Judul merupakan modifikasi dari istilah 'Adil Sejak Dalam Pikiran', semoga sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer mengizinkan. 

***

Manusia dilahirkan dengan garis takdir berbeda-beda. Sekalipun berada di titik tersulit, terumit dan sangat berat, sebenarnya manusia bebas melangkah dan bebas memilih untuk menjadi manusia seperti apapun. Ada 2 pilihan, pasrah dan mengalah pada keadaan atau melangkah maju melawan 'bandrol' ketidakmungkinan?

Narasi di atas sungguh menggebu-gebu sodara, padahal kita sama-sama tahu kalau kenyataan itu lebih sukar dijalani apalagi oleh orang yang start dari posisi paling bawah. Tapi simak dulu ya hehe.

Sebenarnya tulisan ini saya buat karena ada 2 kondisi yang mendorong saya untuk evaluasi diri, lalu saya ingin membagikan ini kepada teman-teman karena saya yakin banyak yang mengalami apa yang saya alami. Yeah, i'm not the only one.

Pertama, saya sedang magang. Tentu saya bertemu dengan orang-orang baru, pengalaman baru, ilmu (perspektif) baru dan ini menguji mental saya untuk lebih survive di dunia yang berbeda level dengan dunia perkuliahan.

Kedua, saya harus sadar dan bersyukur karena sebenarnya mendapat akses pendidikan merupakan suatu kesempatan juga privilege yang perlu dijalani sungguh-sungguh. 

Banyak sekali orang di luar sana yang 'jangankan pendidikan, untuk makan sehari-hari saja harus berdarah-darah dulu'. Sudah pernah baca buku Pendidikan Kaum Tertindas karya Paulo Freire? Recommended!

Bukan maksud saya merasa lebih baik dari mereka, tapi poin dari tulisan ini saya menyayangkan, "kenapa saya sering melewatkan peluang belajar yang selalu terbuka lebar?," mbatinku.

Oke, masuk ke permasalahan (tag judul). Study experience: saya sedang magang di salah satu tv berita lokal Karawang, bagian jurnalis. Saya sangat antusias karena menganggap mudah bidang tersebut, sebelumnya saya sering menjadi kontributor media online juga. 

Tapi dalam praktiknya, saya menemukan kesulitan dan kebingungan. Di Minggu pertama masuk, saya tidak diperbolehkan turun lapangan sama sekali. Saya diarahkan untuk buat berita melalui sumber koran atau online. 

Saya bingung dan sempat berprasangka, "apakah pimpinan menyuruh saya untuk menyadur berita orang lain, kan itu tidak boleh dalam kode etik". Alhasil, selama satu minggu tidak ada satu tulisan pun yang saya kirimkan, hanya ada bahan-bahan tulisan yang tak kunjung jadi.

Beberapa hari saya sempat ditanya "mana beritanya?" Dan saya selalu menjawab "tapi pak saya perlu banyak baca dulu, belum paham medan pak," serta alasan-alasan lain yang terkesan intelek. Padahal dalam batin, saya merasa tidak mungkin, "mana bisa buat berita tanpa informasi dari lapangan". 

Perhatikan, sikap saya di atas mengafirmasi adanya 'ketidakmungkinan', yang padahal saya bisa melakukan upaya lain selain fokus berpikir. 

Nah, tiba waktunya saya diajak diskusi oleh pimpinan dan ditanya progres. Padahal saya bingung karena merasa tidak ada arahan. Ternyata dari awal masuk magang, pimpinan sudah membaca karakter saya. 

"Kamu itu banyak bingungnya," lontar pimpinan.

"Tapi pak, saya perlu memahami medan dulu, perlu banyak baca dulu, saya tidak bisa modal berani tapi bertindak bodoh," bantah saya.

Pimpinan tertawa dan melanjutkan, "melangkah dengan pertimbangan itu bagus, tapi jangan larut-larut. Kalau kamu gak tau jalan, ya tanya ke orang. Memang bisa kamu jalan sendiri, cuman lama kalau ngulik sendiri pasti nyasar dulu," ucap pimpinan (jleb sedikit tapi ngena).

Ternyata saya melupakan satu hal yang merupakan komponen penting dalam sebuah perjalan mencari ilmu, saya lupa kalau ada 'relasi' yang bisa kita jadikan jembatan. 

"Kamu itu sudah ada kemauan belajar, basic juga punya. Di balik 'tapimu' itu sebenernya kamu takut kan? Kurang percaya diri kan? jangan sampai pikiranmu itu menghalangi langkahmu nak," lanjut pimpinan memberi wejangan.

Saya langsung merenung dan tidak mengelak lagi, ketika datang ke tempat magang harusnya saya menjadi gelas kosong, tetapi saya sombong dengan kemampuan yang tidak seberapa, dan terbukti dengan bingungnya saya, berarti saya belum tahu banyak hal. 

Dari keadaan ini, saya ditawarkan 2 pilihan; terus merenung atau mencoba? Dan di hari berikutnya saya memilih mencoba meski nanti salah, setidaknya saya memiliki bahan untuk dievaluasi, ada objek yang bisa dikoreksi daripada terus merenung dan meraba-raba.

Dengan melepaskan saya tanpa arahan, esensinya pimpinan menguji saya dan akhirnya mengarahkan saya juga meski bukan di awal. Ya sangat kompleks, pelajaran bisa di dapat kapan saja dan dimana saja, tidak mesti di awal (itu pendaftaran). 

Dipertemuan selanjutnya saya mulai diberi kesempatan untuk turun lapangan, seperti mendatangi PT dengan kasus limbah pasir, mengikuti konferensi pers dan diperbolehkan mengeksplor lingkungan sekitar. 

Tinggal eksekusi pilihan saja, dengan berani mencoba dan sedikit meminimalisir ribetnya pertimbangan dalam pikiran. Dan lihat nanti hasilnya. 

Saya akui, aslinya ini hanya manipulasi dan representasi dari campuran rasa malas, takut, kurang percaya diri dan terlalu memikirkan pendapat orang lain. Nobody's Perfect baby. 

"Kalau masih merasa sakit berarti kamu masih hidup, kalau masih membuat kesalahan berarti kamu masih manusia, kalau masih mau nyoba dan gak putus asa berarti kamu masih punya harapan" quote dari Lusi Eka, Founder Perempuan Berdaulat.

Contoh Lain Ribet Sejak Dalam Pikiran

Ada tugas nih dari dosen, bukannya dikerjakan, kita malah bingung dan konyolnya ditengah tugas yang menumpuk kita masih sempat bilang "bingung mau ngapain?" Padahal itu garapan tugas banyak haha enggak lucu.

Apalagi hayo, oh iya pas awal-awal kita belum terbiasa public speaking misal, sedang berada digrup diskusi dan memiliki argumen, tapi tidak lekas bicara karena ruwet dulu dalam pikiran. Tapi kalau sudah mencoba, kita pasti tau apa yang perlu dievaluasi. 

Atau hal paling relate mungkin ketika hendak chat doi tapi takut tak berbalas, cie-cie (canda).

Analoginya; ketika kita hendak ke seberang sungai dan kita perlu melewati sungai untuk sampai ke seberang. Kamu mau bagaimana? Hanya meraba-raba kedalaman sungai atau bergerak melakukan upaya untuk bisa sampai seberang? 

Kapan sampai keseberangnya kalau hanya meraba-raba? Sampai sini paham kan. Narasi di awal sebenarnya lebih universal dan mengarah ke kehidupan yang lebih berat, dan dalam tulisan ini saya menggambarkannya melalui pengalaman mikro (baca: yang lebih kecil). 

Karena saya yakin, dari hal-hal kecil seperti ini akan membentuk habit dan habit akan transformasi menjadi kararter yang nantinya memainkan peran besar dalam perjalanan hidup kita. 

Lagian, kalau kita sudah ada keinginan untuk maju, tidak ada salahnya untuk mencoba. Perihal hasil kan bukan urusan kita, nikmati saja prosesnya. 

Terakhir, meskipun life experience-nya berbeda-beda, atau mungkin tidak adil untuk disamaratakan, bagi saya dalam hidup ini tetap ada 2 pilihan; merenungi keadaan atau melangkah maju untuk berkembang? Pilih saja.