Karya termasyhur Leila S. Chudori, Laut Bercerita, hadir menghentakkan memori kita atas momen traumatik yang pernah menghinggapi bangsa Indonesia. Momen traumatik itu terbingkai dalam perjuangan aktivis yang hendak merobohkan rezim otoritarianisme Orde Baru yang represif dan despotik.

Sebuah rezim di mana kebebasan dipinggirkan dan penangkapan disemarakkan. Di bawah rezim ini pula, mereka berjuang penuh pengorbanan, sekaligus menjadi korban atas perlawanan.

Laut Bercerita, dengan latar waktu 1991-2007, mengisahkan perjuangan para aktivis itu, kondisi keluarga korban yang diselimuti ketidakpastian, penuh pengharapan, dan pelbagai upaya pencarian jejak korban.

Kisah perjuangan para aktivis berada pada bagian pertama novel dengan Biru Laut sebagai tokoh sentralnya. Sementara bagian kedua, penulis berkisah tentang kondisi keluarga korban dan pencarian jejak mereka dengan menempatkan Asmara Jati sebagai pemeran utamanya.

Perjuangan Biru Laut bersama aktivis lainnya: Sunu, Daniel, Kinan, Tama, Alex, Dana, sang penyair, Bram, Narendra, Gusti, Julius bermula dari rumah tua—mereka menyebutnya rumah hantu—di Seyegan, Yogyakarta. Sebagian besar mereka adalah mahasiswa yang tergabung dalam sebuah organisasi, Gerakan Mahasiswa Winatra.

Di rumah itu, mereka diskusi pelbagai pemikiran dan merancang strategi dalam menghadapi rezim. Mereka menyadari bahwa rasa-rasanya kaki ini gatal bila diskusi sepanjang masa tanpa melakukan tindakan apapun (hal. 12).

Dalam menghadapi rezim, setidaknya 3 kali para aktivis ini ditangkap dan diintrogasi aparat: saat diskusi Kwanju dan People Power di Manila, aksi untuk Blangguan, dan penangkapan Laut di rumah susun Klender. Pada penangkapan terakhir inilah jejaknya perlahan dipudarkan.

Laut dan teman-temannya mendekam di ruang bawah tanah yang kelam, nyaris membuat mereka tak mengenal peralihan waktu. Dari hari ke hari, mereka menjalani rutinitas siksaan perih tiada terperi. Diintrogasi. Diinjak. Ditendang. Dipukul. Disetrum. Digantung. Ditelentangkan di balok es.

Sederetan ragam siksa itu diberlakukan supaya mereka bersedia menjawab siapa yang berada di balik gerakan itu. Mereka tetap saja bungkam. Tanpa ada rasa takut. Sikapnya ini senafas dengan penggalan sajak Wiji Thukul, “…Jika kau menghamba pada ketakutan, kita memperpanjang barisan perbudakan.”

Usai disiksa, Laut terdiam dalam sunyi. Dan seketika sunyi itu luruh kala ingatannya mengantarkan Laut pada petuah Sang penyair. Jangan takut pada gelap. Gelap adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari.

Pada setiap gelap ada terang meski hanya secercah, meski hanya di ujung lorong. Tapi jangan sampai kita tenggelam dalam kekelaman. Kelam adalah kepahitan, keputus-asaan dan rasa sia-sia. Jangan pernah membiarkan kekelaman menguasai kita, apalagi menguasai Indonesia (hal. 225).

Indonesia memang berhasil menyisihkan kekelaman itu. Orde Baru tumbang. Namun, Laut tak bisa lagi merasakan Indonesia baru. Ia dan beberapa temannya dilumatkan rezim—nyaris tak menyisakan jejak ataupun bayang.

Sejak mereka hilang, keluarga berada dalam kegamangan. Sendu menyelimuti keluarga korban yang menanti ketidakpastian. Kondisi psikologis keluarga mereka kian menjauh dari ambang normal.

Hal ini tampak dari perilaku orang tua Laut yang membersihkan kamar dan koleksi bacaannya, serta selalu menyediakan piring kala makan bersama. Barangkali Laut muncul, dan melahap makanan kesukaannya. Inilah yang membuat Asmara Jati, adik Laut, khawatir atas perilaku yang tak lazim itu.

Para keluarga korban tak diam dan larut dalam duka. Mereka bersama teman-teman Laut berusaha keras mencari (jejak) mereka.

Pengumpulan data dari berbagai saksi dan melacak jejaknya di kepulauan seribu—yang diduga tempat mereka dilenyapkan. Dan hingga kini mereka terus berjuang menuntut keadilan. Salah satunya ialah dalam bentuk aksi kamisan di depan istana negara.

Di samping itu, keunggulan gubahan Leila ini mampu menyentuh emosi pembaca. Kegentingan yang dihadapi para aktivis dan kegetiran yang diderita para keluarga kerap kali memercik aliran empati dari lubuk hati pembaca.

Tak pelak rasa empati tersebut membuncah kala mencapai klimaks dalam pembacaannya. Sisi lain, penulis tampak begitu piawai menaburi kisah ini dengan aneka kuliner, buku-buku, musik, dan gejolak asmara yang tak terbendung secara apik dan puitik.

Dan yang tak kalah penting, Laut Bercerita setidaknya dapat menjembatani generasi milenial dengan masa lampau nan kelam. Mereka mesti mengetahui bahwa hampir 20 tahun tragedi itu hingga hari ini belum menemukan titik terang. Yang ada hanyalah debat musiman, terutama di bulan Mei.

Oleh karena itu, melalui karya ini generasi millennial dapat melatih kepekaan nurani, untuk menjunjung tinggi harkat martabat manusia. Bahwa bangsa ini diperjuangan dengan segenap tumpah darah. Dan kita berharap, mereka juga tergerak turut mengurai masalah yang tak kunjung usai.

Judul                 : Laut Bercerita
Penulis              : Leila S. Chudori
Tebal Buku        : x + 379 halaman
Penerbit            : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit      : Cetakan ke-2, Desember 2017
ISBN                 : 978-602-424-694-5

Note: Sebelumnya ulasan ini pernah dimuat di Koran Jakarta.