Sesungguhnya konflik di muka bumi ini bukan sesuatu yang baru. Sudah terjadi sejak manusia pertama diciptakan. Konflik itu pun terjadi seiring dengan rusaknya relasi manusia dengan penciptanya, ketika manusia tersebut tidak lagi menaati aturan yang telah ditetapkan.

Dengan demikian, akibat relasi yang telah rusak dengan pencipta, maka berdampak pula pada rusaknya relasi manusia dengan sesama, alam, bahkan dengan dirinya sendiri.

Penyebab Konflik

Seiring dengan kerusakan relasi tersebut, maka 'nature' manusia tersebut telah membangun sebuah ego. Manusia mulai merasa dirinya lebih utama, lebih penting, lebih baik dan lebih benar daripada orang lain. Sehingga, permasalahan turunan yang ditimbulkannya pun mulai terjadi, salah satunya yakni rentetan konflik yang sering terjadi diantara sesama. Dan pada akhirnya, seolah konflik tersebut telah identik dengan diri manusia itu sendiri.

Memang ketika seseorang mulai fokus pada diri sendiri, itu merupakan fase awal manusia sedang berusaha untuk menutup dirinya, melupakan orang lain yang ada di sekitar, hingga pada tingkat yang lebih tinggi lagi yakni menganggap orang lain rendah daripada dirinya sendiri.

Bagaimana mungkin bisa muncul rasa saling mengasihi, serta niat untuk membangun relasi yang baik jika sudah merasa lebih dari yang lainnya. Ini yang sangat berbahaya, awalnya kecil lama kelamaan masalahnya menjadi semakin besar. Ibarat api dalam sekam, awalnya kecil tapi lama-kelamaan akan membakar segala sesuatu yang ada di sekitarnya.

Demikian halnya bahwa konflik pun dapat terjadi karena perbedaan antar individu. Adanya ketidaksiapan manusia untuk menerima perbedaan serta ketidakmampuan mengakomodirnya. Padahal kita tahu bahwa dalam masyarakat, terdapat banyak perbedaan antar individu yang bisa kita lihat bersama, misalnya perbedaan ras, agama, etnis, golongan, gender, latar belakang pendidikan, ekonomi, ideologi, budaya, dan lain sebagainya.

Umumnya, semakin besar perbedaan, maka semakin besar pula potensi konflik yang mungkin terjadi. Padahal sejatinya, bahwa sejak awal penciptaan pun telah diciptakan berbeda demi bisa hidup saling melengkapi.

Disamping perbedaan antar individu, ternyata perbedaan kepentingan dari seseorang atau sekelompok orang dalam masyarakat turut menjadi penyebab terjadinya konflik. Akibat kepentingan tersebut tidak jarang terjadi diskriminasi dan dominasi oleh kelompok tertentu terhadap kelompok lainnya.

Pemaksaan kehendak oleh kelompok yang superior dan mayoritas terhadap kelompok yang inferior dan minoritas. Bahkan berbagai kejahatan kemanusiaan lainnya hingga genosida tidak akan ada yang bisa menghalanginya jika kepentingan seseorang atau sekelompok lebih besar daripada rasa menghargai dan persaudaraan dengan sesama.

Satu lagi, konflik bisa juga terjadi karena adanya berbagai perubahan dalam masyarakat. Perubahan terkadang dapat berdampak pada ketimpangan dan kesenjangan antar individu dan kelompok dalam masyarakat. Hal itu sangat rentan menjadi alasan terjadinya berbagai konflik.

Seperti adanya konflik vertikal antara pengusaha dan buruh, si kaya dan si miskin, penguasa dan rakyatnya. Serta bisa juga terjadi konflik antargenerasi karena generasi terdahulu tidak siap menerima perubahan yang ada, sementara generasi terkini telah berada pada zona perubahan itu sendiri.

Menghapus Jejak Konflik

Konflik itu terkadang ibarat bekas paku yang tertancap pada sebuah balok kayu. Ketika paku sudah di cabut, maka bekasnya cenderung masih membekas. Adakalanya konflik bisa diselesaikan dan dilupakan. Tapi tidak sedikit konflik yang sulit terlupakan. Generasi telah berganti, tapi torehan sejarah konflik masih tercatat dalam kenangan.

Misalnya, bagi sebagian orang, mungkin peristiwa perang salib masih membekas dalam ingatan sejarah, walau seseorang tidak pernah menyaksikan tapi karena catatan dalam sejarah masih tetap menjadi bagian yang tidak dapat dilupakan.

Celakanya, masyarakat masa kini misalnya tidak pernah melihat kejadian tersebut atau sepenuhnya tidak mengerti tentang peristiwa itu, tapi faktor-faktor isme terkadang lebih kuat lagi untuk menjadikannya sebagai sebuah pemicu permusuhan. Sehingga tidak jarang ada yang beranggapan bahwa luka masa lalu adalah luka kami masa kini.

Belum lagi peristiwa holocaust, perang dunia, perang dingin, perang teluk, dan lain sebagainya. Terkadang itu semua selalu menyisakan luka pilu yang sulit dipulihkan, bahkan sampai kapan pun terkadang tidak terselesaikan.

Padahal fakta sejarah juga yang mencatat bahwa akibat dari konflik itu bisa membawa kerugian besar dalam kehidupan manusia dan peradabannya. Mulai kerugian materi, korban jiwa, trauma, dan masih banyak lagi.

Tapi terkadang sejarah tidak dijadikan sebagai pedoman pembelajaran. Sejarah hanya dianggap sebagai peristiwa masa lalu yang tidak bernilai dan berarti. Semestinya sejarah menjadi pelajaran dan pedoman untuk bertindak di masa kini. Mari kita lebih bijak dalam menyikapi hal ini. Untuk itu saatnya kita melakukan rekonsiliasi sejarah. Mendamaikan masa lampau melalui pribadi yang bijaksana.

Saatnya Revitalisasi Relasi

Dalam hubungan antar individu atau antar kelompok, perlu dilakukan pemulihan relasi. Urusan relasi harus dilakukan dengan hati atau perasaan. Saatnya menjaga hati untuk kembali memiliki relasi yang baik dengan sesama demi menjaga harmoni dan perdamaian. Sebab relasi tanpa hati yang ada hanyalah kecurigaan dan usaha untuk membentengi diri.

Manusia harus mampu untuk menumbuhkan komitmen untuk bisa saling menerima, menghormati keberadaan orang lain. Mampu menerima perbedaan-perbedaan yang ada. Mampu menganggap orang lain penting dalam keberadaan kita sebagai makhluk sosial. Memikirkan solusi dari pada mencari alasan dan masalah yang diantara sesama manusia.

Dari semua itu, maka manusia harus terlebih dahulu memperbaiki relasi dengan pencipta. Sebab tanpa pemulihan relasi tersebut, maka tindakan yang kita lakukan pun akan masih fokus pada diri sendiri atau masih didominasi oleh sentrisme yang ada.

Meyakini dan menjalankan perintah agama yang diajarkan oleh kitab suci masing-masing sejatinya harus bisa menekan rasa permusuhan dan konflik dalam diri. Sebab ajaran agama pun sebenarnya selalu mengajarkan hidup berdampingan dengan damai.

Kita berharap negeri kita ini pun menjadi negeri yang damai. Konflik mungkin bisa saja terjadi, tapi haruslah kita mengambil hikmah dan proses pendewasaan diri dan masyarakat. Berharap konflik bukan merupakan sarana melahirkan perpecahan, tapi melalui konflik kita bisa menjadi lebih kuat untuk hidup berdampingan. 

Salam perdamaian.