Lambe turah. Istilah bahasa Jawa ini artinya mulut -lambe- yang berlebihan -turah-. Akhir-akhir ini nama Lambe turah populer sebagai salah satu akun instagram yang memposting banyak kejadian hits. Sesuai namanya, Lambe-nya memang begitu turah. Saking turah-nya, pemirsa akunnya seperti ikut-ikutan berperilaku turah. Akhir-akhir ini ke-turah-an itu diwujudkan dengan postingannya tentang prostitusi online yang melibatkan artis dan model, inisial VA dan AS. Coba buka instagram anda, cari postingan Lambe turah tertanggal 6 Januari 2019 sekitar jam 7an malam. Bagaimana menurut kalian?

Saya kok merinding menyaksikannya! Postingan itu menampilkan sosok AS menangis didepan kantor polisi -di belakangnya ada tulisan reserse kriminal khusus-. Air tangis AS itu menetes disaksikan awak media. Ada suara jepretan kamera yang tak hentinya memfoto dan merekam. Saya bingung, itu kantor polisi atau kaki tangan Lambe turah ya? kok tupoksi mereka hampir sebelas - dua belas. Saya curiga jangan-jangan bapak polisinya adalah pengikut akun Lambe turah di Instagram. Jadi ke-turah-an lambe-nya karena status turah holic saja.

Saya tidak ingin menganalisis ini melalui pendekatan kesetaraan gender, teori sosial, apalagi hukum teknis. Saya ingin mengomentari lebih kepada fenomena kecomelannya. Seperti apa ini muncul kenapa tiba-tiba sudah sampai pola pikir aparatur penegak hukum. Bahkan polisi dalam kasus itu - dibuktikan lewat jumpa pers di depan kantornya - tidak bisa membedakan mana korban dan mana pelaku kejahatan prostitusi. Sebenarnya PSK tidak bisa dipidanakan pekerjanya, kecuali kalau PSK didomplengi dengan laporan perselingkuhan, atau terjadi di daerah khusus misal Aceh dimana ada Perda yang mengatur.

Bukan bermaksud membela VA dan AS, tapi sependek itulah garis besar hukum yang saya ketahui. Tapi apapun kata hukum, sebenarnya cukup berdasarkan common sense, harusnya kita sudah bisa mengerti bahwa aib itu wajib ditutupi - menurut saya ini aib -. Analoginya begini; kalau kita tahu aib teman bahkan orang yang tak kita kenal, apapun bentuk aibnya, harusnya kita wajib melindunginya. Apalagi itu tidak berkaitan secara langsung dengan kehidupan kita. Prinsipnya sangat sederhana, yaitu karena kita sendiri pasti tidak ingin jika aib kita juga disebarkan teman-teman kita.

Tentu sebagai bentuk pelajaran bersama, kasus prostitusi online itu wajib diungkap. Bila perlu bentuk hukumannya disosialisasikan di depan publik biar publik juga merasakan langsung efek jeranya. Tapi jangan luput, privasi juga harus diperhatikan bahkan wajib dipenuhi. Tapi polisi secara terang-terangan mempersilahkan awak media datang ke kantornya. Bahkan ketika ramai-ramai penggerebekan, nama lengkap VA dan SA sudah dikantongi oleh pihak media. Ini menunjukkan ada kebocoran pola pikir dalam menerjemahkan posisi korban.

Saya termasuk pengikut akun instagram Lambe turah. Sekedar mengikuti kehebohannya, saya rutin, tapi untuk postingan Lambe turah kali ini sungguh mengganggu batin saya. Selain pengikut lambe turah, saya juga mengklaim diri sebagai lelaki lemah yang tak kuasa melihat perempuan merana karena aibnya. Jadi postingan Lambe turah tentang VA dan AS membuat saya semacam dilanda paradox dalam mengikuti akunnya. Kalau kita mau dongkol lebih dalam, kita bisa bertanya kenapa hanya nama VA dan AS yang lantang diucapkan, sementara pejabat penyewanya diucapkan terlambat.

Sepertinya kita hidup dalam suatu kondisi bahwa nilai sebuah kabar akan menggerus akal sehat prilaku manusia. Ini sebenarnya semacam simtoma dalam negara kita. Jika dibiarkan berlarut-larut maka penyakit ini akan merenggut, tidak hanya martabat wanita tapi martabat bangsa kita juga. Semacam ilmu cocologi, tapi menarik untuk dijadikan pelajaran, bahwa ada pepatah " bangsa yang besar dilihat dari caranya menghormati perempuan ". Melalui fenomena prostitusi online, antara VA dan AS, coba kita analisis berdasarkan kosmik. Supaya bisa mengukur taraf parahnya kecomelan kita.

Sekali lagi saya tidak berniat membela prilaku VA dan AS. Saya hanya ingin ikut diskusi bahwa ada sesuatu yang harusnya tidak harus begitu. Sesama pengikut Lambe turah - saya dan polisi sepertinya - harusnya tahu bahwa Lambe turah dibentuk melalui kosmik gosip, yang stigmanya lebih diafirmasikan ke sifat perempuan secara umum. Ini bukan tentang perdebatan bahwa setiap perempuan pasti doyan gosip, bukan! ini lebih kepada wacana umum saja. Saya -sebagai lelaki -umumnya- harus tetap menjaga kewibawaan didepan umum, bahwa saya tidak akan mudah comel terlebih terhadap aib perempuan.

VA dan AS adalah perempuan. Kita tahu itu. dan bapak polisi adalah laki-laki, kita juga tahu itu. Sudah jamak dalam pikiran publik bahwa laki-laki harus melindungi perempuan. Kalau perempuan -stigmanya- comel, maka lelaki harus tahan mendengarkan. Bukan malah ikut-ikutan comel. Ini membuat tatanan kosmis tidak imbang. Akhirnya yang ada hanyalah perempuan saja. Laki-lakinya tidak. Atau kalau mau disarkaskan, lelakinya ada tapi jiwanya perempuan. Fenomena VA dan AS tentu bisa kita carikan alasannya kenapa polisi bisa melakukan hal semacam itu.

Saya tidak bermaksud menghakimi polisi dalam kasus VA dan AS. Polisi sudah bagus bisa mengungkap jaringan prostitusi online. Kalau bisa terus ditingkatkan. Tapi jangan sampai ada kesan 'dungu' dalam bersikap terhadap perempuan. Bekerjalah sesuai delik dan konstitusi. Kecomelan polisi ini sepertinya imbas dari kecomelan republik kita dalam menyipaki setiap berita. Ini gawat jika memang benar-benar terjadi. Kalau pola pikir aparatur keamanan sudah diserang dengan fenomena kecomelan ini lalu dengan cara apa lagi kita menjaga akal sehat? apa harus lari ke ustadz? ulama? politisi? intelektual?. yang mana?

Faktanya hampir semua wakil rakyat kita comel. Ini dibuktikan dengan maraknya hatespeech dan hoax yang saben hari lalu lalang di time line  sosmed kita. Jika dan hanya jika sifat comel itu milik perempuan, artinya kita adalah bangsa yang tidak memiliki lelaki. Sifat maskulin diekspresikan tidak sungguh-sungguh sebagai maskulin. Tapi direduksi menjadi comel. Sifat perempuan pun yang feminim, indah dan mengasihi akhirnya kehilangan sosok maskulin yang menyanjungnya, karena si wakil rakyat sibuk menyanjung dirinya sendiri.

Jangan dikira ini tidak ada hubungannya, ini jelas ada kaitannya, meski terkesan cocologi. Perilaku korup tiap hari kita temukan. Hampir tiap bulan jadi rubrik utama koran negeri. VA dan AS sebenarnya salah satu fenomena mikro saja, yang itu saja bisa membuat kita dongkol tidak ketulungan. Sementara mega fenomena yang justru membahayakan diabaikan. Ada semacam prostitusi akal sehat diantara kita. Akal tidak lagi murni dengan pemikirannya, tapi sudah dibeli oleh media, modal dan iklan kampanye untuk memecahkan problem kemanusiaan yang jelas sudah tidak waras. Korban yang nampak adalah perempuan!