Di jalanan di Bekasi, seorang pengendara ojek online terluka dan melapor ke polisi setelah dia diduga diserempet oleh seorang sopir angkot. Di Jakarta, ketegangan dan konflik serupa tidak bisa dihindari dan berujung pada unjuk rasa dan pemogokan yang dilakukan oleh awak angkutan taksi konvensional. Beberapa konflik dan ketegangan dengan berbagai variasinya terjadi juga di Bogor, Tangerang, dan beberapa kota lain.

Jika kita berselancar di media online saat ini dengan kata kunci “konflik ojek online” kita masih akan menemukan berita-berita kasus yang terjadi dalam lima bulan terakhir. Sementara itu pada arena yang berlainan dengan kasus-kasus yang disebutkan di atas, pemerintah Indonesia belum lama ini juga sempat memblokir sebuah platform media sosial yang dianggap sebagai media yang banyak dipakai untuk kegiatan terorisme.

Di belahan bumi lain, sebut misalnya di Mesir, sebuah revolusi berlangsung dan konon dilakukan oleh suara massa yang digerakkan di twitter. Ada satu benang merah dari peristiwa-peristiwa yang mungkin tidak saling berhubungan itu. Kemajuan teknologi informasi mendorong sebuah gelombang besar perubahan di mana-mana. Konflik dan ketegangan seolah menjadi entitas yang melekat pada perubahan.

Modernisme dan Sebuah Lompatan Besar

Modernisme memang telah membawa banyak sekali perubahan dalam kehidupan manusia. Hal ini diamini oleh Karl Polanyi (1944) dalam bukunya The Great Transformation yang sudah menjadi klasik. Perubahan yang terjadi itu sering berjalan dalam senyap dan menjadi entitas yang sulit diamati ketika sedang berlangsung.

Demikianlah perubahan abad 19 ke 20 terjadi dari era serba manual ke era mesin. Perubahan dari jaman feudal menuju kebebasan individu. Namun sering tanpa disadari, ada harga yang harus dibayar untuk perubahan itu. Demikian tulis Polanyi.

Saya tidak sedang bermaksud membawa pembaca terlampau jauh bernostalgia. Pada kenangan tentang revolusi industri. Atau ke era Kartini. Atau ke masa Ratu Juliana muda yang saat itu baru saja merayakan ulang tahunnya ke-19 dan sangat digilai oleh tokoh Minke dalam novel Bumi Manusia.

Meski semua itu  sama-sama titik di mana perubahan besar berlangsung. Alih-alih, saya ingin membawa diskusi ini pada fenomena kekinian. Ada sebuah revolusi yang tengah berlangsung dan menjangkiti keseharian kita. 

Praktis setelah revolusi industri dua abad silam, dunia belum lagi mengalami satu lompatan besar yang mampu merubah semua segi kehidupan seperti apa yang dilakukan oleh revolusi yang berlangsung di Inggris itu. Baru kemudian memasuki paroh kedua abad kemarin, seperti di kemukakan oleh para pengamat, sebuah lompatan besar muncul ke permukaan.

Lompatan besar ini bernama revolusi informasi dan komunikasi. Ditandai oleh penemuan komputer, satelit, telepon seluler, dan penggunaan teknologi informasi secara luas. Semuanya terjadi dalam kurun waktu relatif singkat: kurang dari 100 tahun!

Sebelumnya, peradaban manusia menyaksikan suatu perkembangan di bidang komunikasi yang berlangsung lamban. Transformasi dari bahasa lisan menuju tulisan misalnya, memakan waktu yang sangat lama. Manusia membutuhkan waktu sekian milenium untuk berhasil mentransformasikan bahasa lisan ke bentuk tulisan yakni  baru pada kira-kira 3000 tahun sebelum masehi di Mesir atau di Cina sekitar 1300 sebelum masehi.

Manusia mungkin ditakdirkan sebagai mahluk yang tidak gampang puas. Untuk memenuhi kebutuhan yang semakin berkembang, 4500 tahun setelah diciptakannya tulisan, pada tahun 1450-an sebuah alat revolusioner bernama mesin cetak berhasil diciptakan dengan tugas untuk memperbanyak hasil tulisan yang identik secara masal dan cepat.

Meski alat seperti ini sudah ada sejak jaman kuno dalam peradaban di timur, namun mesin cetak buatan Gutenberg di Jerman memberi dampak dan pengaruh yang sangat luas dan mungkin saja telah memberi jalan bagi revolusi digital di jaman kita sekarang.   

Lima puluh tahun menjelang pergantian milenium, era komputer memberikan jalan bagi sebuah revolusi bernama revolusi informasi dan komunikasi. Berbagai inovasi berlangsung cepat dalam kurun waktu 50 tahun setelah itu. Berawal dari penemuan komputer, alat penyimpanan data, penemuan internet, dan pemakaian telepon cerdas, semua telah banyak sekali berdampak dan memberikan perubahan pada manusia hampir dalam semua bidang kehidupan.

Perubahan dan Konflik

Lantas pertanyaannya kemudian adalah, benarkah setiap perubahan itu mesti selalu diikuti oleh konflik? Beberapa teori dalam ilmu sosial menyebutkan bahwa perubahan yang terjadi secara cepat akan menimbulkan disintegrasi sosial. Namun demikian, disintegrasi sosial ini biasanya tidak bersifat permanen alias hanya sementara. Proses ini kemudian akan diikuti oleh reorganisasi untuk menghasilkan sebuah tatanan baru yang lebih mantap.

Mengacu pada penjelasan teoretis di atas, agaknya berbagai fenomena perubahan sejak revolusi industri sampai revolusi digital hari ini seolah memberi afirmasi. Sebut misal revolusi industri. Selain telah membawa dampak positif dan kemajuan bagi manusia, berbagai dampak negatif juga dihasilkan seperti kemiskinan dan ketimpangan. Namun tentu saja manusia tidak berhenti di situ. Ia terus mencari titik kesetimbangan antara inovasi dan ekses yang terjadi.

Berbagai inovasi yang mengikuti perkembangan teknologi informasi seperti menjamurnya berbagai platform media sosial juga telah memunculkan dampak yang mungkin tidak diantisipasi sebelumnya. Sejumlah platform media sosial selain bisa dimanfaatkan untuk memperlancar komunikasi juga telah dimanfaatkan secara salah oleh berbagai kalangan, misal untuk tujuan terorisme, pornografi, dan kejahatan lainnya.

ANTARA/Prasetyo Utomo

Antara/Prasetyo Utomo

Kasus-kasus kekerasan dan ketegangan antara ojek/taksi online berhadapan dengan ojek/taksi konvensional yang disebut di bagian awal tulisan ini juga merupakan manifestasi dan bentuk-bentuk kegamangan aktor-aktor yang terlibat dalam menyikapi perubahan. Adanya perasaan terancam dari kelompok status quo yang merasa sumber penghidupannya terganggu oleh pendatang baru telah memicu berbagai gejolak dan ledakan emosional di jalanan.

Tetapi sebagaimana dikatakan oleh Heraclitus dari Ephesus, tidak ada sesuatu yang permanen kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan pada awalnya memang akan sulit diterima karena kejutan yang ditumbulkannya kadang terasa tidak nyaman di permulaan. Namun jika perubahan itu ternyata menuju ke arah yang benar, rasanya tidak ada yang perlu membuat kita menjadi takut. Bukankah konflik dan ketegangan tidak selamanya harus berakhir dengan kekerasan?