Pasca dilangsungkannya Reuni Akbar 212 di Monas hari Minggu kemarin (2/12), orang-orang yang kontra terhadap aksi ini ramai membahasnya di akun media sosial mereka. Dan tentu, yang dibahas dan terus dibahas itu adalah hal-hal yang dianggap negatif dari aksi tersebut. Adapun tentang hal-hal yang tidak negatif dari aksi tersebut, terlihat sekali, mereka begitu menahan diri untuk tidak membahasnya.

Saya kira sikap tersebut keliru. Dengan hanya membahas hal-hal yang dianggap negatif saja dari Reuni Akbar 212, mereka telah membentuk ulang aksi massa ini dan menghadirkannya dalam wujudnya yang tereduksi; sedangkan wujud inilah yang kemudian dihadapi—dan dilahap—oleh orang-orang lain yang kebetulan terhubung dengan mereka. Dampaknya apa? Mereka, juga orang-orang lain itu, bisa semakin terjebak dalam pola pikir yang dualistis.

Bineritas di Atas Realitas

Sejatinya segala hal yang ada di realitas ini tidak pernah sederhana dan tidak pernah biner. Dan Reuni Akbar 212 pun begitu. Motif dari keikutsertaan puluhan ribu orang dalam aksi tersebut, misalnya, tidak bisa dipukul sama rata. Dan motif mereka ini belum tentu berlawanan dengan motif orang-orang yang memilih untuk tidak mengikuti acara tersebut.

Katakanlah di antara orang-orang itu ada yang sedari awal memang ingin menyampaikan aspirasi politik atau mendapatkan uang. Namun ada juga di antara mereka itu yang sekadar ingin mengikuti salat dan doa bersama. Dan mungkin ada juga yang niatnya cuma ingin melihat Prabowo Subianto dari dekat. 

Adanya perbedaan motif ini, tak pelak lagi, berdampak pada meluasnya dimensi aksi itu sendiri—politik, ekonomi, religi, psikologi, sosiologi, dll.. Dan konsekuensinya jelas: kita akan keliru jika bersikeras melihatnya sebagai sesuatu yang sederhana, apalagi biner.

Sikap mereka yang kontra tadi, bahwa mereka begitu menahan dari dari membahas juga hal-hal yang tidak negatif dari Reuni Akbar 212, bisa dilihat sebagai buah dari kegagalan mereka dalam menyadari meluasnya dimensi aksi tersebut. Tahap-tahapnya begini: pertama-tama, mereka hanya melihat dimensi politik dari aksi tersebut; setelah itu, mereka mereduksi dimensi politik ini menjadi sangat sempit—mereka menyajikan aksi tersebut sebagai sesuatu yang sepenuhnya negatif.

Mereka yang pro pun tentu tidak lebih baik. Di antara mereka yang pro itu, misalnya, ada saja yang bersikeras beranggapan bahwa aksi tersebut murni aksi keagamaan semata; padahal jelas sekali aksi ini berakar dari sebuah gerakan politik dua tahun lalu dan di saat yang sama terkait erat dengan pesta demokrasi yang akan dihelat di negeri ini tahun depan; dan di antara mereka sendiri ada yang terang-terangan menunjukkan aspirasi politiknya di sepanjang aksi berlangsung.

Dan seperti halnya mereka yang kontra, mereka yang pro ini pun begitu menahan diri untuk tidak membahas hal-hal negatif dari berlangsungnya aksi tersebut. Melibatkan anak-anak dalam sebuah aksi bernuansa politik, misalnya, jelas sekali sebuah kesalahan. Namun tidak ada kiranya dari mereka yang mengakui apalagi membahas kesalahannya ini.

Dan terkait sikap mereka yang biner ini, media massa sering kali tidak membantu; justru malah menguatkan bineritas itu. Media-media daring tertentu, misalnya, dalam memberitakan Reuni Akbar 212, hanya fokus pada hal-hal yang berpotensi membuat mereka yang kontra semakin tak menyukai—bahkan membenci—aksi tersebut; bukannya mendorong mereka untuk meluaskan perspektif agar mampu melihat aksi tersebut secara lebih jernih dan komprehensif.

Bineritas, dalam hal ini, ditampilkan sebagai sesuatu yang posisinya berada (jauh) di atas realitas. Dan kita tahu betul: itu sebuah kekeliruan.

Apa yang Berbahaya dari Reuni Akbar 212?

Selain sebuah kekeliruan, memosisikan bineritas sebagai sesuatu yang berada (jauh) di atas realitas adalah juga sesuatu yang berbahaya. Dihadapkan pada pemosisian seperti ini, bukan tak mungkin lambat-laun kita menuju sebuah masyarakat dengan pola pikir biner, sebuah masyarakat yang dualistis. Tanda-tanda ke arah sana sesungguhnya telah terlihat jauh sebelum Reuni Akbar 212 berlangsung. Kita, misalnya, telah sangat akrab dengan istilah cebong dan kampret.

Jadi sebenarnya bisa juga dikatakan bahwa bineritas pasca-Reuni Akbar 212 adalah perpanjangan dari bineritas cebong-kampret. Seorang cebong sebisa mungkin tidak akan membahas hal-hal positif dari para kampret atau apa yang mereka perjuangkan; begitu juga sebaliknya. Dan inilah kemudian yang semestinya kita khawatirkan pasca-Reuni Akbar 212: menguatnya bineritas cebong-kampret itu.

Dan sayang sekali, kalau kita melihat respons mereka yang pro maupun yang kontra terhadap aksi tersebut, kecenderungannya adalah ke arah sana. Mereka yang pro dan semula berharap aksi tersebut bebas dari nuansa politik, pada akhirnya tak ambil pusing soal kentalnya nuansa politik dalam aksi tersebut. 

Mereka yang kontra dan awalnya menilai aksi tersebut tak berguna, justru malah ketagihan untuk terus membahas hal-hal tak penting terkait aksi tersebut seperti klaim jumlah massa aksi sebanyak 11 juta orang. Mereka, baik yang pro maupun yang kontra, terjebak dalam bineritas itu. Dan mereka, bisa jadi, tak menyadarinya.

Dan inilah menurut saya yang berbahaya dari Reuni Akbar 212. Sementara mereka semestinya sudah mulai mencoba untuk keluar dari bineritas cebong-kampret, dari pola pikir yang dualistik, aksi massa ini justru menahan mereka untuk tetap berada di sana, terjebak di dalamnya, dan tanpa sadar turut menguatkannya.

Dan kita mesti memahami bahwa mereka adalah bagian dari kita, juga bahwa batas-batas di antara kita dan mereka tidak pernah jelas dan tegas; dan itu artinya kita pun rentan untuk terjebak di dalam bineritas itu, di dalam pola pikir yang dualistis itu.

Lantas apa yang semestinya kita lakukan? Tentunya mengajak mereka untuk membebaskan diri dari jebakan tersebut. Reuni Akbar 212 sudah terjadi; itu tak bisa diapa-apakan lagi. Tetapi kita bisa memilih untuk tidak menggunakan pola pikir biner dalam menyikapinya. Kita punya pilihan untuk tidak turut andil dalam membentuk—dan menguatkan—masyarakat yang dualistis.

Dan untuk bisa menggunakan pilihan kita ini, pertama-tama kita harus meluaskan perspektif kita, membiasakan diri kita untuk melihat sebuah persoalan dari berbagai dimensi.

Dan tentu, kita baru bisa melakukannya apabila kita memiliki tiga hal: nalar kritis yang kuat; pengetahuan yang cukup; dan rasa ingin tahu yang tinggi.