Minggu pagi yang buta, saat sebagian  terlelap dalam tidur panjang di hari libur, sekelompok ikhwan dan akhwat di Masjid Ar Rahmah Rumah Sakit Islam Jakarta berkumpul. Mereka memakai atribut putih-putih bertuliskan lafadz Tahlil bertinta hitam ada juga kain berwarna hitam bertuliskan lafadz yang sama berwarna putih. Sekelompok ikhwan dan akhwat ini menyebut diri sebagai mujahid 212 dan akan mengikuti serangkaian aksi damai dalam reuni 212 di monumen nasional (Monas) Jakarta Pusat.

Setelah mengikuti sholat shubuh berjamaah dan mendengarkan ceramah singkat tujuh menit, para ikhwan dan akhwat kemudian berkumpul rapi disepanjang jalan Cempaka Putih, meneguhkan kesadaran, meghujamkan kekuatan yang berlandaskan niat mulia untuk berbuat dan berpartisipasi membela agamanya : Islam.

Kesadaran ini muncul karena mereka kalangan menengah yang tidak memiliki kekuatan secara konstitusional untuk membela agamanya, tidak memiliki kekuatan finansial untuk membayar segala sesuatu dengan mudah, mereka turun ke jalan tanpa bayaran, instruksi maupun imbalan. Makan dan minum mereka sumbangkan bagi relawan yang lain, tanpa melihat apa dan siapa namun keihlasannya tentu akan menjadi nilai mulia dihadapan Allah SWT.

Otak mereka tidak terkontaminasi dengan sikap apatis, mereka secara sadar melakukannya dengan harapan agar agamnya dijaga, dipelihara bukan sebaliknya dicurigai, ditentang serta ditakut-takuti. Pekik takbir menggema di shubuh itu, para mujahid melangkahkan kaki berjalan sejauh 5 kilometer menuju tempat acara. Para intel pun berjaga, namun mereka tidak takut dan membiarkannya berlalu. Ketakutan itu bagi mereka adalah hilangnya ghirah dari dalam diri untuk membela agama.

Hati mereka saling terpaut, bekerjasama untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Hati yang diliputi dengan keimanan dan rasa senasib seperjuangan ini menggugah kawan yang lainnya untuk membela agama mereka. Kedekatan hati inilah yang tidak mungkin bisa dibayar dengan materi yang banyak, kedekatan hati inilah yang membuat mereka bersatu dengan prinsip iman dan islam dan kedekatan hati inilah yang membuat mereka bertawakkal, rela mati demi agama yang dicintainya.

Gerak mereka terlihat dari jumlahnya yang kian ditakuti keberadaannya. Mereka datang dari penjuru Indonesia untuk ikut andil dan turun tangan menegasakan kembali prinsip keimanan serta nilai keislaman yang mereka pancarkan melalui gema takbir, tahmid dan tahlil. Gerak persatuan yang mereka tunjukkan dalam aksi reuni 212 ini merupakan ghirah sesungguhnya, keihklasan sebenarnya dalam bingkai persaudaraan islamiyah dan wathoniyah.

Lalu ada yang bertanya, apakah ini umat islam yang sesungguhnya? Tentu ini persaudaraan sesungguhnya yang tidak ada seorangpun mampu membayarnya. Kehadiran mereka sebagai perwujudan silaturahim membela kebenaran dan mencegah kemungkaran. People power ditunjukkan umat islam dalam reuni 212, tidak ada paksaan, intimidasi meski sebelumnya ingin ditiadakan, dicegah dan dibuat tandingan. 

Optimisme ini menggema tidak hanya ke penjuru Indonesia namun ke seluruh penjuru dunia. Kita seolah berkata bahwa umat ini bukan buih dilautan, umat ini besar dengan kualitas terbaik jika otak, hati dan gerak mereka menyatu dalam langkah persaudaraan membela kebenaran.

Aksi reuni 212 ini menjadi pelajaran bagi kepemimpinan yang ada ditengah banyaknya masalah yang menyangkut umat islam mulai dari penangkapan Da’i atau Penceramah, pemeriksaan terhadap isi dakwah para khatib, tuduhan terhadap radikalisme di masjid hingga pembubaran organisasi keummatan. 

Berbagai masalah diatas masih berlangsung hingga saat ini, upaya tarik ulur kepentingan masih terlihat adanya, kepemimpinan rapuh saat sebagian golongan mengatasnamakan diri pancasilais dan agamis mengerogoti kekuatan ummat islam.

Reuni 212 tidak hanya unjuk kekuatan dan ghirah umat islam tetapi lebih pada pembelaan diri atas ketidakadilan yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Wajar jika mereka bergerak, menyuarakan kebenaran dengan persatuan yang ada. Semoga kerelaan dan keikhlasan mereka didengar, masalah mereka diselesaikan tidak lagi dzalim apalagi menakut-nakuti mereka dengan hukum dunia yang dibuat manusia.