Beberapa waktu lalu, ketika sedang berselancar di dunia maya, muncul postingan dari Mas Ulil Abshar Abdalla di timeline saya. Di postingan tersebut, Mas Ulil mencantumkan link artikel beliau yang terbaru di portal Mojok.co, yang membahas perihal fenomena “gerakan” new atheism dan keberadaan Tuhan.

Sebagaimana yang diketahui oleh publik, Mas Ulil merupakan salah satu tokoh intelektual muda Nahdlatul Ulama yang paling dikenal oleh masyarakat. Nama beliau dikenal luas oleh publik sebagai salah satu pendiri komunitas Jaringan Islam Liberal (JIL) di Jakarta pada 2001, untuk memperkenalkan dan menyebarkan gagasan keislaman yang rasional, terbuka, toleran, ramah, progresif, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan, demokrasi, dan kemanusiaan.

Dalam artikel yang berjudul “Argumen Keberadaan Tuhan untuk ‘New Atheists’” tersebut, Mas Ulil memaparkan argumen beliau untuk menyanggah pandangan-pandangan kelompok new atheists, bahwa (menurut klaim Mas Ulil), Tuhan tidak ada. Tuhan, dianggap oleh kelompok ateis baru ini, sebagai takhayul yang mengada-ada, dan tidak memiliki relevansi lagi di era modern.

Setidaknya ada dua argumen yang dipaparkan Mas Ulil. Yang pertama adalah apa yang disebut oleh filsuf dan teolog asal Britania Raya, William Paley, sebagai analogi pembuat jam. Paley, dalam bukunya yang berjudul Natural Theology or Evidences of the Existence and Attributes of the Deity (terbit 1802), menulis bahwa benda-benda kompleks, seperti jam misalnya, pasti dibuat oleh seseorang. Terlebih lagi, struktur yang jauh lebih kompleks daripada itu, seperti makhluk hidup.

Tuhan dianggap merupakan “being” yang mengawali dan menciptakan alam semesta dan seluruh isinya. Mas Ulil menulis bahwa, berdasarkan bukti-bukti yang dipaparkan oleh sains modern mengenai struktur organisme-organisme hidup yang sangat kompleks, maka akan sangat mustahil bila semua hal tersebut tidak ada yang menciptakan. Tidak masuk akal bila alam semesta dengan segala kompleksitasnya muncul hanya karena random chance saja.

Argumen kedua yang dipaparkan oleh Mas Ulil adalah, terkait dengan empirisme sebagai fondasi metode saintifik. Sesuatu dalam sains, tulis Mas Ulil, hanya bisa dikatakan “ada” atau “tidak ada” bila dikonfirmasi oleh data dan bukti empiris.

Mas Ulil memaparkan bahwa, Tuhan bukanlah data empiris dan buka entitas yang bisa dibuktikan atau tidak dibuktikan keberadaannya dengan menggunakan metode tersebut. Mas Ulil juga menulis bahwa sains yang memastikan Tuhan tidak ada jauh melangkahi wilayahnya. Ateisme dan teisme dalam hal ini memiliki kedudukan yang sama, yakni merupakan keyakinan belaka.

Sebelum menjawab argumen yang dipaparkan oleh Mas Ulil tersebut, izinkan saya secara singkat membahas mengenai fenomena yang dikenal sebagai “new atheists” tersebut.

New Atheists sendiri bukanlah istilah yang disematkan oleh mereka yang dianggap sebagai tokoh-tokoh ateis modern, seperti Richard Dawkins dan Christopher Hitchens, untuk dirinya sendiri. Istilah ini pertama kali ditulis oleh jurnalis asal Amerika Serikat, Gary Wolf, dalam salah satu kolomnya di majalah Wired pada 2006.

Wolf menggunakan istilah ini untuk mendeskripsikan gagasan-gagasan dan ide-ide yang dibawa oleh tokoh-tokoh seperti Dawkins, Hitchens, dan Sam Harris. Gagasan-gagasan tersebut, tulis Wolf, di antaranya adalah sikap yang sangat anti terhadap agama, serta pandangan bahwa agama dan takhayul tidak hanya cukup ditoleransi, namun juga harus dikritisi, dilawan, dan dibongkar dengan menggunakan argumen rasional dan metode saintifik.

Secara pribadi, jujur saja saya merasa sangat terganggu dengan istilah ini. Bagi saya, istilah new atheism sendiri adalah istilah yang tidak perlu. Tidak ada yang “new” dari sikap dan gagasan yang dibawa oleh “tokoh-tokoh ateis” abad ke-21. Kita bisa dengan mudah menemukan kritik terhadap agama yang serupa dengan yang dipaparkan oleh Dawkins dan Hitchens, yang datang dari tokoh-tokoh non-religius di masa lalu, seperti Voltaire, Baron D’Holbach, dan Bertrand Russell.

Selain itu, istilah “new atheist” ini justru sering digunakan sebagai ejekan dan cercaan terhadap orang-orang yang beroposisi terhadap argumen-argumen yang dibawa oleh Dawkins, Hitchens, Harris, dan tokoh-tokoh non-religius modern lainnya. Sejauh yang saya ketahui (dan Anda bisa mengoreksi saya kalau saya salah), tidak ada satu pun tokoh-tokoh non-religius modern tersebut yang menyebut diri mereka sebagai bagian dari gerakan “new atheist.”

Salah satu tokoh tersebut, yakni Sam Harris, bahkan pernah mengatakan bahwa ia menganggap istilah “ateis” sebagai hal yang tidak perlu. “Ateis” merupakan istilah yang sering digunakan untuk mendeskripsikan seseorang yang tidak memercayai adanya Tuhan. Harris mengatakan, istilah tersebut sama konyolnya dengan bila kita membuat istilah “non-golfer” untuk seseorang yang tidak bisa bermain golf, atau “non-driver” untuk seseorang yang tidak berprofesi sebagai supir.

Kembali ke pembahasan awal, argumen pencipta jam yang dipaparkan Mas Ulil dalam artikelnya, misalnya, bukanlah topik yang tidak pernah dibahas oleh Dawkins. Dawkins, dalam salah satu film dokumenternya yang berjudul The God Delusion, yang diambil dari salah judul buku karyanya yang sangat fenomenal yang terbit tahun 2006, mengelaborasikan kecacatan dari argumen tersebut.

Dawkins memaparkan bahwa, memang benar sains modern, terutama ilmu biologi, telah menunjukkan bahwa proses dan struktur kehidupan di planet ini merupakan sesuatu yang sangat kompleks. Dibutuhkan proses evolusi selama miliaran tahun bagi semesta untuk menghadirkan spesies-spesies modern yang hidup saat ini, salah satunya adalah kita, homo sapiens.

Namun, bukan berarti lantas kita bisa menarik kesimpulan dari kompleksitas struktur kehidupan bahwa ada pencipta agung yang memulai dan menjadi pembimbing proses evolusi tersebut. Hal itu merupakan lompatan cara berpikir yang sangat tidak diperlukan.

Kalau kita mengatakan bahwa, bila segala sesuatu yang kompleks, seperti struktur biologis organisme, pasti ada menciptakan, lantas pencipta yang agung tersebut pasti jauh lebih kompleks dari makhluk hidup yang diciptakannya. Bila demikian, lantas siapa yang menciptakan “pencipta agung” tersebut?

Hal tersebut justru tidak menyelesaikan masalah, dan memunculkan permasalahan lain yang jauh lebih rumit. Kalau kita percaya bahwa semua hal kompleks pasti ada yang menciptakan, maka kita juga harus percaya bahwa sang pencipta sesuatu yang kompleks tersebut juga diciptakan oleh entitas yang lain.

Bila kita mengatakan bahwa sang pencipta sesuatu yang kompleks tersebut tidak ada yang menciptakan, maka pada saat yang sama kita juga percaya bahwa ada sesuatu yang kompleks yang dapat muncul dengan sendirinya melalui proses alamiah. Kalau begitu, lantas argumen pencipta agung jelas tidak lagi dibutuhkan, karena kita sudah mengakui bahwa tidak mustahil bagi struktur yang kompleks untuk muncul dan hadir dengan sendirinya tanpa pencipta yang agung.

Selain itu, munculnya keteraturan dari sesuatu yang acak secara alamiah bukanlah hal yang mustahil terjadi. Terkait dengan hal ini, Mas Ulil memberi contoh mengenai dua susunan huruf, yakni “ysbxcd nbhv vdferacsxs” dan “Merapi terletak di Yogya.” Mas Ulil menulis bahwa, meskipun kedua susunan ini mirip dalam jumlah huruf, namun terdapat perbedaan yang sangat besar dari keduanya.

Susunan pertama merupakan susunan huruf yang secara acak dan tidak mengandung informasi apa pun, sementara susunan kedua mengandung informasi. Untuk mendapatkan susunan huruf pertama tidak dibutuhkan desain dari siapapun, dan cukup dengan melempar kepingan-kepingan alfabet. Sementara, untuk mendapatkan susunan kedua, dibutuhkan entitas yang memiliki kecerdasan untuk menyusun huruf-huruf tersebut.

Akan tetapi, ada hal penting yang saya rasa luput dari argumen Mas Ulil ini, yakni probabilitas. Memang, sangat kecil kemungkinannya untuk melempar secara acak kepingan-kepingan huruf dan mendapatkan susunan yang mengandung informasi, akan tetapi bukan berarti hal tersebut adalah sesuatu yang mustahil.

Dawkins dalam bukunya yang berjudul The Magic of Reality juga membahas mengenai topik tersebut. Berbeda dengan Mas Ulil yang menggunakan contoh keping-keping huruf, Dawkins menggunakan satu pak kartu bermain untuk ilustrasinya.

Sebagaimana kita ketahui, dalam satu pak kartu bermain, terdapat 52 kartu, 2 warna, 4 lambang, dan setiap lambang terdapat 13 angka yang berbeda-beda. Dawkins mengilustrasikan empat orang yang membagi satu pak kartu tersebut secara acak hingga habis, atau dengan kata lain, setiap orang mendapatkan 13 kartu. Berapa kemungkinan setiap orang mendapat kartu dengan lambang yang sama, dan tersusun secara rapi dari raja sampai dengan kartu As?

Kemungkinan tersebut tentu sangat kecil, dan bila ada pembagian katru yang menghasilkan susunan tersebut, besar kemungkinan setiap pemain akan berpikir bahwa ada yang mendesain dan mengatur pembagian kartu tersebut. Akan tetapi, bila para pemain tersebut membagi kartu tersebut secara acak, dan terus diulang-ulang selama jutaan tahun, bukan tidak mungkin mereka akan mendapat susunan yang rapih tersebut.

Hal yang sama juga berlaku bagi proses evolusi makhluk hidup. Proses tersebut memakan waktu hingga miliaran tahun. Alam semesta saat ini berusia 13,8 miliar tahun, dan dari usia tersebut, bumi baru terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu, dan organisme hidup baru muncul di planet kita untuk pertama kalinya sekitar 3,7 miliar tahun yang lalu.

Dengan kata lain, dibutuhkan waktu 9,3 miliar tahun bagi alam semesta untuk “membuat” bumi, dan 800 juta tahun lamanya dari sejak bumi terbentuk sampai kehidupan pertama muncul di planet ini. Dan bentuk kehidupan awal tersebut bukanlah organisme kompleks yang memiliki triliunan sel seperti manusia, akan tetapi organisme sederhana bersel satu yang tidak bisa kita lihat dengan mata telanjang.

Selain itu, hal lain yang penting untuk diperhatikan adalah, tidak semua tempat di alam semesta dapat memproduksi organisme hidup, apalagi organisme hidup yang memiliki kecerdasan seperti homo sapiens. Para astronom memberi estimasi bahwa ada 100 miliar galaksi di alam semesta. Jumlah bintang yang terdapat di masing-masing galaksi tersebut bervariasi, mulai dari 100 juta hingga 1 triliun bintang.

Tidak terhitung lagi jumlah planet-planet yang mengitari bintang-bintang tersebut. Dan diantara semua planet tersebut, sejauh ini kita hanya mengetahui satu planet yang dapat menunjang kehidupan, terlebih lagi kehidupan yang cerdas, yakni planet bumi kita tercinta.

Bila kehidupan di alam semesta muncul bukan dari hasil acak, pasti dapat dengan mudah bagi desainer tersebut untuk menciptakan kehidupan di triliun-triliun-triliunan lainnya planet yang tersebar hingga ke ujung langit. Bila organisme muncul karena didesain oleh entitas pencipta agung, maka tentu kehidupan tidak hanya muncul di sebagian tempat yang sangat teramat kecil di alam semesta yang sangat luas.

Argumen kedua yang dipaparkan Mas Ulil mengenai empirisme dalam ilmu pengetahuan, juga merupakan topik yang sudah dibahas oleh banyak ilmuwan dan pemikir. Salah satunya adalah, astronom ternama asal Amerika Serikat, Carl Sagan, dalam bukunya The Demon-Haunted World, yang terbit tahun 1995.

Dalam salah satu chapter-nya, Sagan menuliskan analogi mengenai klaim bahwa ia memiliki naga yang dapat mengeluarkan api dari mulut di dalam garasi rumahnya. Sagan lalu mengajak sekelompok orang yang rasional untuk mengunjungi naga tersebut.

Sesampainya di garasi Sagan, para pengunjung tersebut tidak bisa melihat naga yang dideskripsikan. Sagan lalu mengatakan bahwa naga tersebut tidak bisa dilihat. Salah seorang pengunjung lantas meneliti lantai garasi tersebut untuk meneliti apakah ada jejak-jejak dari naga tersebut. Sagan menjawab bahwa naga tersebut melayang di udara dan tidak menginjak lantai.

Ketika ada pengunjung lain yang ingin mengecek api dari naga yang tidak terlihat tersebut dengan menggunakan kamera infra-red, Sagan berkilah bahwa api yang dikeluarkan naga tersebut tidak memiliki panas sama sekali. Sagan dalam analoginya terus-menerus melawan berbagai upaya untuk mengetes yang diajukan oleh para pengunjung untuk membuktikan keberadaan dari naga tersebut, dengan mengatakan bahwa seluruh upaya tersebut tidak akan berhasil.

Melalui analoginya tersebut, Sagan menyimpulkan bahwa, tidak ada bedanya antara naga yang tidak bisa diteliti dengan metode ilmiah apapun dengan ketiadaan dari naga tersebut. Akan tetapi, apakah dengan tidak adanya cara ilmiah untuk membuktikan naga yang tidak terlihat di dalam garasi tersebut, berarti sama saja dengan membuktikan kalau naga itu ada? Tentu saja tidak.

Ilustrasi yang digambarkan Sagan ini dikenal dengan istilah burden of proof fallacy, atau kecacatan logika beban pembuktian. Dalam fallacy tersebut, beban pembuktian justru dikenakan kepada seseorang yang tidak mempercayai suatu klaim tertentu yang dibuat oleh orang lain, dan bukan kepada orang yang membuat klaim tersebut.

Ilustrasi lainnya adalah, bayangkan bila saya mengatakan kepada Anda bahwa saya memiliki uang 100 juta dollar di suatu bank di Swiss, dan Anda tidak percaya dengan klaim yang saya katakan. 

Namun, bukannya saya menunjukkan bukti seperti saldo rekening misalnya, atau catatan finansial, beban pembuktian dari klaim tersebut justru saya kenakan kepada Anda. Saya justru meminta Anda untuk membuktikan bahwa klaim yang saya ajukan salah. Bila Anda tidak bisa membuktikan saya salah, maka itu menjadi bukti bahwa klaim saya adalah benar.

Hal ini tentu merupakan bentuk kecacatan logika yang sangat nyata. Beban pembuktian untuk klaim tertentu harusnya dikenakan kepada pihak yang membuat klaim tersebut. Dan ketika pihak yang membuat klaim tersebut tidak bisa membuktikan klaim yang diajukan, bukan berarti lantas klaim tersebut menjadi benar.

Perihal yang sama juga berlaku bagi klaim atas keberadaan Tuhan, yang sering diajukan dan dikumandangkan oleh berbagai kelompok keagamaan. Dalam kasus ini, beban untuk membuktikan keberadaan Tuhan berada di tangan pihak-pihak yang mengajukan klaim atas hal tersebut, bukan mereka yang tidak percaya yang harus membuktikan bahwa Tuhan tidak ada.

Selain itu, ada poin menarik tentang klaim keberadaan atau ketiadaan Tuhan ini. Dawkins sendiri tidak pernah menyatakan bahwa dia 100% yakin Tuhan tidak ada. Di bagian awal bukunya, The God Delusion, Dawkins menuliskan spektrum probabilitas kepercayaan seseorang terhadap Tuhan. 

Dalam spektrum tersebut, terdiri dari angka 1-7, di mana angka 1 menggambarkan seseorang yang yakin sepenuhnya atas keberadaan Tuhan secara absolut, dan angka 7 menggambarkan seseorang yang sepenuhnya yakin bahwa secara mutlak tidak ada entitas apa pun yang menciptakan alam semesta.

Angka 4 sendiri, yang berada di tengah, menggambarkan seorang agnostik yang murni. Yakni seseorang yang memiliki pandangan bahwa probabilitas adanya atau ketiadaan Tuhan adalah setara, atau 50-50. Dawkins mendeskripsikan dirinya bukan sebagai “ateis murni” yang berada pada skor 7, melainkan hanya berada pada angka 6,9.

Sebagai penutup, sosok Mas Ulil merupakan salah satu tokoh yang paling saya hormati di Indonesia. Perjuangan dan usaha beliau untuk mengampanyekan gagasan keislaman yang damai, toleran, dan terbuka merupakan hal yang sangat penting, mengingat makin banyaknya kasus-kasus intoleransi dan berbagai konflik horizontal yang muncul di tanah air.

Akan tetapi, bukan berarti lantas ketika beliau menyampaikan hal yang keliru, saya lantas membenarkan pandangan tersebut. Argumen kompleksitas makhluk hidup dan beban pembuktian untuk membuktikan ketiadaan Ilahi kepada mereka yang tidak memercayai adanya Tuhan bagi saya merupakan argumen yang tidak tepat digunakan untuk menjustifikasi keberadaan Tuhan.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh jurnalis ternama, Christopher Hitchens, “What can be asserted without evidence can also be dismissed without evidence.