Statistik minat baca Indonesia yang dirilis UNESCO pada 2012 lalu telah membuat negara seribu pulau ini dilabeli sebagai negara malas membaca. Bagaimana tidak, dari 10 orang hanya 1 orang saja yang mau meluangkan waktunya untuk bercengkerama dengan literasi. 

Literasi yang dipahami sebagai kemampuan menulis dan membaca menjadi momok yang seakan termarginalkan. Sebagian besar masyarakat hanya memberikan ruang luas terhadap zona nyaman yang tidak produktif. Jika diabaikan begitu saja, sudah barang tentu berakibat fatal, Indonesia akan mengalami ketimpangan kualitas hidup.

Pada dasarnya, literasi adalah bagian dari alternatif yang berpotensi meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Misalnya saja, seseorang akan lebih mengetahui dan memahami bagaimana cara hidup sehat melalui membaca, baik itu bacaan berupa buku atau brosur-brosur yang disebarkan oleh dinas kesehatan. 

Demikian pula dengan petani, jika ia rajin membaca dan senantiasa menambah wawasannya, bukan tidak mungkin ia bakal menjadi petani yang sukses. Apalagi hasil membaca tersebut diungkapkan dalam bentuk tulisan, hasil olah kata yang dipublikasikan akan membuat ia semakin meningkatkan khazanah keilmuaannya. Contoh sederhana tersebut sudah cukup menginisiasi bahwa betapa kemampuan literasi berpengaruh besar terhadap kemajuan kualitas diri seseorang.

Selain itu, literasi sejatinya juga memperbaiki keburukan dalam berpikir. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Dedy Ary Asfar, pendiri Pustaka Rumah Aloy Kalimantan Barat. Menurutnya, membaca adalah katarsis, menghilangkan segala sesuatu yang membuat orang berpikir negatif, semacam membersihkan jiwa dari kekotoran dan kehinaan dunia. Ungkapan ini sahih adanya, jika buku yang dikonsumsi berisi pengetahuan yang benar dan penikmatnya dapat memfilter isi dari buku ini sendiri.

Fenomena Buku di Indonesia

Beberapa waktu lalu, di negeri pertiwi telah terjadi razia buku yang dilakoni aparat penegak hukum yakni di toko buku Kediri dan Padang. Razia ini berangkat dari isi buku yang dinyatakan berhaluan kiri seperti komunisme, marxisme, dan leninisme. Isu komunisme belum lama ini memang menyeruak mengancam keamanan NKRI, bahkan seluruh elemen pemerintah diarahkan agar senantiasa memberikan sosialisasi kepada masyarakat akan bahanya paham yang diracik oleh pemikir-pemikir terdahulu. Sejarah silam yang kelam menjadi orientasi bahwa komunisme sangat berbahaya dan merupakan persoalan riskan yang mesti dientaskan segera.

Fenomena razia buku mengundang perhatian bagi masyarakat Indonesia, ada yang pro ada pula kontra. Bagi pegiat literasi dan pecinta buku, ini adalah sesuatu yang sangat ironis sekali. Sebab perkara yang demikian itu akan menghanguskan pengetahuan. Meminjam istillah Naufal Madhure, seorang pengamat sosial, Razia buku adalah sesuatu yang tidak dapat ditolerir karena merampas kebebasan dan membunuh intelektualisme masyarakat, menghambat laju peradaban, dan menumbuhkan kedunguan (Qureta.com).

Sah-sah saja apabila harus merazia buku atas dasar kekhawatiran akan munculnya pemahaman yang merusak. Ini adalah bagian dari upaya pemerintah menindaklanjuti sesuatu yang tak diinginkan terjadi di bumi pertiwi. Pun tidak berlebihan jika bagi sebagian kalangan ini sangat membahayakan karena menghanguskan eksistensi ilmu dengan syarat mampu  menyaring keberadaan pengetahuan itu sendiri.

Razia buku ini dapat menurunkan kembali semangat minat baca bangsa. Bisa jadi, satu dari sepuluh orang yang rajin membaca berdasarkan data UNESCO itu akan kembali surut atau bahkan tidak ada sama sekali. 

Oleh karena itu, menurut hemat penulis baiknya razia tersebut disaring dan dipikirk ulang lagi. Siapa tahu ada alternatif lain yang bisa diaplikasikan. Bukankah banyak kaum intelek dengan kadar pengetahuan mumpuni bisa ikut menyumbangkan pikirannya menyongsong solusi, apalagi kita hidup di negara di mana kebebasan berpendapat dan keberadaan rakyat diperhatikan.

Segarkan Motivasi

Minimnya semangat membaca dan data yang ada jangan menjadi alasan tidak menggiati dan meninggalkan literasi, itu hanya memperkeruh keadaan. Sudah kadung banyak kita disuguhkan oleh pesimisme data, padahal banyak juga yang menggiati literasi, tetapi bisa jadi tidak tertangkap media. 

Bisa diperhatikan di internet, banyak situs berisi tulisan dari para penggemar literasi. Media cetak seperti koran pun banyak tersebar bahkan hampir di setiap daerah,  permasalahannya hanya terbatas akses sehingga sebarannya tak merata. Namun, bukankah media massa berbasis internet sudah banyak. Maka, tidak ada dalil lagi yang membuat motivasi kita tergerus.

Sekarang manusia dihadapkan dengan perkembangan serba teknologi, akses sangat luas, tersebar ke seluruh antero nusantara bahkan dunia. Menulis menjadi bagian penting yang dapat mengeksplor semua aktivitas dan mengabadikan ilmu pengetahuan yang dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Musuh kita sekarang adalah kemerosotan kesadaran. Bukankah banyak di antara kita yang menyadari betapa penting dan bermanfaatnya menggeluti literasi? Oleh karena itu, ada beberapa hal yang mesti kita revitalisasi kembali agar motivasi literasi tersegarkan. 

Meskipun pada dasarnya sudah terlalu sering kita diingatkan akan hal itu, paling tidak agar gairah semakin menaik dan menyadari bahwa bergerak dan praktik adalah jalan terbaik seorang pembaca dan penulis. Motivasi ini disampaikan langsung oleh pakar literasi dan tokoh Nahdathul Ulama (NU) Kalimantan Barat pada Pelatihan Jurnalistik 2 yang diselenggaran oleh Lembaga Ta’lif Wan Nasyr (LTN) NU Sabtu (19/01/19).

Pertama, Dr. Yusriadi, MA, ketua Ikatan Sarjana NU Kalbar. Beliau menyampaikan bagaimana menulis mampu mengubah pola pikir seseorang. Menurutnya, perkembangan zaman yang semakin pesat harus dihadapi dengan kecerdasan dalam berliterasi. 

Sekarang kehidupan manusia ditantang oleh industr 4.0, perkembangan dalam bidang teknologi. Zaman ini ibarat pisau bermata dua, berdampak positif dan negatif. Jika seluruh kalangan melihat ini sebagai peluang dan tantangan, sungguh ia akan mampu beradaptasi dan perlahan menggapai kesuksesan. Kesemuanya diperoleh dengan meningkatkan kemampuan dalam berliterasi. 

Demikian sebaliknya, jika diacuhkan, kehidupan anak manusia akan suram. Pola berpikir anak muda menurut Yusriadi harus dikembangkan dengan menulis, percuma jika pandai berpikir tapi tidak dituliskan, karena wujud berpikir dilihat dari tulisannya. Menulis merupakan bagian dari eksistensi dan ekspresi diri. 

Memaksakan diri adalah solusi utama menulis, bukankah pengetahuan yang seseorang peroleh seperti kecakapan berbahasa Inggis, Bahasa Arab, dan pengetahuan lainnya awalnya adalah paksaan diri. Selain itu, bagi yang mempercayai akan adanya akhirat, kebermanfaatan dalam menulis dapat mengantarkan kepada keselamatan.

Kedua, Rosadi Jamani, wartawan senior dan youtubers Kalbar. Menurutnya menulis merupakan sebuah keberkahan. Akibat senantiasa melatih diri setiap hari, karya tulis membawanya ke luar negeri, Belanda dan Meksiko. Tokoh NU sekaligus dosen Universitas NU Kalbar ini sangat bersemangat luar biasa, ia pun mengabarkan bahwa isterinya yang bekerja di Kementerian Agama kota Pontanak ikut menulis, bahkan ungkapnya tidak ada yang menyaingi keunggulan isterinya. 

Kata Rosadi, syarat menulis hanya ada tiga. Pertama menulis, kedua menulis, dan ketiga menulis. Syarat ini menunjukkan bahwa menulis itu jangan terlalu banyak teori karena semakin membuat kegaduhan pikiran, solusinya hanya praktik. Awal dari segalanya adalah bergerak memulai menulis, mengamalkan. Sebab ilmu atau teori itu tidak akan membuahkan hasil tanpa langsung mempraktikkan.

Ketiga, Dr. Ibrahim, MA, Ketua LTN NU. Dalam kesempatannya mengutarakan bahwa menulis bisa dilakukan dengan belajar praktik, soal teori kepenulisan dikesampingkan terlebih dahulu. Dalam kondisi apa pun kita bisa menulis, bahkan dalam situasi bingung yakni dengan menulis kebingunan itu sendiri. 

Di antara prinsip yang diungkapkan dosen IAIN Pontianak ini dalam menulis ialah bahwa menulis itu bukan sekadar bakat, seorang penulis belajar membuat tulisan, memulainya dengan menulis, dan mengawalinya dengan menulis tentang diri dahulu baru yang lainnya. Prinsip-prinsip ini merupakan landasan motivasi menulis seorang pemula atau yang sudah lama berkecimpung. Oleh karenanya, menulis itu penting karena sebagai dokumentasi keabadian, proses meningkatkan pengetahuan, dan merupakan ekspresi-eksistensi diri serta sarana berdakwah.

Akhirnya, untuk kembali menyegarkan semangat literasi yang harus dilakukan adalah bukan membangun pesimisme dari data yang menunjukkan kemalasan bangsa Indonesia terhadap minat literasinya atau fenomena yang terjadi tengah menimpa bangsa. Itu hanya gambaran yang seakan mengingatkan kita betapa literasi adalah sesuatu yang penting untuk digiati dan ditumbuhkembangkan. 

Perlu disadari bahwa kesuksesan tokoh-tokoh besar nasional dan internasional, tidak bisa dipungkiri adalah mereka yang selalu memberikan ruang luas terhadap literasi dalam hidupnya. Tidak ada alasan lagi bagi pengejar kesuksesan untuk tidak menggiati literasi. Semua orang ingin sukses, maka semua orang hakikatnya harus menulis.