Bukan hal mudah melakukan pendakian gunung solois (single). Selain berbekal teknik standar dan prosedur tekstual, diperlukan juga menggandeng Tuhan. Itu pun tak cukup jikalau tekadnya memble. 

Pekat malam dan keadaan ekstrem dapat membuat kita murtad seketika. Misal, berharap sangat akan kedatangan pendaki lain untuk dijadikan partner jalan, atau mencari-cari pendaki lain yang sedang pasang tenda tuk sekadar menutupi alasan ketakutan. Lupa sudah bahwa pendamping itu adalah Tuhan.

Keadaan takut yang sangat amat menyeramkan pernah juga saya alami dalam pendakian solois. Berakhir dengan opsi kedua, berlabuh di tenda pendaki lain dengan alasan masuk angin. Ketakutan yang dipicu oleh phasmophobia; ketakutan yang sangat nyata dan dapat menyebabkan kecemasan kronis atau bahkan teror.  

Ketika saya mengeksklusifkan diri dengan menyatakan bahwa Tuhan adalah sumber kekuatan Yang Mahaakbar, yang disembahi, maka secara secara sadar saya telah menjadi seorang fundamentalis. 

Di sisi lain, keadaan yang mengancam jiwa dan ketenteraman batin akan memaksa seseorang untuk membuka diri dengan sesuatu yang lebih arif atas kemampuan diri. Seperti saya tadi, sangat arif dan bijaksana berlabuh di tenda orang. Saat itulah saya otomatis menjadi seorang pluralis.    

Lain lagi dengan Reinhold Messner, seorang pendaki yang Nietzschan Ubermensch, alpinis, solois, dan penulis 80 buku petualangan yang mampu dan sukses memanajemen hal fundamental dan kecemasan. Buku-bukunya banyak berhias quote milik Nietzsche.

Reinhold Messner adalah pendaki gunung kawakan dunia berkewarganegaraan Italia. Dia sudah mengantongi rekor pendakian 14 puncak dunia dengan rata-rata berketinggian 8.000 meter di atas permukaan laut.

Reinhold Messner memanfaatkan gagasan-gagasan Nietzsche tentang manusia sebagai Ubermensch atau manusia super (superman) dalam setiap misi gilanya.

Bahan bakar manusia super yang berupa will to power (kehendak untuk berkuasa/berhasil survive) mampu mendorongnya hingga di luar titik batas kesanggupan manusia. Misal, pendakian Everest tanpa menggunakan bantuan tabung oksigen.

Manusia normal dipastikan akan mengalami hipoksia atau mati lemas karena tipisnya oksigen di atas ketinggian 6.000 meter di atas permukaan laut. Reinhold mampu berpuasa oksigen yang manusia normal membutuhkannya sekitar 375 liter per hari. Dalam kondisi lelah karena mendaki berjam-jam, kebutuhan akan oksigen otomatis bisa meningkat 5 - 10 kali lipat. 

Reinhold mampu menghargai ketakutan dengan cara memandangnya sebagai kebenaran. Tanpa membunuh Tuhan, Reinhord yang seorang Nietzschan lihai memperalat perspektivisme. Reinhold berusaha keras memprovokasi kekuatan tubuhnya dengan memanfaatkan pengalaman kecelakan dan kepedihan yang pernah dialaminya.

Reinhold berhasil menyatakan superman-nya sebagai pejalan ekstrem yang mampu mengarungi Antartika, Greenland, hingga Gurun Gobi. Dia juga berhasil membebaskan diri dari beberapa alat-alat bantu yang semestinya dipakai dan dibutuhkan manusia untuk mendukung hidup (light equipment and a minimum of external help).

Pemilihan halauan (mazhab) pendakian alpinis yang minimalis bukan tanpa alasan. Perspektif kebebasan yang telah diajarkan oleh Nietzsche membuat Reinhold peka terhadap kerusakan alam yang diakibatkan oleh gaya pendakian bermazhab Himalayan, sebuah mazhab yang dipenuhi dengan sampah-sampah ketergantungan diri terhadap alat bantu.

Ada kemiripan pemantik perspektif kebebasan antara Nietzsche dengan Reinhold. Nietzsche dipicu oleh trauma masa kecil yang berupa stimulus represif berupa: kemuakan, figurasi ketat, hasrat terpasung, dan sikap normatif yang berlebih. 

Reinhold juga dipicu oleh perspektif stimulus sebuah aturan ketat dari bapaknya yang seorang guru. Ditambah lagi dengan kecelakaan dan penderitaan yang mahaperih di sebuah ekspedisinya.  

Kecelakaan terjadi saat awal usia 20-an pada tahun 1970. Reinhold dan Gunther, adik kandungnya, yang keduanya merupakan pendaki terbaik di Eropa saat itu. Mereka melakukan ekspedisi Himalaya dengan target Puncak Nanga Parbat yang berketinggian 8.000 meter.

Hasil netto (bersih) pendakian adalah: adiknya tewas, 6 jari kaki Reinhold putus diamputasi karena terserang frostbite, dan trauma berkepanjangan akibat survival 4 hari tanpa logistik di suhu minus 40 derajat. Peristiwa ekspedisi berbahaya ini dapat Anda lihat dalam film yang rilis tahun 2010 yang berjudul Nanga Parbat.

Ambisi Reinhold, baik untuk hidup ataupun mati, akan membimbingnya pada kehendak berkuasa (superman atau berhasil survive). Reinhold akan menggiring dirinya untuk tabah di atas penderitaan. Naluri survival akan membimbing Reinhold pada subtilitas (keagungan) yang berupa eksistensi hidupnya.  

Sebagaimana Nietzsche sendiri melewati penderitaan teramat panjang saat digerogoti penyakit kronisnya, penyangkalan dan pengasingan diri memberikannya kemampuan untuk mengendalikan kemanusiaannya agar tetap terjaga. Survive!

Pengetahuan Reinhold yang didapat saat petualangannya memberikan banyak pemahaman pembebasan rasa ketakutan. Misal, otot akan terasa sakit dan memar. Khususnya jaringan ligamen setelah dihajar oleh pendakian keras.

Reinhold mengatasi rasa sakit tersebut dengan pengetahuan pembebasan jaringan ikat otot. Maksudnya, Reinhold akan tetap ceria tanpa ketakutan karena ototnya bengkak atau memar. Sebab setelah bengkak dan memar, otot menjadi lebih kuat. 

Simpulan yang didapat, untuk memperkuat jaringan otot ligamen memang harus disobek (dirusak) dulu untuk mendapatkan jaringan ligamen baru yang lebih kuat. Pun begitu, Reinhold mampu memanajemen adrenalin dan endorfinnya dalam takaran yang pas. 

Nihilisme yang dibangun Reinhold dari Nietzsche bukanlah sesuatu yang meniadakan secara fatalis. Namun sebaliknya, filosofinya hadir untuk menaklukan ketakutan dengan mencintai utuh kehidupan dan memosisikan manusia sebagai manusia super (ubermensch) dengan kehendak untuk berkuasa atau berhasil survive (will to power). 

Sedangkan will to power muncul setelah kerusakan hebat pasca-pendakian hebat. Will to life (keinginan untuk hidup) itu eksis karena adanya will to power (kehendak untuk berkuasa/berhasil survive).

Semua prestasi hidup Reinhold diabadikan di museum pribadinya, Messner Mountain Museum, yang diarsiteki oleh seorang Irak. Museum ini terletak di ketinggian sebuah pegunungan Italia yang telah diresmikan pada tanggal 24 Juli 2015 lalu.