“Hai! Gadis miskin sepertimu itu tidak pantas menginjakkan kaki di sekolah ini, punya apa ibumu agar kau bisa bersekolah?” Tawa murid-murid sekolah menengah kejuruan itu meledak mendengar lontaran cacian yang keluar dari murid berambut ikal itu. Gadis kaya anak kepala sekolah sekaligus juragan peternakan di kampung kami itu, tak henti-hentinya melontarkan segala macam bentuk penghinaan kepada si gadis miskin yang tak mengindahkannya sama sekali.

Ya, nama gadis yang tengah di caci adalah Sekar. Gadis berumur 17 tahun itu kini tengah duduk di kelas XII dan tidak akan lama lagi akan mengikuti ujian akhir. Ibunya seorang pemulung yang bekerja mulai dari matahari terbit dan baru akan pulang jika matahari sudah kembali ke peraduannya. Wajahnya yang mulai menua dan berkeriput, kulitnya yang berwarna gelap serta tubuhnya yang kurus menandakan betapa keras hidup yang telah di lewatinya di usianya yang baru menginjak kepala empat.

Assalamu’alaikum.”

Wa’alaikumsalam.” Sekar langsung berlari ke pintu rumah yang mereka huni begitu mendengar suara lirih perempuan kala senja itu. “Ibu sudah pulang? Bagaimana hari ini ibu? Ibu duduk dulu, Sekar sudah membuatkan makan malam dan teh hangat untuk ibu. Ibu sudah shalat?”.

Ratih tersenyum mendengar berondongan pertanyaan anak semata wayang nya itu, tampak betapa beban hidup yang menghimpitnya sejenak terlepas begitu melihat bagaimana putrinya itu memperlakukannya. Pikiran perempuan itu melayang ke masa silam ketika suaminya masih hidup. Betapa bahagianya keluarga kecil yang mereka miliki walaupun hanya hidup sederhana, bagi mereka hal itu patut untuk disyukuri. Setidaknya gaji suaminya sebagai pembantu di peternakan juragan kampung mereka itu bisa menutupi pengeluaran keluarga kecilnya.

Ya.. itu dulu, pikir Ratih. Sebelum wabah mengenaskan itu menimpa keluarga kecilnya. Wabah yang dibawa oleh seseorang yang bernama Juminten itu. Tidak diketahui wanita itu datang dari mana. Tiba-tiba saja dia meraung-raung pagi itu di pintu rumah mereka, suara tangisnya yang keras mengundang siapapun mendekat.

“Mas, keluar kau mas. Kau harus bertanggung-jawab terhadap perbuatan bejat yang telah kau timpakan padaku.” pekiknya. Syaifuddin langsung keluar mendengar keributan di pintu rumahnya di ikuti istri serta anaknya. Ia kaget melihat seorang wanita mudah tengah bersimpuh di depan pintu rumahnya dan meraung-raung. Warga kampung juga sudah berkerumun ingin tahu apa yang tengah terjadi.

“Ada apa ini?” Tanya Syaifuddin.

“Tak usah kau bertanya lagi mas. Tak ada yang harus kau sembunyikan lagi dari mereka. Biarkan..biarkan orang-orang tau bahwa anak yang tengah ku kandung ini adalah anakmu mas.” Perempuan itu meratap-ratap. Bagai mendapat petir di siang bolong, Syaifuddin terpana mendengar pengakuan perempuan yang tengah berjongkok di depan rumahnya. Tersadar dari lamunan ia melihat air muka istrinya yang tampak tenang, namun menyimpan kegelisahan mendalam. Sandiwara apa ini Tuhan?

Sementara para warga berkumpul untuk menyaksikan. Awalnya mereka hanya berbisik-bisik mendengung, sekarang mulai berteriak-teriak marah. “Hei, Pak RT! Ternyata ini yang kau lakukan selama ini, berusaha sok suci di depan kami. Nyatanya semua busuk”. Mereka saling bersahut- sahutan satu sama lain. Keributan tidak dapat dihindarkan, penjelasan Syaifuddin tidak dapat di indahkan oleh warga yang sudah terlanjur emosi. Mereka mulai menghakimi, menghajar Syaifuddin di depan istri dan anaknya yang masih kecil yang tak memiliki daya sama sekali untuk melawan keganasan warga.

Ratih pingsan melihat suaminya yang babak belur. Selain itu ia juga ikut mendapatkan tinju yang nyasar di pipinya. Dunia terasa gelap, sayup-sayup dia masih sempat mendengar cacian warga, tangisan anaknya dan suara suaminya yang terus memanggil-manggil namanya. Begitu tersadar ia mendapati dirinya tak lagi di rumah, ia terbaring di sebuah bilik bambu berdipan bambu juga. Ia mencari-cari anaknya. Terdengar langkah kaki mendekat dan sebuah suara serak seorang perempuan.

“Kamu sudah sadar, Nduk?”. Ia hafal sekali suara itu, suara Nyai Retno. Perempuan renta yang tinggal jauh di dalam hutan, juga seorang korban pengasingan atas fitnah yang menimpa keluarganya. Bedanya, Nyai Retno yang keturunan bangsawan, menikah dengan pemuda biasa dari kaum buruh. Menyebabkan malu bagi keluarganya. Di usir dari tanah kelahirannya diasingkan ke hutan di kampung ini.

Nduk, untuk menjadi orang yang bahagia. Tak mesti harus punya harta yang banyak, toh si Mbah sendiri juga tidak bahagia meski mempunyai harta yang berlimpah dan gelar kehormatan yang melekat. Kamu tau Nduk, kapan si Mbah merasa menjadi orang yang paling bahagia dan tidak menyesal diciptakan oleh Yang Maha Kuasa? Saat Engkong melamar Mbah, dan berani meminta izin untuk menikahi Mbah kepada Romo. Engkong bahkan tidak peduli saat para pengawal menghajarnya habis-habisan. Engkong nekat menikahi Mbah sehingga kami terusir dari tanah kelahiran.” Cerita Nyai Retno suatu waktu saat ia berkunjung dengan Sekar ke pondoknya.

“ Apa yang kamu pikirkan, Nduk? “ lamunan Ratih buyar mendengar suara Nyai Retno. Saat itulah, kesadaran Retno pulih . Ia segera teringat akan anak dan suaminya. Mendadak Retno menjadi histeris.

“Mana Sekar, Mbah? Suami saya mana Mbah? Kenapa saya bisa ada di rumah ini?”. Air muka Nyai Retno mengisyaratkan sesuatu yang buruk telah terjadi. Tanpa menunggu jawaban Ratih segera berlari keluar. Ia mendapati Sekar tengah bermain-main di bawah batang Jambu milik Nyai Retno. Melihat anaknya baik-baik saja, hatinya langsung lega. Ratih mencari-cari, barangkali saja Mas Syaifuddin suaminya ada di sekitar situ, Tapi apa yang  diharapkan tak ia dapati. Nyai Retno sudah mengusap punggungnya. Ratih berpaling, tampak di tangan Nyai Retno sepucuk surat. Ratih menerima surat yang di sodorkan kepadanya.

Surat itu bertanggalkan 23 Maret 1998. Surat dari kepolisian, yang menyatakan ikut berduka cita atas kepergian suaminya dan turut menyesal atas ketidakadilan yang diterimanya dari warga yang menyebabkan Syaifuddin harus kehilangan nyawanya. Di dalamnya, juga tertera bahwa wanita yang mengaku telah dilecehkan oleh suaminya itu dipaksa oleh orang yang sebenarnya melakukannya, Tuan Iskandar. Ratih begitu terkejut membaca nama itu.

Iskandar adalah adik dari pemilik peternakan tempat suaminya bekerja. Ia seorang laki-laki pemabuk , punya istri banyak, dan suka bikin kegaduhan. Semenjak awal kedatangan Ratih dan suaminya ke kampung ini, Iskandar sudah jatuh cinta dan terus berupaya untuk mendapatkan hati Ratih. Ratih tak bergeming sedikitpun, meski semua cara telah di tempuh Iskandar. Ia sama sekali tak menyangka kalau Iskandar akan setega itu memfitnah suaminya. Tumpuan hidupnya. Iskandar di hukum 30 tahun atas kejahatan yang telah diperbuatnya.

Ratih tidak sanggup lagi membaca kelanjutan surat yang tengah dipegangnya. Ia tak kuasa menahan tangis. “Mbah, ini semua mimpikan?”

“Tidak, Nduk, kamu harus tabah menghadapi ketentuan Illahi. Jangan sedikit pun kamu bersedih. Kamu harus yakin, bahwa suamimu berbahagia di surga sana. Kamu lihat ke sana, Nduk.” Tunjuk Nyai Retno pada anak Ratih  yang tengah bermain. “Kamu punya Sekar, dia akan tumbuh menjadi anak pintar, cantik dan tegar. Saya yakin, tak sedikitpun ia akan mengecewakan ibunya”.

Perempuan itu memandangi putri semata wayangnya. Dalam hati, ia mengucapkan sumpah kepada mendiang suaminya akan melakukan segala cara agar anaknya bisa melanjutkan pendidikan sebaik-baiknya, seperti yang pernah diimpikan suaminya semasa hidup.

Tak terasa waktu telah bergulir selama 18 tahun semenjak kejadian naas yang menimpa keluarganya. Kini Sekar telah tumbuh menjadi perempuan mandiri dan ulet. Sekar kini adalah seorang direktur dari sebuah bank kenamaan di kotanya. Di puncak kariernya yang gemilang. Ibunya, Ratih. Masih tetap setia dengan dunianya. Masih memulung untuk mengisi hari-hari tuanya. Pekerjaan yang telah mendarah daging, tak bisa di hentikannya walaupun Sekar berkali-kali memohon kepada ibunya. Ya, dia tak akan pernah berhenti memulung sampai maut memisahkan roh dan jasadnya.