Banyak orang berharap tahun yang baru akan membuahkan harapan baru pula, namun ternyata mereka keliru.

Setelah kembang api berhenti meletup dan gebyar pesta pergantian tahun usai, satu per satu berita buruk menghinggapi laman media cetak maupun Jagat Mayantara. Membuat emosi publik campur aduk, antara takut, cemas, dan sekaligus membuncah menjadi kristalisasi kegeraman.

Dimulai dari banjir bandang yang menerjang Jakarta, pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani akibat serangan pesawat nir-awak yang dikirimkan oleh negara Paman Sam, lalu hilir mudiknya kapal-kapal Nelayan Cina di Laut Natuna untuk merampas kekayaan bahari kita.

Namun ada satu berita yang sukses mengantarkan Indonesia bertengger di peringkat rekor dunia, yang disebabkan oleh tingkah polah seorang lelaki muda bernama Reynhard Tambos Maruli Tua Sinaga.

Sekilas, Reynhard ini dapat menjadi idaman gadis-gadis muda di ibu kota. Bagaimana tidak? Selain memiliki wajah yang cukup rupawan, ia pernah memakai Jaket Kuning dari sebuah kampus ternama selama 4 tahun. Ia memiliki dua gelar Magister, dan sekarang merupakan kandidat Doktor di Imperium Britania.

Secara aspek material-duniawi, tak perlu kita tanya. Keluarganya memiliki rumah besar, harta kekayaan melimpah, dan dihormati oleh komunitasnya. Karena kedua orang tua Reynhard rela marhoi-hoi tu dolok tu toruan demi masa depan buah hatinya.

Begitu pun Reynhard, secara resiprokal sudah mak kon ki do hamoraon.
Dalam Adat Batak, Keluarga Sinaga yang melahirkan Reynhard, bisa dikatakan, sudah memiliki tiga aspek paripurna, yaitu Hamoraon (kekayaan), Hasangapon (kehormatan), dan Hagabeon (memiliki garis keturunan).

Namun ternyata, memang jempek do pat ni gabus. Reinhard memiliki sisi gelap yang kini terungkap dengan gamblang. Tak disangka, selama menempuh pendidikan doktoral dan mungkin sebelumnya, Reynhard tak hanya sekadar mempelajari Ilmu Geografi Manusia, namun juga menghabiskan waktu senggangnya untuk menyakiti orang lain.

Jumlah korban Reynhard pun terbilang fantastis, seolah siat jari-jari naeng siat botohon. Tak kurang dari 195 tuduhan rudapaksa terhadap sesama pria dialamatkan pada Reynhard oleh Jaksa Penuntut Umum.

Dalam persidangan, diketahui Reynhard mensubjugasi korban-korbannya dengan bantuan minuman keras dan anastesia. Setelah korban-korbannya kehilangan kesadaran, barulah ia menuntaskan aksi-aksinya pada para korbannya.

Saking kaget dan takutnya, kebanyakan para korban hanya bisa kaku mematung dan menuruti semua perintah Reynhard. Begitu pula dengan korban perkosaan, mereka takut sehingga mengalami 'kelumpuhan'.

Pada akhirnya Reynhard harus mendapati dirinya meringkuk dalam desmoterion untuk waktu yang teramat sangat lama. Semua pencapaian yang ia tata selama belasan purnama kini sirna sudah. Keluarganya dan segenap bangsa Indonesia menyemai rasa malu yang teramat sangat.

Sebenarnya problematika seputar Reynhard memang sudah banyak dibahas dari berbagai sudut, seperti kriminologi, medik, dan psikologi.

Menurut penulis pribadi, kasus yang menimpa Reynhard ini terjadi karena kurangnya pendidikan seks pada anak-anak muda kita. Selalu saja ada tuntutan untuk mengakhiri asmara sejenis demi adat dan juga demi agama.

Di sisi lain, pendidikan seks agar setiap individu mengutamakan consent, dan tidak melakukan pemaksaan hasrat, itu belum banyak disosialisasikan. Membicarakan seks hetero saja kadang masih dianggap tabu, apalagi seks sejenis.

Akhirnya apa? Hasrat individu tetap ada, nafsu tetap ada, namun regulasinya yang salah; perkosaan bukan soal seks, melainkan kuasa. Perkosaan terjadi karena yang diperkosa tidak dipandang sebagai manusia, melainkan objek atau yang tidak memiliki privilese sebagai manusia atau memiliki hak asasi manusia. Penyalurannyalah yang salah.

Perkosaan adalah manifestasi bagaimana korban tidak dianggap oleh masyarakat, bukan subjek melainkan objek. Secara moral, ia inferior. Maka, persoalan perkosaan bukan soal seks (karena bukan intercourse dengan subjek), tapi soal kuasa, menjadikannya objek.

Akhirnya, orang lain jadi korbannya. Menurut Reynhard si Pelaku, tidak ada salahnya menyalurkan nafsunya hanya pada sembarang orang, namun tidak bagi korban. Korban juga memiliki perasaan.

Kasus Reynhard menjadi bukti nyata bahwa kita bangsa Indonesia tak bisa melulu memungkiri hal-hal yang bersifat tabu, hal-hal yang bersifat seksual. Makin dihindari, itu akan makin menyerang dan menerkam kita. Kalau sudah sampai ratusan orang jadi korban, mau dibawa ke mana marwah negara kita?

Terutama dalam kasus pemerkosaan sejenis yang melibatkan Reynhard. Michel Foucault menolak esensialisme dan mengedepankan konstruktivisme, bahwa orientasi seksual tidak dapat dipisahkan dari konsep historis dan budaya dan bahkan performitas, yang melihat gender secara cair. Masyarakat kita masih miskin pengetahuan tentang orientasi seksual, atau dapat disebut bodoh. Selama kebodohan ini dipelihara, selama itu pula kekerasan akan terus terjadi.

Jadi itulah yang ingin penulis tekankan. Memang kasus kali ini merupakan tragedi bagi kita semua, yang membuat miris. Namun ada banyak solusi yang bisa digali, ada banyak hikmah yang bisa kita petik dari untaian problematika yang menyesakkan ini.