Dunia literasi dan perbukuan kita kini dihebohkan oleh tragedi razia buku yang dilakukan oleh aparat yang katanya penegak hukum di negara paling akbar ini. Selama beberapa pekan terakhir, razia buku ini terjadi di dua tempat yang berbeda. Pertama terjadi di toko buku di Kediri, Jawa Timur. Dan yang kedua terjadi di toko buku di Padang.

Buku-buku yang dirazia ini dianggap membahayakan NKRI karena mengandung ajaran berhaluan kiri, seperti komunisme, marxisme dan leninisme. Seperti buku berjudul Jasmerah, Mengincar Bung Besar, Kronik 65, dll.

Razia buku semacam ini mengingatkan kita pada sejarah kelam bangsa ini, yaitu masa orde baru yang dipimpin seorang otoriter, Soeharto. Di mana pada masa itu, buku-buku kiri dilarang terbit dan diberangus habis-habisan tanpa ampun untuk kepentingan kekuasaannya (status quo). Tak seorang pun boleh membaca dan membincangkannya, apalagi menerbitkan dan menyebarkannya ke khalayak.

Otomatis, kran intelektualisme tersumbat (untuk tidak dikatakan mati), kritisme tumpul dan sejarah menjadi kabur. Nyaris tidak ada seorang pun yang berani mengkritisi, apalagi menghujat pemerintah pada masa itu. Semuanya berada dalam ketiak dan cengkraman otoritarianisme pemerintah. Tidak mengherankan, apabila Soeharto mampu berkuasa dan membodohi kita selama kurang lebih tiga puluh tahun.

Orde baru, bagi saya adalah masa yang tidak layak diingat kembali, kecuali hanya sebagai pelajaran untuk tidak kembali terjerumus ke dalam kejumudan dan kedunguan yang sengaja diciptakan pemerintah demi mempertahankan ‘status quo’ dan kemegahan singgasana kekuasaannya.

Orde baru yang mengharamkan beredarnya buku-buku kiri, baik untuk dibaca, dikaji dan didiskusikana adalah tidak berlebihan jika saya sebut sebagai zaman kegelapan (dark age) bangsa ini. Akibat pelarangan buku-buku (kiri), ilmu pengetahuan dan peradaban bangsa ini mengalami kejumudan atau stagnansi, sebagaimana yang pernah terjadi di Eropa pada abad pertengahan, meski tidak separah itu.

Bagi saya, dan tentu bagi kawan-kawan yang lain, yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap buku dan dunia literasi, apa pun alasannya, merazia buku (kiri) merupakan tindakan sewenang-wenang yang tidak dapat ditolerir. Karena hal semacam ini tidak hanya saja merampas kebebasan, tetapi juga sebuah usaha membunuh intelektualisme, menghambat laju peradaban, dan tentu menumbuhkan kedunguan di tengah-tengah publik kita yang pada hakikatnya masih dungu.

Tidak berlebihan kiranya, jika razia buku saya sebut sebagai parade kedunguan. Terminologi ‘dungu’ acapkali digunakan Rocky Gerung untuk menunujukkan kekeliruan tata cara berpikir atau berpikir non-sistematis. Jika publik kita terus hidup bersama kedunguannya, maka bukan tidak mungkin, bangsa ini akan sampai pada satu kondisi yang menghawatirkan dan laju ilmu pengetahuan menjadi jumud. Kedunguan ini, lambat laun akan mengantarkan kita pada jurang kegelapan peradaban (minan nuri ila addzulumat).

Kejumudan ilmu pengetahuan akan menjadi awal kehancuran peradaban suatu bangsa, sebagaiaman yang pernah terjadi di Eropa pada abad pertengahan. Dan jika hal ini terjadi, maka yang paling bertanggung jawab adalah aparat yang gemar melakukan aksi razia buku. Karena dengan merazia buku, berarti aparat kita melarang rakyat ini menjadi pintar dan beradab.

Diakui atau pun tidak, buku merupakan tonggak peradaban bangsa ini. Semakin banyak masyarakat yang membaca, tanpa harus membedakan antara buku kiri atau pun buku kanan, semakin kokoh lah peradaban bangsanya. Ibarat obat, buku adalah obat yang mampu menyembuhkan segala bentuk penyakit kedunguan yang disebabkan keengganan kita membaca buku.

Saya tidak habis pikir atas aksi aparat kita yang dengan pongahnya merazia buku. Padahal tingkat membaca bangsa ini sangat rendah, sebagaimana terdapat pada daftar World’s Most Literate Nations yang dibuat oleh Central Connecticut State University, Indonesia menempati urutan ke-60 dari 61 negara mengenai literasi. Indonesia berada di bawah sesama negara Asia Tenggara, Thailand, dan hanya satu peringkat di atas Bosnia.

Namun, rendahnya tingkat membaca ini seolah tidak menjadi persolan di negeri ini. Ormas hingga lembaga negara pun terus merazia dan memberangus buku-buku yang dianggap berbahaya karena mengandung ajaran yang berbau komunisme, padahal mereka sendiri belum pernah  membacanya. Ini merupakan salah satu bentuk kedunguan (aparat) kita yang harus kita lawan.

Merazia buku sama saja menghancurkan bangsa ini secara perlahan. Secara tidak langsung, usaha memberangus buku (kiri) merupakan usaha menebar kedunguan pada generasi bangsa ini. Akibatnya, generasi kita akan terjebak pada klaim kebenaran (truth klaim), yang cenderung menganggap dirinya yang paling benar dan yang lain salah. Apapun yang tidak sepaham dan tidak sejalan dengannya harus salah dan harus dimusnahkan. Sungguh klaim yang benar-benar sontoloyo.

Kesewenang-wenangan dan kedungan ini tidak boleh kita biarkan tumbuh subur menggerogoti bangsa ini. Karena jika hal ini terjadi, maka tunggulah saat-saat kehancuran bangsa ini. Indonesia hanya akan tinggal nama, atau akan benar-benar punah dari peta peradaban dunia.

Mari kita kutuk dan lawan razia buku ini dengan cara membaca sebanyak mungkin buku-buku kiri yang dianggap menyesatkan padahal mencerahkan itu, atau minimal kita merasa marah (meski hanya di dalam hati), meski kita tahu, bahwa itu selemah-lemahnya iman. Dan yang terakhir, saya ingin mengatakan, barang siapa yang (minimal) tidak merasa marah sedikit pun, dia adalah musuh peradaban.