KOK REPOT....!