Tahun 1980an, seorang lelaki berambut panjang pernah berdiri di depan sebuah SD yang terletak di pusat kota Jakarta. Beberapa murid SD tersebut mengatakan bahwa pria itu adalah orang gila, padahal bukan. Ia hanya sekadar seniman yang enggan menggunting rambutnya.

Laki-laki berambut panjang memang punya label negatif. Hal ini tak bisa lepas dari kisah tentang betapa bencinya Soekarno terhadap The Beatles. Menurut Soekarno, gaya kebarat-baratan adalah bagian dari hegemoni budaya yang dilakukan oleh kaum imperialis kapitalis. Cowok-cowok gondrong disebut sebagai kontrarevolusioner.

Mungkin Soekarno lupa Ali Sastroamidjojo pernah mengatakan bahwa pria gondrong adalah kekuatan revolusi di Yogyakarta pada awal tahun 1946. Puncak kekesalan Soekarno terhadap laki-laki berambut gondrong menemukan momennya ketika ia berpidato pada 1964.

Dalam pidato resminya, Soekarno menyuruh aparat untuk menggiring anak muda berambut panjang ke tukang cukur. Pada praktiknya, mereka tidak dibawa ke tukang cukur. Aparat sendirilah yang menggunting rambut anak-anak muda tersebut di jalanan alias di depan umum.

Pada zaman Orde Baru, rambut panjang dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintahan Soeharto. Gubernur Sumatra Utara saat itu, Marah Halim, bahkan membentuk ‘Badan Koordinator Pemberantasan Rambut Gondrong’ yang bertugas menangkap laki-laki berambut gondrong.

Pada 1973, Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban Jenderal Soemitro mengatakan bahwa rambut gondrong membuat anak-anak muda jadi acuh tak acuh. Ia secara tertulis melarang laki-laki untuk berambut panjang. Soeharto juga mengirimkan radiogram agar anggota ABRI serta karyawan sipil yang bekerja di lingkungan militer dan keluarganya untuk tidak berambut gondrong.

Orde Baru membuat stigma negatif yang melekat di kaum gondrong bertambah parah. Mereka tidak bisa membuat KTP, SIM, dan Surat Keterangan Bebas G 30 S. Artis-artis gondrong juga tak diizinkan muncul di TV dan penonton tak diizinkan masuk bioskop karena mereka berambut gondrong walau sudah memiliki tiket.

Badan Pemberantasan Rambut Gondrong didirikan dan beroperasi di berbagai perguruan tinggi negeri. Mahasiswa-mahasiswa di Bandung sempat marah dan mengadakan razia tandingan, yaitu razia orang gendut. Ini adalah bentuk protes mereka terhadap korupsi yang saat itu mulai merajalela.

Walau aparat agresif mencukur rambut gondrong, tak cukup bagi seorang Soeharto untuk mempertahankan status quo hanya dengan menggunakan gunting rambut. Soeharto lantas memanfaatkan media massa sebagai usaha untuk membentuk opini publik bahwa gondrong itu buruk.

Pada 5 Oktober 1973, harian Pos Kota mengeluarkan berita dengan judul ‘Tujuh Pemuda Gondrong Merampok Bus Kota’.  Sebelumnya, harian Angkatan Bersenjata pada 29 September 1973 menulis ‘Lima Pemuda Gondrong Memeras Pakai Surat Ancaman’. Tak heran jika Soeharto memanfaatkan media. Kata memang terbukti punya nyawa.

Padahal, di zaman Yunani kuno, rambut panjang dianggap sebagai lambang kekuasaan dan kekayaan. Dewa-dewa ada yang gondrong, Zeus dan Poseidon contohnya. Sedemikian senangnya dengan rambut gondrong, para lelaki saat perang tetap memilih untuk gondrong walau paham gaya macam ini membuat mereka repot.

Bagaimanapun, akhirnya mereka terpaksa menggunting rambut. Pelindung kepal yang mereka kenakan juga memang tak memungkinkan mereka untuk berambut panjang. Mereka juga sering mengendap-endap di parit dan ini membuat kepala mereka mudah dihinggapi kutu.

Nah, keharusan berambut pendek di kalangan militer akhirnya membuat rambut gondrong identik dengan perlawanan. Di banyak budaya, lelaki berambut pendek dianggap sebagai sosok-sosok yang tunduk pada pemerintah dan rela dikontrol.

Mereka berambut pendek karena wajib atau terpaksa, misalnya hendak masuk penjara atau akan bergabung di ketentaraan. Perlawanan pun dilancarkan dengan memanjangkan rambut karena rambut pendek identik dengan kepatuhan.

Oleh karena itulah lembaga resmi semacam pemerintah atau gereja bersikap resisten terhadap rambut gondrong. Ahli sejarah Robert Bartlett berkisah bahwa pada 1094, Uskup Anselmus dari Canterbury tidak mau memberkati jemaat pria yang berambut gondrong, kecuali mereka rela menggunting rambutnya.

Bagaimanapun, pendeta gereja Ortodoks dan kaum asketis Kristen memiliki rambut panjang. Ini adalah cara mereka untuk mendisiplinkan diri agar tidak egois: rutin memotong rambut identik dengan terlalu sering mengurus diri sendiri. Selain itu, rambut pendek mereka anggap sebagai model yang duniawi atau sekuler.

Waktu bergulir dan rambut tetap dijadikan alat untuk melawan. Veteran perang Vietnam, McCleary, mengatakan bahwa ada banyak prajurit yang seusai perang Vietnam memanjangkan rambut. Bagi mereka, perang adalah sebuah kesalahan. Sebagai bentuk protes, mereka memanjangkan rambut karena saat perang mereka harus berambut pendek.

Jadi, rambut bukanlah urusan penampilan semata-mata. Bagi sebagian kalangan, rambut tak bisa dipisahkan keberadaannya dari keberpihakan politik. Rambut juga tercatat sebagai bagian integral dari budaya serta spiritualisme.

Dalam satu kalimat ringkas: rambut adalah salah satu tempat bagi jati diri untuk bersemayam.