Dinamika ragam latar belakang dan pemikiran para mahasiswa memang selalu menarik untuk dibahas. Keberagaman itu disatukan dalam satu panggung yang dinamakan Perguruan Tinggi. 

Pada saat kita mulai masuk dalam dunia perkuliahan, kita tidak akan asing kala mendengar tentang himpunan, atau organisasi kemahasiswaan. Ada mahasiswa yang sangat tahu akan seluk-beluk dan perkembangan himpunan atau organisasi di lingkungan kampus mereka, ada juga yang tidak tahu sama sekali. 

Ada mahasiswa yang hanya sekadar untuk mendengarnya saja sudah tidak tertarik, ada pula yang sangat antusias untuk selalu mendiskusikan hal-hal terkait organisasi kemahahasiswaan. Dan yang akan dibahas di sini adalah para mahasiswa yang mengikuti dan menjadi tubuh dalam kepengurusan himpunan atau organisasi kemahasiswaan.

Tidak ada yang tahu secara pasti apa alasan atau motivasi seseorang dalam keikutsertaannya mengikuti kepengurusan suatu himpunan atau organisasi. Tentu saja alasan mahasiswa dalam mengikuti himpunan atau organisasi juga sangat beragam.

Tapi dari berbagai macam alasan yang diungkapkan, satu alasan yang paling sering dijumpai adalah ‘Relasi’. Mahasiswa yang ikut dalam himpunan atau organisasi kemahasiswaan sering berbicara akan manfaat dari relasi intra dan inter-himpunan.

Pada satu benang merah, manfaat dari relasi yang sering mereka maksud adalah pada saat dunia kerja. Mereka menjelaskan bahwa kelak ketika mereka lulus dari bangku perkuliahan, atas dasar mereka merasa mempunyai relasi yang luas, pada saat mereka membutuhkan pekerjaan, jabatan, atau kepentingan lain, mereka bisa ‘tertolong’ akan relasi teman dan hubungan dalam intra-himpunan dan inter-himpunan mereka yang luas.

Padahal, dengan kita menanamkan pemikiran seperti itu, bukankah secara tidak langsung kita meng-iyakan dan menyetujui sistem nepotisme?

Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme atau yang sering disebut dengan istilah KKN adalah hal yang bangsa ini sedang lawan dan perangi. Ironinya, mahasiswa yang katanya merupakan agent of change, kenapa malah tidak sedikit yang menanamkan mental nepotisme dalam diri mereka di balik kedok mengikuti himpunan atau organisasi kemahasiswaan dengan dasar alasan agar relasi mereka luas sehingga berguna kelak ketika mereka mempunyai suatu kepentingan? Jadi mahasiswa sebagai agent of change atau agent of nepotism?

Tidak ada salahnya memiliki relasi yang luas. Yang kurang tepat adalah memiliki pemikiran untuk bergantung dalam relasi yang dimiliki karena itu termasuk bentuk kita melestarikan budaya nepotisme yang memang sudah mengakar dalam kehidupan sosial di masyarakat.

Parahnya, penanaman mental nepotisme sudah kita rasakan dari kecil hingga kita beranjak dewasa. Hal ini dapat kita jumpai di mana-mana. Dan yang lebih menyedihkan lagi, pelaku ‘penanamnya’ adalah orangtua.

Banyak dijumpai orangtua yang menanamkan mental nepotisme ke anak-anak mereka sendiri dengan nasihat kepada anak mereka saat memasuki bangku perkuliahan untuk mengikuti himpunan atau organisasi agar mendapat kemudahan dalam dunia kerja maupun bermasyarakat ketika dirasa perlu untuk mengandalkan relasi yang didapat ketika mengikuti himpunan atau organisasi kemahasiswaan dalam mendapatkan kepentingan yang diinginkan. 

Kenyataan ini sungguh menyedihkan bahwa orangtua bukannya memacu anaknya agar mengedepankan kualitas dan daya saing dalam menghadapi masa depan mereka, tetapi malah menanamkan mental nepotisme kepada anak-anak mereka, calon pemegang estafet generasi bangsa.

Tentu hal ini akan mengakibatkan terbunuhnya benih-benih pemikiran kreatif dan mandiri dari para penerus generasi bangsa dalam menghadapi tantangan di masa depan seperti dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat, jika kita secara tidak langsung terus melestarikan budaya nepotisme dengan membiarkan pandangan untuk memanfaatkan relasi ini terus berkelanjutan dari generasi ke generasi.

Padahal yang harus dikedepankan dan dipersaingkan adalah etos kerja dan kualitas diri kita dalam menghadapi persaingan dunia kerja yang kian kompetitif, bukan malah berpikir untuk mengandalkan relasi yang kita punya.

Akan lebih bijak jika mengatakan bahwa manfaat yang didapat dalam mengikuti himpunan maupun organisasi adalah dari segi pengalaman yang didapat dalam berorganisasi, kemampuan untuk memimpin, kemampuan untuk mengkoordinasi orang banyak, dan banyak manfaat lain yang dapat kita temukan dalam berorganisasi daripada terus melestarikan konsepsi pemikiran neo-nepotisme dengan mengandalkan relasi.

Yang harus diperbaiki kembali adalah niat kita dalam mengikuti organisasi atau himpunan, memperbaiki niat bahwa dalam masa kita berproses saat mengikuti organisasi atau himpunan adalah untuk memperkaya pengalaman dan meningkatkan kualitas diri kita.

Jika kita menilik ke belakang, himpunan dan organisasi kemahasiswaan ini sangat berkontribusi banyak untuk masyarakat dan bangsa Indonesia. Banyak buah-buah gagasan, pemikiran, dan aksi para aktivis organisasi atau himpunan pendahulu kita yang dapat kita rasakan manfaatnya hingga sekarang. 

Alangkah baiknya jika kita tidak menodai nilai-nilai luhur dan perjuangan para pendahulu kita dalam mengikuti himpunan dan organisasi kemahasiswaan dengan menghapuskan sedikit demi sedikit pelestarian budaya nepotisme, mulai dari memperbaiki niat kita.