Liga Champions  Eropa telah memainkan partai di leg pertama babak 16 besar, 17 Februari lalu. Tim-tim tenar dari masing-masing liga telah saling berhadap-hadapan. Laga bergulir masih tanpa penonton akibat pandemi COVID-19, namun sejatinya tak mengurangi greget dari laga yang tersaji. Salah satunya perjumpaan sarat gengsi Barcelona dan Paris Saint-Germain (PSG) di markas kebesaran klub Kota Catalonia, Camp Nou. Ya, Barca kali ini bertindak sebagai tuan rumah di partai pembuka babak knockout tersebut.

Sedikit mengulas pertandingan. Di awal laga, Kapten Barcelona, Lionel Messi sempat membuka asa tim Biru-Merah lewat golnya dari titik putih. Sang entrenador Ronald Koeman dan  kru kepelatihannya pun terlihat cukup puas dengan gol pembuka itu. Sementara pertandingan masih menyisakan durasi waktu yang cukup panjang.

Namun di akhir laga para punggawa Blaugrana tertunduk lesu. Mereka harus menelan pil pahit, kalah telak di kandang sendiri 1-4, miris bukan? Sekadar me-repeat saja, gol La Pulga (julukan Messi) dibalas hattrick bintang PSG Kylian Mbappe, dan sebiji gol lainnya dari penyerang, Moise Bioty Kean.

Sontak, kekalahan Barcelona membuat hati ini masygul.  Mafhum saja, sebagai fans saya kecewa. Kecewa, karena takluk dari PSG menambah panjang catatan sejarah kekalahan telak Barcelona di kancah Liga Champions. Belum tuntas kekecewaan kala dipecundangi 8-2 Bayern Munchen di ajang serupa musim lalu. Lagi, harus menuai rasa yang sama dengan hasil akhir memalukan ini. Walaupun kalah tak seperti digasak Munchen, tapi kalah dengan agregat tiga gol, pastinya cukup menyesakkan dada.

Remontada! “Hmm….masih ada peluang di leg kedua” gumanku dengan bermaksud menggugah hati yang tengah gundah gulana. Sebagaimana remontada dalam olahraga dapat diartikan seperti membalikkan defisit atau dalam kasus sepakbola defisit jumlah gol. Seperti ini, Barcelona pernah melakukannya dengan dramatis saat berjumpa lawan yang sama. Dan sampai saat ini, comeback itu terus diingat sebagai La Remontada atau "The Comeback".

Kejadiannya itu ketika pertemuan Barcelona versus PSG di musim 2016/17. Di Liga Champions musim 2016/2017 itu, Los Cules berhasil membalikkan prediksi banyak orang dengan realitas di lapangan. Di leg pertama Blaugrana kalah 0-4 saat bertandang ke Stadion Parc des Princes. Akan tetapi di leg kedua, Barcelona keluar lapangan dengan dada membusung. Barca membalikkan keadaan lewat pertarungan dramatis. Menang 6-1!                                       

Barcelona menorehkan sejarah sekaligus menjadikan momen ini sangat terdengar syahdu ketika kembali diceritakan. Mengusung misi balas dendam, Barcelona sukses membuyarkan mimpi PSG dengan cara luar biasa. Cara yang sampai saat ini masih dianggap di luar logika itu.

Barcelona yang tampil trengginas, dan dominan unggul, akhirnya menuntaskan perlawanan PSG. Walaupun publik di Camp Nou kala itu sempat dibuat was-was dengan kehadiran sebiji gol Edinson Cavani. Jangan-jangan tim kesayangan mereka gagal lolos. Namun, Sergi Roberto yang merangsek masuk, berhasil menyambut umpan Neymar Jr, melalui sontekan manisnya dan berujung gol. Remontada….Barcelona lolos dari lubang jarum!

Gemuruh di Camp Nou, stadion yang berkapasitas 99.354 penonton ini. Di lapangan pemain dan official tim Barcelona larut dalam euforia kemenangan. Sementara pemain lawan hanya bisa tertegun dengan dibalut mimik kekecewaan. Kisah heroik lapangan hijau itu pun diharapkan bisa terulang ketika kedua tim ini bersua pada 11 Maret mendatang. Remontada Barca?

 ***

Sebagai fans, saya pastinya sangat berharap momen remontada berulang. Wajar! Karena sudah cukup lama mengidolai klub asal Spanyol yang satu ini. Meski tak se-fanatik kayak pendukung lainnya, namun ketika Messi cs kalah, pasti sesudah itu semuanya terasa kecut. Suatu kelaziman ketika mendukung tim kesayangan dengan berbalut rasa.

Tapi? Ada tapinya, di mana saya perlu bersikap realistis. Saya tidak selamanya wajib berkompromi dengan rasa. Saya harus realistis dengan asa remondata ini. Bersikap nyata, lantaran pada laga kedua nanti, Barcelona bertindak sebagai tim tamu. Beda kasus, kala comeback manis di 8 Maret 2017 itu. Klub pemilik SSB La Masia ini sebagai tuan rumah. Selain ada hal prinsip lainnya, lebih dari jam terbang para punggawa Barcelona saat ini. 

Kekalahan Barca atas PSG di leg pertama, salah satu faktor penentu, yakni pemain muda rerata masih minim menit bermain di kejuaraan sekelas Liga Champions. Dan masih untung di setiap pertandingan tak dihadiri penonton, bagaimana jika turut disaksikan ‘pemain kedua belas ini’?

Barca sekarang adalah tim yang hampir sebagian besar digawangi para pemain-pemain muda minim pengalaman. Ketika remontada di musim 2016/2017, masih ada nama-nama tenar, seperti Neymar Jr, dan Luis Suarez. Bersama Messi, hadir trisula tanpa ampun, MNS begitu julukannya. Selain, dukungan maestro lapangan tengah semacam Andres Iniesta yang telah malang melintang mengangkat trophy Liga Champions. Barcelona hadir sebagai tim yang disegani, sekalian tim dengan mental pemain yang sudah terasah di ajang paling bergengsi di benua biru, bahkan dunia itu.

Barcelona memang tengah membangun proyek regenerasi, dan 'sang menir' Ronald Koeman ditunjuk membawa misi peremajaan itu. Bukan tanpa alasan, karena para pemain semacam Messi, Pique, Busquets, Alba, dan lainnya telah mendekati masa purna bakti. Tapi seperti itu, di duel di Liga Champions saat ini, ketika terus menggantungkan asa Los Cules bisa melangkah lebih jauh dengan modal pemain minim pengalaman, maka sama ibarat bermimpi di siang bolong. Kendati, ada ungkapan bahwa penentuan hasil akhir pertandingan setelah 2x45 menit berakhir, atau "Bola itu bulat"

Namun seperti yang saya katakan tadi, bahwa harus realistis dengan pengalaman bertanding pemain. Layaknya suatu laga  di lapangan hijau, tak sekadar  berkaca dari histori atau sejarah pertandingan saja. Tapi juga harus menempatkan cermin realitas lain. Jam terbang atau pengalaman dalam bertanding perlu dikalkulasi, dan tidak bisa dianggap sebagai persoalan remeh-temeh. Karena tak mungkin juga hanya mengandalkan Messi, Pique, dan Busquets di duel 11 vs 11 itu.

Kalah dari PSG menjadi gambaran pemain muda Barcelona masih perlu menit bermain lebih banyak. Dan sebagai fans, menaruh asa cerita bak dongeng remontada terulang memang adalah suatu keniscayaan. Tapi saya juga harus sadar. Sadar untuk tidak terlalu jauh bermimpi, karena bangun nanti bisa saja sakit kepala. Jika sakit kepala, siapa nanti yang ribet? Toh, manajemen atau pemain Barcelona tak mungkin pula yang nantinya menanggung biaya obat. Kenal aja, nggak! Makanya, saya harus sesegera mungkin bangun dari mimpi indah ini.