Terlepas dari benar atau tidaknya pemberitaan terkait ketua DPR RI Setya Novanto, ramainya berita terkait SN lama-lama membuat saya berpikir juga. Beberapa waktu lalu, SN dikabarkan menderita sejumlah penyakit setelah status tersangka korupsi e-KTP disematkan padanya. Namun, ia mendadak sembuh setelah status itu dicabut.

Sempat ramai juga di jagat media sosial tentang kasus pembuatan meme SN. Lucunya, kasus meme ini malah lebih gencar diusut ketimbang kasus SN sendiri. Seakan-akan, kasus meme ini amat membahayakan negara, jauh lebih membahayakan ketimbang wakil rakyat yang makan uang rakyat.

10 November lalu, status tersangka kembali ditetapkan kepada wakil rakyat nomor wahid di Indonesia ini. Sejak itu, banyak diberitakan tentang SN yang tak kunjung menghadap ke kantor antirasuah itu, hingga muncul berita drama penjemputan SN di rumahnya selama 5 jam.

Sayangnya, drama ini tidak happy ending di mata masyarakat: SN tidak ditemukan. Belum dingin berita ini dari trending topic, beberapa malam lalu muncul lagi berita mobil yang ditumpangi SN mengalami kecelakaan saat akan menuju ke KPK.

Dalam ilmu psikologi, ada pembahasan mengenai mekanisme pertahanan diri (MPD/ self defense mechanism). Mekanisme pertahanan diri banyak macamnya. Disebut ‘pertahanan’ karena memang sering digunakan seseorang untuk mempertahankan diri dari situasi kurang menyenangkan, baik mikro maupun makro.

Pada kasus SN, salah satu mekanisme pertahanan diri yang digunakan adalah rasionalisasi, yakni usaha untuk mencari alasan yang dapat diterima diri maupun orang lain. Dalam beberapa hal, rasionalisasi dilakukan dengan memutarbalikkan fakta yang terjadi. Dalam bahasa awam, rasionalisasi biasa disebut dengan ‘mencari alasan’.

Mekanisme pertahanan diri lain yang digunakan SN ialah proyeksi. Proyeksi dapat diartikan sebagai upaya perlindungan diri dari kemungkinan seseorang mengalami tuduhan dan disalahkan.

Proyeksi sering kali melimpahkan rasa cemas dengan mengarahkan dorongan yang tak diinginkan ke objek eksternal, bisa orang lain atau objek lain. Dalam hal ini, ramainya SN mengusut orang-orang yang membuat meme tentang dirinya, saya pandang sebagai bentuk proyeksi SN.

Benar atau tidaknya SN melakukan korupsi, dan beberapa kali mangkirnya ia dari panggilan KPK, kira-kira apakah SN tidak merasa bersalah? Rasa bersalah disebut Smith (2011) sebagai perilaku yang tidak dapat diterima secara moral normatif yang dilakukan oleh pelanggar yang nantinya akan menderita akibat dari kesalahan yang dibuatnya.

Rasa bersalah adalah pelanggaran terhadap standar internal yang menghasilkan penurunan harga diri. Jadi, ketika seseorang merasakan penurunan harga diri, hal ini dapat disebabkan karena orang tersebut memiliki perasaan bersalah. Bisa jadi, SN enggan merasa bersalah karena memikirkan kemungkinan turunnya harga diri tersebut.

Rasa bersalah berbeda dengan kecemasan. Bila rasa bersalah dilakukan secara sadar, maka kecemasan bersifat sebaliknya. Kecemasan muncul berupa ketakutan atau rasa gelisah akan sesuatu yang tidak diketahui atau tidak jelas penyebabnya di masa mendatang.

Hati Nurani, Rasa Bersalah, dan Superego

Pembahasan mengenai tiga hal tersebut tak lepas dari pembahasan mengenai tiga struktur pembentuk kepribadian manusia: id, ego, superego. Id diartikan sebagai keinginan dalam diri manusia; ego diartikan sebagai naluri alamiah untuk memuaskan ego; dan superego adalah faktor ‘moral’ yang mengontrol ego dalam memutuskan kehendak untuk memenuhi id.

Perasaan bersalah, hati nurani, dan superego tidak dapat dibicarakan dalam konteks yang setara. Hati nurani dan perasaan bersalah dimaknai dalam konteks etis, sementara superego dimaknai dalam konteks psikoanalisis. Pada tahap superego, baik sumber rasa bersalah maupun rasa bersalah itu sendiri, semuanya bisa masuk dalam ranah tidak sadar (unconsciousness).

Namun, superego juga memiliki dua subsistem: suara hati (conscience) dan ego ideal. Secara umum, menurut tokoh psikoanalis legendaris, Sigmund Freud, suara hati lahir dari pengalaman-pengalaman mendapatkan hukuman atas perilaku yang tidak pantas. Pengalaman yang mengajarkan manusia tentang hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan. 

Tentang hubungan antara hati nurani dan superego, alangkah lebih baik bila superego dipahami sebagai fondasi psikologis untuk melihat fenomena etis dari ‘hati nurani’. Karena superego bersifat lebih luas ketimbang hati nurani.

Dari berbagai pemberitaan tentang kecelakaan yang dialami SN, juga analisis-analisis tentang kecelakaan yang dalam beberapa ulasan dipandang memiliki berbagai kejanggalan, kita bisa mengambil kesimpulan. Apakah kira-kira SN sedang melakukan rasionalisasi sebagai upaya perlindungan diri? Atau sampai kapan ia akan terus-terusan melakukan denial alias penolakan melalui proyeksi pada objek-objek di sekitarnya?

Dalam hal ini, semoga saja superego SN yang banyak muncul untuk menggiring mengiyakan rasa bersalah dalam dirinya atas tuduhan kejahatan memakan uang rakyat, sehingga menuntunnya untuk menanggapi panggilan lembaga antirasuah tersebut. Semoga.